alexametrics
20.5 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Sekolah Kembali Daring, Penjual Buku Siap-Siap Gigit Jari

KOTA MALANG – Pembelajaran daring yang kembali diberlakukan di sekolah dan kampus tak hanya berdampak bagi para siswa dan orang tua. Para penjual buku juga kembali gigit jari karena omzetnya terancam turun lagi.

Saat diberlakukan pembelajaran luring, omzet penjualan buku relatif membaik. Saat sekolah telah kembali normal, kebutuhan siswa akan buku pelajaran dan bacaan juga meningkat. “Ini juga karena keadaan kemarin yang relatif kondusif. Jadi, orang sudah mulai melakukan kativitas dan  mobilitas dengan normal. Makanya tingkat kunjungan juga meningkat,” terang bagian purchasing toko buku Toga Mas Ratih Ermarianty.

Dia menjelaskan, sebelum diberlakukan PTM 100 persen, rata-rata omzetnya berada di angka Rp 30 jutaan. Saat dimulai sekolah tatap ada peningkatan omzet menjadi Rp 40 juta. Kini saat diberlakukan pembelajaran daring 100 persen, Ratih khawatir akan berpengaruh pada penurunan omzet toko buku tempatnya bekerja itu. “Udah mulai terasa sih mulai sepi lagi akhir-akhir ini,” ujarnya.

Sementara itu, hal yang sama juga dialami penjual buku di Pasar Buku Wilis Suwardi. Pria 66 tahun itu mengatakan, selama ini pembeli buku yang dijual di lapaknya kebanyakan kalangan mahasiswa. Karena itu, saat sejumlah kampus kembali menggelar kuliah tatap muka, dia berharap omzetnya meningkat.

Namun saat sejumlah kampus kembali melakukan pembelajaran daring karena kasus Covid di Kota Malang meningkat, harapan bukunya laku kembali buyar. ”Kemarin waktu ada mahasiswa masuk kuliah ya mulai ada aja yang beli. Setelah ini entah lagi,” ungkapnya. (dre/nay)

 

KOTA MALANG – Pembelajaran daring yang kembali diberlakukan di sekolah dan kampus tak hanya berdampak bagi para siswa dan orang tua. Para penjual buku juga kembali gigit jari karena omzetnya terancam turun lagi.

Saat diberlakukan pembelajaran luring, omzet penjualan buku relatif membaik. Saat sekolah telah kembali normal, kebutuhan siswa akan buku pelajaran dan bacaan juga meningkat. “Ini juga karena keadaan kemarin yang relatif kondusif. Jadi, orang sudah mulai melakukan kativitas dan  mobilitas dengan normal. Makanya tingkat kunjungan juga meningkat,” terang bagian purchasing toko buku Toga Mas Ratih Ermarianty.

Dia menjelaskan, sebelum diberlakukan PTM 100 persen, rata-rata omzetnya berada di angka Rp 30 jutaan. Saat dimulai sekolah tatap ada peningkatan omzet menjadi Rp 40 juta. Kini saat diberlakukan pembelajaran daring 100 persen, Ratih khawatir akan berpengaruh pada penurunan omzet toko buku tempatnya bekerja itu. “Udah mulai terasa sih mulai sepi lagi akhir-akhir ini,” ujarnya.

Sementara itu, hal yang sama juga dialami penjual buku di Pasar Buku Wilis Suwardi. Pria 66 tahun itu mengatakan, selama ini pembeli buku yang dijual di lapaknya kebanyakan kalangan mahasiswa. Karena itu, saat sejumlah kampus kembali menggelar kuliah tatap muka, dia berharap omzetnya meningkat.

Namun saat sejumlah kampus kembali melakukan pembelajaran daring karena kasus Covid di Kota Malang meningkat, harapan bukunya laku kembali buyar. ”Kemarin waktu ada mahasiswa masuk kuliah ya mulai ada aja yang beli. Setelah ini entah lagi,” ungkapnya. (dre/nay)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/