alexametrics
25.1 C
Malang
Sunday, 25 July 2021

Profesor Elfi Anis Saati, Bikin Penguat Imun dari Mawar

Siapa sangka, bunga Mawar yang menjadi simbol perasaan kawula muda itu mampu memperkuat penyembuhan pasien Covid-19. Itulah salah satu hasil penelitian Prof Dr Ir Elfi Anis Saati MP. Di tangan guru besar (Gubes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu, Mawar bisa memperkuat imun dan vitalitas tubuh. Tak heran, penemuannya dipesan hingga Kuala Lumpur, Malaysia.

Senyum perempuan berusia 55 tahun itu terus mengembang, saat menyapa Jawa Pos Radar Malang melalui sambungan video call, Kamis lalu (15/7). Dia adalah Prof Dr Ir Elfi Anis Saati MP. Guru Besar (Gubes) Teknologi Hasil Pertanian (THP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu menemukan olahan yang sangat bermanfaat untuk masyarakat seluruh Indonesia, bahkan dunia.

Siapa sangka, bunga mawar yang selama ini hanya dijadikan anak muda yang mengungkapkan cinta kepada kekasihnya, ternyata menyimpan khasiat besar. Di tangan profesor Elfi, mawar diolah menjadi ramuan penguat imun. Sekaligus kecantikan.

Inovasi itu muncul berawal dari keprihatinan Elfi. Pada 2000 silam, Elfi prihatin melihat banyaknya makanan yang mengandung pewarna pakaian. Tentu bukan langsung membidik bunga mawar. ”Tahun 2005 saya mendapat dana hibah dari Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) untuk penelitian dosen muda,” cerita Elfi.

Dalam penelitian itu, Elfi menggunakan banyak tanaman. Mulai dari pacar air, kana, telang, turu, dan umbi-umbian. Selama enam tahun, dia melakukan uji coba terhadap tanaman tersebut, namun hasilnya belum memuaskan.

Kemudian dia menjajal bunga mawar. Dari situlah Elfi mampu menghasilkan produk pewarna alami dengan mengembangkan produk olahan berbasis pigmen. ”Minuman sehat ber-antioksidan dari sari bunga mawar merupakan salah satu produk yang saat ini bertahan,” katanya.

Pada 2017 silam, perempuan berusia 55 tahun itu memberi nama produknya Elviza. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2019 lalu, produknya itu didaftarkan untuk mendapat hak paten dari pemerintah pusat. Juga diurus sertifikasi halal di Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Produk yang dia buat tersebut awalnya hanya diminati oleh sejumlah orang di kampusnya. Namun, saat ini produknya dikenal hingga Kuala Lumpur, Malaysia berkat testimoni teman-temannya. ”Banyak pembeli ya dari mulut ke mulut. Alhamdulillah bisa tembus sampai sana (Malaysia),” ungkapnya dengan bahagia.

Elfi menjelaskan, testimoni dari para pembeli tak merasakan serik. Apalagi, pada masa pandemi Covid-19 ini minuman tersebut juga dapat menjadi tambahan imun. Dalam memproduksi, Elfi dibantu oleh sejumlah mahasiswa dan keluarganya. Untuk pengiriman jarak jauh, dia pernah mendapat order hingga Jakarta dengan 700-900 dus. Dalam satu dus, terdapat isi kemasan cup dengan jumlah 24 buah.

Dari hasil usahanya itu, dia juga memiliki mitra petani mawar di daerah Lawang, Bangil (Pasuruan), dan Nganjuk. Mitra petani tersebut dia berdayakan untuk menghasilkan produk bunga mawar terbaik. Tiga daerah tersebut menurutnya memiliki kualitas mawar yang cukup baik. ”Mereka mampu memproduksi secara masal dan siapa tahu daerah lain jika ada yang menjadi mitra ya akan lebih bagus,” ceritanya.

