alexametrics
25.4 C
Malang
Friday, 20 May 2022

Universitas Brawijaya Bukan Milik Arema Saja, tapi juga Dunia

MALANG- Dalam kunjungannya ke Malang, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan kebudayaan (PMK) RI Muhadjir Effendi juga menghadiri acara sosialisasi Peraturan Majelis Wali Amanat (MWA) Nomor 2 Tahun 2022 di Universitas Brawijaya.

Dalam kesempatan itu Muhadjir menyarankan kepada bakal calon rektor UB jika ingin membuat program internasional harus sesuai dengan kebudayaan Indonesia. Untuk mewujudkannya, perguruan tinggi negeri seperti UB dapat menyediakan beasiswa kepada mahasiswa asing. “Beasiswa ini dapat diwujudkan melalui dana abadi, sehingga nanti ada co-founding dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk memberikan beasiswa kepada mahasiswa asing,” ujarnya.

Ditemui selepas sosialisasi, Muhadjir kemudian merincikan terkait dana abadi dan sistem co-founding. Menurutnya, cofounding merupakan terobosan bagus dari Kemendikbudristek yang bertujuan menyediakan anggaran khusus kepada PTN yang memiliki program-program tertentu yang relevan dengan visi dan misi Kampus Merdeka. “Jadi, tidak semua program Kemendikbudristek didanai sendiri oleh PTN. Nanti akan dibantu oleh Kemendikbudristek. Kepada UB saya sarankan agar ada dana abadi untuk mahasiswa asing yang belajar di Indonesia,” terang Muhadjir kepada para awak media.

Penyediaan beasiswa bagi mahasiswa asing, kata Muhadjir, bertujuan untuk membawa UB menjadi kampus milik dunia, bukan hanya milik Arek Malang atau Indonesia saja. Namun, saat ditanya pengelolaannya ia menjawab masih akan dibicarakan kembali. Menanggapi seputar dana abadi yang dilontarkan Menko PMK, Ketua Umum Ikatan Alumni UB, Profesor Ahmad Erani Yustika menambahkan, hal semacam ini perlu komitmen multipihak. “Ikatan alumni sebagai poros di luar internal perguruan tinggi harus turut menjadi poros bagi pengembangan ke depan. Ada sumber daya alumni. Alumni yang bekerja di institusi, dan alumni yang memiliki perusahaan sendiri. Hal itu jejaring besar yang harus dikembangkan,” jelasnya.

Erani menambahkan, sejak era kepemimpinan Rektor Prof Dr Ir Muhammad Bisri, UB telah memiliki Yayasan UB. Di yayasan tersebut sudah ada penempatan dana yang jumlahnya lumayan besar, meski sebagian besar belum berasal dari alumni. “Namun, sebagian sudah dimanfaatkan untuk beasiswa,” sebutnya. Selain itu, potensi kerja sama bersama dengan pihak eksternal, seperti perusahaan milik negara, korporasi besar, hingga lembaga internasional yang memiliki CSR yang fokus pada pendidikan juga masih besar. Hal seperti itu yang nantinya berencana digenjot oleh UB. “Minimal dana abadi UB ke depan dapat 1 triliun. Memang tidak dalam waktu singkat,” tutupnya.(fin/abm)

MALANG- Dalam kunjungannya ke Malang, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan kebudayaan (PMK) RI Muhadjir Effendi juga menghadiri acara sosialisasi Peraturan Majelis Wali Amanat (MWA) Nomor 2 Tahun 2022 di Universitas Brawijaya.

Dalam kesempatan itu Muhadjir menyarankan kepada bakal calon rektor UB jika ingin membuat program internasional harus sesuai dengan kebudayaan Indonesia. Untuk mewujudkannya, perguruan tinggi negeri seperti UB dapat menyediakan beasiswa kepada mahasiswa asing. “Beasiswa ini dapat diwujudkan melalui dana abadi, sehingga nanti ada co-founding dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk memberikan beasiswa kepada mahasiswa asing,” ujarnya.

Ditemui selepas sosialisasi, Muhadjir kemudian merincikan terkait dana abadi dan sistem co-founding. Menurutnya, cofounding merupakan terobosan bagus dari Kemendikbudristek yang bertujuan menyediakan anggaran khusus kepada PTN yang memiliki program-program tertentu yang relevan dengan visi dan misi Kampus Merdeka. “Jadi, tidak semua program Kemendikbudristek didanai sendiri oleh PTN. Nanti akan dibantu oleh Kemendikbudristek. Kepada UB saya sarankan agar ada dana abadi untuk mahasiswa asing yang belajar di Indonesia,” terang Muhadjir kepada para awak media.

Penyediaan beasiswa bagi mahasiswa asing, kata Muhadjir, bertujuan untuk membawa UB menjadi kampus milik dunia, bukan hanya milik Arek Malang atau Indonesia saja. Namun, saat ditanya pengelolaannya ia menjawab masih akan dibicarakan kembali. Menanggapi seputar dana abadi yang dilontarkan Menko PMK, Ketua Umum Ikatan Alumni UB, Profesor Ahmad Erani Yustika menambahkan, hal semacam ini perlu komitmen multipihak. “Ikatan alumni sebagai poros di luar internal perguruan tinggi harus turut menjadi poros bagi pengembangan ke depan. Ada sumber daya alumni. Alumni yang bekerja di institusi, dan alumni yang memiliki perusahaan sendiri. Hal itu jejaring besar yang harus dikembangkan,” jelasnya.

Erani menambahkan, sejak era kepemimpinan Rektor Prof Dr Ir Muhammad Bisri, UB telah memiliki Yayasan UB. Di yayasan tersebut sudah ada penempatan dana yang jumlahnya lumayan besar, meski sebagian besar belum berasal dari alumni. “Namun, sebagian sudah dimanfaatkan untuk beasiswa,” sebutnya. Selain itu, potensi kerja sama bersama dengan pihak eksternal, seperti perusahaan milik negara, korporasi besar, hingga lembaga internasional yang memiliki CSR yang fokus pada pendidikan juga masih besar. Hal seperti itu yang nantinya berencana digenjot oleh UB. “Minimal dana abadi UB ke depan dapat 1 triliun. Memang tidak dalam waktu singkat,” tutupnya.(fin/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/