alexametrics
23 C
Malang
Wednesday, 6 July 2022

SMP Swasta Kekurangan 3.372 Murid

MALANG KOTA – Dengan berakhirnya PPDB (Pendaftaran Peserta Didik Baru), SMP swasta di Kota Malang berebut perhatian calon peserta didik. Sebanyak 78 dari 82 sekolah swasta diburu waktu untuk mengisi kekurangan pagu siswa, jelang dimulainya ajaran baru tahun akademik 2022-2023.

Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang menunjukkan, hanya empat sekolah swasta yang telah merampungkan proses penerimaan siswa baru tahun ini. Mereka adalah SMP Tarbiyatul Huda Kedungkandang, SMP Islam SabilillahLowokwaru, SMP PJ Global School, dan SMP Charis.Sementara ada enam satuan pendidikan yang kekurangan pagu siswanya tidak lebih dari dua digit, atau di bawah 10 orang.

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Malang Dodik Teguh Pribadi mengatakan, sudah waktunya wali murid untuk berpikir melanjutkan pendidikan buah hati mereka di SMP swasta.Pasalnya, pelaksanaan PPDB dari berbagai jalur sudah selesai dilaksanakan.Selain itu, ada 78 sekolah swasta yang nasibnya tergantung dari penerimaan peserta didik baru. “Dengan lulusan 15 ribu tahun ini, 30 SMP negeri hanya mampu menampung sekitar 7 ribu an. Kalau semua masuk negeri, pasti tidak bisa. Saya harap siswa yang tidak lolos bisa memanfaatkan SMP swasta,” terangnya.

Dodik menjelaskan, Disdikbud terus ditekan oleh pihak DPRD Kota Malang untuk menambah SMP negeri baru lagi.Hal ini agar sekolah negeri bisa menampung masyarakat sebanyak-banyaknya.Padahal, terakhir ada tambahan 3 SMP baru yang diresmikan tahun ini.

Jika sekolah negeri terus ditambah, nasib satuan pendidikan swasta bakal lebih memprihatinkan. “Semuanya pasti ingin masuk negeri, terus nasib sekolah swasta bagaimana. Padahal negeri maupun swasta sama-sama mencerdaskan anak bangsa,” tegas dia.

Pria yang juga ditunjuk sebagai Koordinator PPDB itu menambahkan, sebenarnya bersekolah di negeri maupun swasta itu sama saja. Mulai dari kompetensi gurunya maupun kurikulum yang diajarkan.Yang membedakan adalah biaya sekolah swasta yang lebih besar.Apalagi jika memilih sekolah yang memang SPP-nya mahal.  ”SPP mahal itu untuk membayar fasilitas. Kalau guru dan kurikulum sama saja. Kalau anak pintar mau sekolah di mana saja tetap pintar,” imbuhnya.

Bagi wali murid yang memang membutuhkan bantuan pemotongan biaya untuk melanjutkan pendidikan di SMP swasta, Dodik mengaku siap membantu berbicara dengan pihak sekolah.Pembicaraan itu untuk mendapatkan keringanan pembayaran SPP.  “Sudah banyak contoh n yang dapat keringanan. Ada yang bayar 75 persen, 50 persen, bahkan gratis, jika memang layak mendapatkan bantuan itu,” tutupnya. (adk/fat)

MALANG KOTA – Dengan berakhirnya PPDB (Pendaftaran Peserta Didik Baru), SMP swasta di Kota Malang berebut perhatian calon peserta didik. Sebanyak 78 dari 82 sekolah swasta diburu waktu untuk mengisi kekurangan pagu siswa, jelang dimulainya ajaran baru tahun akademik 2022-2023.

Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang menunjukkan, hanya empat sekolah swasta yang telah merampungkan proses penerimaan siswa baru tahun ini. Mereka adalah SMP Tarbiyatul Huda Kedungkandang, SMP Islam SabilillahLowokwaru, SMP PJ Global School, dan SMP Charis.Sementara ada enam satuan pendidikan yang kekurangan pagu siswanya tidak lebih dari dua digit, atau di bawah 10 orang.

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Malang Dodik Teguh Pribadi mengatakan, sudah waktunya wali murid untuk berpikir melanjutkan pendidikan buah hati mereka di SMP swasta.Pasalnya, pelaksanaan PPDB dari berbagai jalur sudah selesai dilaksanakan.Selain itu, ada 78 sekolah swasta yang nasibnya tergantung dari penerimaan peserta didik baru. “Dengan lulusan 15 ribu tahun ini, 30 SMP negeri hanya mampu menampung sekitar 7 ribu an. Kalau semua masuk negeri, pasti tidak bisa. Saya harap siswa yang tidak lolos bisa memanfaatkan SMP swasta,” terangnya.

Dodik menjelaskan, Disdikbud terus ditekan oleh pihak DPRD Kota Malang untuk menambah SMP negeri baru lagi.Hal ini agar sekolah negeri bisa menampung masyarakat sebanyak-banyaknya.Padahal, terakhir ada tambahan 3 SMP baru yang diresmikan tahun ini.

Jika sekolah negeri terus ditambah, nasib satuan pendidikan swasta bakal lebih memprihatinkan. “Semuanya pasti ingin masuk negeri, terus nasib sekolah swasta bagaimana. Padahal negeri maupun swasta sama-sama mencerdaskan anak bangsa,” tegas dia.

Pria yang juga ditunjuk sebagai Koordinator PPDB itu menambahkan, sebenarnya bersekolah di negeri maupun swasta itu sama saja. Mulai dari kompetensi gurunya maupun kurikulum yang diajarkan.Yang membedakan adalah biaya sekolah swasta yang lebih besar.Apalagi jika memilih sekolah yang memang SPP-nya mahal.  ”SPP mahal itu untuk membayar fasilitas. Kalau guru dan kurikulum sama saja. Kalau anak pintar mau sekolah di mana saja tetap pintar,” imbuhnya.

Bagi wali murid yang memang membutuhkan bantuan pemotongan biaya untuk melanjutkan pendidikan di SMP swasta, Dodik mengaku siap membantu berbicara dengan pihak sekolah.Pembicaraan itu untuk mendapatkan keringanan pembayaran SPP.  “Sudah banyak contoh n yang dapat keringanan. Ada yang bayar 75 persen, 50 persen, bahkan gratis, jika memang layak mendapatkan bantuan itu,” tutupnya. (adk/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/