Prestasi dari mengolah mawar juga pernah Elfi raih. Profesor berhijab itu meraih penghargaan sebagai peneliti dan penyaji terbaik dari Ditjen Dikti Kemendikbud-Ristek sebanyak 4 kali. Yakni pada 2008, 2011, 2017, dan 2019. Serta menjadi penerima Award Penghargaan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (Patpi) pada 2019 lalu. Penelitian mawar itu juga yang mengantarkan dia menjadi professor pada 2020 lalu.

Pada penelitian terbarunya ketika menuju profesor yakni menjelaskan khasiat dari olahan produknya mengandung antioksidan tinggi. Sekitar 85-90 persen. Itu disumbang dari komponen kandungan pigmen antosianin, Vitamin C, minyak atsiri, dan zink.

Sejumlah kandungan itu mampu mencegah paparan radikal bebas, meningkatkan imun, vitalitas tubuh, mencegah flu, terutama situasi pandemi Covid-19 saat ini, dan memperbaiki kulit. ”Bahkan ada dosen PTS (Perguruan Tinggi Swasta) yang sakit lupus, bisa terobati karena mengonsumsi minuman yang saya buat ini,” imbuh Elfi.

Pada masa pandemi ini, Elfi juga senang mendengar testimoni dari pembeli yang sembuh dari flu. Beberapa kliennya kerap membeli dalam jumlah banyak untuk membuktikan khasiat produknya.

Kini, permintaan berkurang karena terganggu pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat.

Meski produknya sudah tembus mancanegara, jiwa peneliti Elfi masih tinggi. Belakangan ini, mantan pengurus Persatuan Ahli Mikrobiologi Indonesia (Permi) ini ingin berinovasi dengan menambah bahan rempah. Elfi ingin mengurangi gula dan memperbanyak olahan mawar. Hal itu dia lakukan lantaran melihat para pembeli juga mayoritas memiliki riwayat penyakit diabetes.

”Ke depan juga akan menambah tambahan apel dan mengkudu untuk konsumen yang ingin kulitnya glowing,” kata Alumnus SMA Negeri Bangil itu (and/dan/rmc).

Siapa sangka, bunga Mawar yang menjadi simbol perasaan kawula muda itu mampu memperkuat penyembuhan pasien Covid-19. Itulah salah satu hasil penelitian Prof Dr Ir Elfi Anis Saati MP. Di tangan guru besar (Gubes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu, Mawar bisa memperkuat imun dan vitalitas tubuh. Tak heran, penemuannya dipesan hingga Kuala Lumpur, Malaysia.

Senyum perempuan berusia 55 tahun itu terus mengembang, saat menyapa Jawa Pos Radar Malang melalui sambungan video call, Kamis lalu (15/7). Dia adalah Prof Dr Ir Elfi Anis Saati MP. Guru Besar (Gubes) Teknologi Hasil Pertanian (THP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu menemukan olahan yang sangat bermanfaat untuk masyarakat seluruh Indonesia, bahkan dunia.

Siapa sangka, bunga mawar yang selama ini hanya dijadikan anak muda yang mengungkapkan cinta kepada kekasihnya, ternyata menyimpan khasiat besar. Di tangan profesor Elfi, mawar diolah menjadi ramuan penguat imun. Sekaligus kecantikan.

Inovasi itu muncul berawal dari keprihatinan Elfi. Pada 2000 silam, Elfi prihatin melihat banyaknya makanan yang mengandung pewarna pakaian. Tentu bukan langsung membidik bunga mawar. ”Tahun 2005 saya mendapat dana hibah dari Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) untuk penelitian dosen muda,” cerita Elfi.

Dalam penelitian itu, Elfi menggunakan banyak tanaman. Mulai dari pacar air, kana, telang, turu, dan umbi-umbian. Selama enam tahun, dia melakukan uji coba terhadap tanaman tersebut, namun hasilnya belum memuaskan.

