alexametrics
32 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

15 Persen Wali Murid Masih Waswas Sekolah Tatap Muka

MALANG KOTA – Sejumlah poin evaluasi langsung didapat Pemkot Malang dari hari pertama pemberlakuan sekolah tatap muka kemarin (19/4). Yang utama tentu soal kedisiplinan sejumlah pihak dalam mematuhi protokol kesehatan (prokes).

Poin evaluasi pertama didapat Wali Kota Malang Sutiaji saat meninjau SDN Kauman 1. Di sana dia masih menemukan seorang guru yang belum memakai masker dengan benar. Saat mengajar, masker yang dikenakan guru tersebut melorot dan tidak segera dibetulkan posisinya.

Dia berharap seluruh pihak bisa patuh dan disiplin pada hal-hal sederhana seperti itu. ”Sebab, sejak awal kami berharap pembelajaran tatap muka ini bisa berlangsung seterusnya. Maka, disiplin terhadap prokes harus menjadi kebiasaan,” kata Sutiaji.

Kepala SDN Kauman 1 Dra Umi Kulsum MPd memastikan bila pihaknya bakal terus melakukan evaluasi dari tahapan sekolah tatap muka. Kepada awak media, dia juga memastikan bila pihaknya sudah memastikan diri patuh dengan ketentuan yang dirumuskan pemerintah. Terutama untuk ketentuan jumlah siswa per kelas. ”Setiap kelas kami batasi jumlah siswanya hanya 50 persen. Sesuai instruksi dari pemerintah,” terang dia.

Secara umum, Umi menyebut bila pihaknya juga telah mendapat restu dari para orang tua siswa. Meski begitu, dia tak menampik anggapan bila masih ada beberapa orang tua yang belum mengizinkan anaknya untuk sekolah tatap muka. Mereka yang bersikap seperti itu umumnya masih was was dengan potensi penyebaran Covid-19. Umi pun tak mempermasalahkan hal itu karena pembelajaran masih bisa dilakukan secara daring. ”Kami juga sudah berkoordinasi dengan para orang tua siswa,” kata dia.

Hal senada juga disampaikan Kepala SMPN 6 Kota Malang Risna Widyawati SPd. Diestimasi olehnya, saat ini baru 85 persen orang tua siswa yang sudah setuju dengan penerapan sekolah tatap muka. ”Sisanya (15 persen) masih ada yang ragu dan ada yang belum mengizinkan. Untuk persoalan ini, kami nantinya akan komunikasikan lebih lanjut dengan mereka (orang tua siswa),” kata dia.

Dari hari pertama pemberlakuan sekolah tatap muka kemarin, dia mengaku sudah membubuhkan sejumlah poin evaluasi. Salah satunya yakni pentingnya pengawasan guru ketika jam istirahat. ”Itu penting diperhatikan agar siswa tidak berkerumun dan tetap dalam pantauan guru,” jelasnya. (adn/ulf/c1/by)

MALANG KOTA – Sejumlah poin evaluasi langsung didapat Pemkot Malang dari hari pertama pemberlakuan sekolah tatap muka kemarin (19/4). Yang utama tentu soal kedisiplinan sejumlah pihak dalam mematuhi protokol kesehatan (prokes).

Poin evaluasi pertama didapat Wali Kota Malang Sutiaji saat meninjau SDN Kauman 1. Di sana dia masih menemukan seorang guru yang belum memakai masker dengan benar. Saat mengajar, masker yang dikenakan guru tersebut melorot dan tidak segera dibetulkan posisinya.

Dia berharap seluruh pihak bisa patuh dan disiplin pada hal-hal sederhana seperti itu. ”Sebab, sejak awal kami berharap pembelajaran tatap muka ini bisa berlangsung seterusnya. Maka, disiplin terhadap prokes harus menjadi kebiasaan,” kata Sutiaji.

Kepala SDN Kauman 1 Dra Umi Kulsum MPd memastikan bila pihaknya bakal terus melakukan evaluasi dari tahapan sekolah tatap muka. Kepada awak media, dia juga memastikan bila pihaknya sudah memastikan diri patuh dengan ketentuan yang dirumuskan pemerintah. Terutama untuk ketentuan jumlah siswa per kelas. ”Setiap kelas kami batasi jumlah siswanya hanya 50 persen. Sesuai instruksi dari pemerintah,” terang dia.

Secara umum, Umi menyebut bila pihaknya juga telah mendapat restu dari para orang tua siswa. Meski begitu, dia tak menampik anggapan bila masih ada beberapa orang tua yang belum mengizinkan anaknya untuk sekolah tatap muka. Mereka yang bersikap seperti itu umumnya masih was was dengan potensi penyebaran Covid-19. Umi pun tak mempermasalahkan hal itu karena pembelajaran masih bisa dilakukan secara daring. ”Kami juga sudah berkoordinasi dengan para orang tua siswa,” kata dia.

Hal senada juga disampaikan Kepala SMPN 6 Kota Malang Risna Widyawati SPd. Diestimasi olehnya, saat ini baru 85 persen orang tua siswa yang sudah setuju dengan penerapan sekolah tatap muka. ”Sisanya (15 persen) masih ada yang ragu dan ada yang belum mengizinkan. Untuk persoalan ini, kami nantinya akan komunikasikan lebih lanjut dengan mereka (orang tua siswa),” kata dia.

Dari hari pertama pemberlakuan sekolah tatap muka kemarin, dia mengaku sudah membubuhkan sejumlah poin evaluasi. Salah satunya yakni pentingnya pengawasan guru ketika jam istirahat. ”Itu penting diperhatikan agar siswa tidak berkerumun dan tetap dalam pantauan guru,” jelasnya. (adn/ulf/c1/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru