24.7 C
Malang
Tuesday, 6 December 2022

Empat Sekolah Diperbolehkan Meniadakan PR

BATU – Siswa di beberapa sekolah di Kota Batu kini tak perlu mengerjakan pekerjaan rumah (PR) lagi. Itu setelah pihak sekolah memutuskan menghapus tugas tersebut, utamanya lembaga pendidikan yang menerapkan full day school.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batu Eny Rachayuningsih membenarkan hal ini. Dikatakannya, sekolah-sekolah yang menghapus sistem PR ini ada dari sekolah negeri maupun swasta. “Setahu saya ada tiga atau empat, tapi saya belum tahu pasti. Nanti saya identifikasi dulu ya jumlah pastinya,” kata Eny.

Penghapusan PR ini terang Eny, karena dipastikan seluruh metode pembelajaran sudah sepenuhnya dituntaskan saat sekolah. “Terutama di sekolah-sekolah yang menerapkan sistem  full day school. Sudah tuntas semua itu sampai pembinaan karakter juga,” jelasnya.

Kebijakan penghapusan PR ini juga mendapat dukungan dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim. Menurut dia, PR justru memberatkan siswa.

Seharusnya, waktu mengerjakan PR lebih baik diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler mengembangkan minat siswa yang lebih berguna. Penghapusan PR juga telah resmi dilakukan oleh Pemkot Surabaya. “Meski dihapus, waktu yang digunakan mengerjakan PR sebelumnya diganti dengan 2 jam pelajaran yang digunakan untuk pendalaman karakter siswa,” tutur Tatik. (adk/lid)

BATU – Siswa di beberapa sekolah di Kota Batu kini tak perlu mengerjakan pekerjaan rumah (PR) lagi. Itu setelah pihak sekolah memutuskan menghapus tugas tersebut, utamanya lembaga pendidikan yang menerapkan full day school.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batu Eny Rachayuningsih membenarkan hal ini. Dikatakannya, sekolah-sekolah yang menghapus sistem PR ini ada dari sekolah negeri maupun swasta. “Setahu saya ada tiga atau empat, tapi saya belum tahu pasti. Nanti saya identifikasi dulu ya jumlah pastinya,” kata Eny.

Penghapusan PR ini terang Eny, karena dipastikan seluruh metode pembelajaran sudah sepenuhnya dituntaskan saat sekolah. “Terutama di sekolah-sekolah yang menerapkan sistem  full day school. Sudah tuntas semua itu sampai pembinaan karakter juga,” jelasnya.

Kebijakan penghapusan PR ini juga mendapat dukungan dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim. Menurut dia, PR justru memberatkan siswa.

Seharusnya, waktu mengerjakan PR lebih baik diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler mengembangkan minat siswa yang lebih berguna. Penghapusan PR juga telah resmi dilakukan oleh Pemkot Surabaya. “Meski dihapus, waktu yang digunakan mengerjakan PR sebelumnya diganti dengan 2 jam pelajaran yang digunakan untuk pendalaman karakter siswa,” tutur Tatik. (adk/lid)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/