Kemudian dia menjajal bunga mawar. Dari situlah Elfi mampu menghasilkan produk pewarna alami dengan mengembangkan produk olahan berbasis pigmen. ”Minuman sehat ber-antioksidan dari sari bunga mawar merupakan salah satu produk yang saat ini bertahan,” katanya.

Pada 2017 silam, perempuan berusia 55 tahun itu memberi nama produknya Elviza. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2019 lalu, produknya itu didaftarkan untuk mendapat hak paten dari pemerintah pusat. Juga diurus sertifikasi halal di Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Produk yang dia buat tersebut awalnya hanya diminati oleh sejumlah orang di kampusnya. Namun, saat ini produknya dikenal hingga Kuala Lumpur, Malaysia berkat testimoni teman-temannya. ”Banyak pembeli ya dari mulut ke mulut. Alhamdulillah bisa tembus sampai sana (Malaysia),” ungkapnya dengan bahagia.

Elfi menjelaskan, testimoni dari para pembeli tak merasakan serik. Apalagi, pada masa pandemi Covid-19 ini minuman tersebut juga dapat menjadi tambahan imun. Dalam memproduksi, Elfi dibantu oleh sejumlah mahasiswa dan keluarganya. Untuk pengiriman jarak jauh, dia pernah mendapat order hingga Jakarta dengan 700-900 dus. Dalam satu dus, terdapat isi kemasan cup dengan jumlah 24 buah.

Dari hasil usahanya itu, dia juga memiliki mitra petani mawar di daerah Lawang, Bangil (Pasuruan), dan Nganjuk. Mitra petani tersebut dia berdayakan untuk menghasilkan produk bunga mawar terbaik. Tiga daerah tersebut menurutnya memiliki kualitas mawar yang cukup baik. ”Mereka mampu memproduksi secara masal dan siapa tahu daerah lain jika ada yang menjadi mitra ya akan lebih bagus,” ceritanya.

Prestasi dari mengolah mawar juga pernah Elfi raih. Profesor berhijab itu meraih penghargaan sebagai peneliti dan penyaji terbaik dari Ditjen Dikti Kemendikbud-Ristek sebanyak 4 kali. Yakni pada 2008, 2011, 2017, dan 2019. Serta menjadi penerima Award Penghargaan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (Patpi) pada 2019 lalu. Penelitian mawar itu juga yang mengantarkan dia menjadi professor pada 2020 lalu.

Pada penelitian terbarunya ketika menuju profesor yakni menjelaskan khasiat dari olahan produknya mengandung antioksidan tinggi. Sekitar 85-90 persen. Itu disumbang dari komponen kandungan pigmen antosianin, Vitamin C, minyak atsiri, dan zink.

Sejumlah kandungan itu mampu mencegah paparan radikal bebas, meningkatkan imun, vitalitas tubuh, mencegah flu, terutama situasi pandemi Covid-19 saat ini, dan memperbaiki kulit. ”Bahkan ada dosen PTS (Perguruan Tinggi Swasta) yang sakit lupus, bisa terobati karena mengonsumsi minuman yang saya buat ini,” imbuh Elfi.

Pada masa pandemi ini, Elfi juga senang mendengar testimoni dari pembeli yang sembuh dari flu. Beberapa kliennya kerap membeli dalam jumlah banyak untuk membuktikan khasiat produknya.

Kini, permintaan berkurang karena terganggu pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat.

Meski produknya sudah tembus mancanegara, jiwa peneliti Elfi masih tinggi. Belakangan ini, mantan pengurus Persatuan Ahli Mikrobiologi Indonesia (Permi) ini ingin berinovasi dengan menambah bahan rempah. Elfi ingin mengurangi gula dan memperbanyak olahan mawar. Hal itu dia lakukan lantaran melihat para pembeli juga mayoritas memiliki riwayat penyakit diabetes.

”Ke depan juga akan menambah tambahan apel dan mengkudu untuk konsumen yang ingin kulitnya glowing,” kata Alumnus SMA Negeri Bangil itu (and/dan/rmc).

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru