alexametrics
26C
Malang
Friday, 5 March 2021

Wali Kota Hingga DPD Hadiri Launching Sekolah Kepemimpinan Nusantara

MALANG KOTA – Nusantara Gilang Gemilang (NGG) me-launching Sekolah Kepemimpinan Nusantara, kemarin (20/1). Launching yang dilaksanakan di Camp King Sulaiman, Jalan Raya Candi V, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun itu bertujuan untuk mencetak pemimpin mentor, bukan pemimpin mandor.

Launching tersebut dihadiri unsur pejabat dari tingkat daerah hingga pemerintah pusat. Di antaranya, mantan wakil gubernur Jawa Timur yang kini wali kota Pasuruan terpilih Syaifullah Yusuf atau biasa disapa Gus Ipul, Wakil Wali Kota Pasuruan terpilih Adi Wibowo, dan anggota DPD RI dari Lampung KH Abdul Hakim.

Dari unsur media, hadir Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad. Sedangkan dari internal NGG, tampak pembina sekaligus pengarah NGG Dr Imam Muhajirin Elfahmi yang akrab disapa Coach Dr Fahmi, Presiden NGG Herman Ali Sadikin, dan para pengusaha binaan Coach Dr Fahmi dari perwakilan semua provinsi di Indonesia.

Masing-masing undangan itu diminta membubuhkan tanda tangan sebagai simbol berdirinya sekolah kepemimpinan Nusantara. Usai pembubuhan tanda tangan, Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad didapuk menjadi pemateri pertama.

”Ini kehormatan buat saya, berbicara di hadapan para pemimpin. Apalagi ada Gus Ipul juga (Syaifullah Yusuf),” kata Kum, panggilan akrab Kurniawan Muhammad mengawali pemaparannya.

Dalam kesempatan itu, Kum menceritakan perjalanan karirnya sejak menjadi wartawan Jawa Pos pada 1997 hingga menjadi direktur Jawa Pos Radar Malang. Selama menjadi jurnalis, dia mengaku kerap mendapat pengalaman untuk mengasah kemampuannya.

”Saya teringat pesan Pak Dahlan (Dahlan Iskan, Red) ketika saya menjadi kepala kompartemen di Surabaya. Waktu itu Pak Dahlan bilang, menjadi kepala kompartemen itu sesungguhnya magang menjadi pemimpin,” kata President Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Malang itu.

Setelah hampir 10 tahun memimpin Jawa Pos Radar Malang, Kum merasakan kebenaran pesan Dahlan Iskan. Menurut dia, ada tiga hal yang harus dipegang teguh oleh seorang pemimpin. Yakni harus memiliki visi dan misi, memiliki intuisi, serta bisa menjadi pemimpin mentor, bukan pemimpin mandor.

”Pemimpin mentor ini lah yang menghasilkan pemimpin-pemimpin baru,” kata dia.

”Berbeda dengan pemimpin mandor. Pemimpin mandor itu cuma instruksi saja,” tambahnya. Dia yakin, tipe pemimpin mentor inilah yang akan dihasilkan oleh sekolah kepemimpinan Nusantara.

Sementara itu, mantan Wakil Gubernur Jatim Syaifullah Yusuf yang menjadi pemateri kedua memaparkan teori kepemimpinan. ”Ada teori yang menyebutkan bahwa pemimpin itu dilahirkan. Tapi ada juga teori, bahwa pemimpin itu dibentuk,” kata Gus Ipul.

Gus Ipul tidak mempermasalahkan teori mana yang benar. Sebab, ada teori baru yang menggabungkan keduanya. Bagi dia, yang paling baik adalah yang menggabungkan keduanya. Untuk itu, Gus Ipul mengapresiasi program sekolah kepemimpinan Nusantara karena ini adalah upaya untuk melahirkan pemimpin-pemimpin selanjutnya.

”Gabungan inilah yang banyak dielaborasi untuk sama-sama dibikin satu proses. Akhirnya kita harus mampu memahami persoalan,” ujarnya.

Sementara anggota DPD RI KH Abdul Hakim yang menjadi pemateri ketiga memaparkan kondisi riil bangsa Indonesia. Dalam penyampainnya, dia menjelaskan bahwa Indonesia termasuk 61 dari 172 negara yang dianggap gagal. Gagal karena Indonesia dianggap sebagai Negara yang tidak mampu memberikan jaminan keamanan bagi rakyatnya. Juga tidak mampu memberikan kesejahteraan, kemakmuran, dan kebahagiaan bagi rakyatnya.

“Sebuah negara dianggap gagal ketika negara tidak hadir untuk memberikan perlindungan dan kenyamanan kepada warganya,” katanya.

Menurut dia, keberadaan sekolah kepemimpinan Nusantara ini diyakini mampu menjawab tantangan kondisi riil bangsa Indonesia. ”Sekolah kepemimpinan Nunsantara ini sebagai jawaban,” kata dia.

Di sisi lain, dalam launching itu juga langsung digelar kuliah perdana yang disampaikan oleh Coach Ridwan Abadi. Ridwan lantas menjabarkan tahapan menjadi pemimpin.

Menurut dia, pemimpin yang ideal adalah pemimpin mentor, bukan mandor. Karena itu, sekolah kepemimpinan nusantaran ini bertujuan mencetak pemimpin mentor.

”Meminjam istilahnya pak Kum, pemimpin mentor inilah yang dicetak,” kata dia.(arl/dan/rmc)

MALANG KOTA – Nusantara Gilang Gemilang (NGG) me-launching Sekolah Kepemimpinan Nusantara, kemarin (20/1). Launching yang dilaksanakan di Camp King Sulaiman, Jalan Raya Candi V, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun itu bertujuan untuk mencetak pemimpin mentor, bukan pemimpin mandor.

Launching tersebut dihadiri unsur pejabat dari tingkat daerah hingga pemerintah pusat. Di antaranya, mantan wakil gubernur Jawa Timur yang kini wali kota Pasuruan terpilih Syaifullah Yusuf atau biasa disapa Gus Ipul, Wakil Wali Kota Pasuruan terpilih Adi Wibowo, dan anggota DPD RI dari Lampung KH Abdul Hakim.

Dari unsur media, hadir Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad. Sedangkan dari internal NGG, tampak pembina sekaligus pengarah NGG Dr Imam Muhajirin Elfahmi yang akrab disapa Coach Dr Fahmi, Presiden NGG Herman Ali Sadikin, dan para pengusaha binaan Coach Dr Fahmi dari perwakilan semua provinsi di Indonesia.

Masing-masing undangan itu diminta membubuhkan tanda tangan sebagai simbol berdirinya sekolah kepemimpinan Nusantara. Usai pembubuhan tanda tangan, Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad didapuk menjadi pemateri pertama.

”Ini kehormatan buat saya, berbicara di hadapan para pemimpin. Apalagi ada Gus Ipul juga (Syaifullah Yusuf),” kata Kum, panggilan akrab Kurniawan Muhammad mengawali pemaparannya.

Dalam kesempatan itu, Kum menceritakan perjalanan karirnya sejak menjadi wartawan Jawa Pos pada 1997 hingga menjadi direktur Jawa Pos Radar Malang. Selama menjadi jurnalis, dia mengaku kerap mendapat pengalaman untuk mengasah kemampuannya.

”Saya teringat pesan Pak Dahlan (Dahlan Iskan, Red) ketika saya menjadi kepala kompartemen di Surabaya. Waktu itu Pak Dahlan bilang, menjadi kepala kompartemen itu sesungguhnya magang menjadi pemimpin,” kata President Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Malang itu.

Setelah hampir 10 tahun memimpin Jawa Pos Radar Malang, Kum merasakan kebenaran pesan Dahlan Iskan. Menurut dia, ada tiga hal yang harus dipegang teguh oleh seorang pemimpin. Yakni harus memiliki visi dan misi, memiliki intuisi, serta bisa menjadi pemimpin mentor, bukan pemimpin mandor.

”Pemimpin mentor ini lah yang menghasilkan pemimpin-pemimpin baru,” kata dia.

”Berbeda dengan pemimpin mandor. Pemimpin mandor itu cuma instruksi saja,” tambahnya. Dia yakin, tipe pemimpin mentor inilah yang akan dihasilkan oleh sekolah kepemimpinan Nusantara.

Sementara itu, mantan Wakil Gubernur Jatim Syaifullah Yusuf yang menjadi pemateri kedua memaparkan teori kepemimpinan. ”Ada teori yang menyebutkan bahwa pemimpin itu dilahirkan. Tapi ada juga teori, bahwa pemimpin itu dibentuk,” kata Gus Ipul.

Gus Ipul tidak mempermasalahkan teori mana yang benar. Sebab, ada teori baru yang menggabungkan keduanya. Bagi dia, yang paling baik adalah yang menggabungkan keduanya. Untuk itu, Gus Ipul mengapresiasi program sekolah kepemimpinan Nusantara karena ini adalah upaya untuk melahirkan pemimpin-pemimpin selanjutnya.

”Gabungan inilah yang banyak dielaborasi untuk sama-sama dibikin satu proses. Akhirnya kita harus mampu memahami persoalan,” ujarnya.

Sementara anggota DPD RI KH Abdul Hakim yang menjadi pemateri ketiga memaparkan kondisi riil bangsa Indonesia. Dalam penyampainnya, dia menjelaskan bahwa Indonesia termasuk 61 dari 172 negara yang dianggap gagal. Gagal karena Indonesia dianggap sebagai Negara yang tidak mampu memberikan jaminan keamanan bagi rakyatnya. Juga tidak mampu memberikan kesejahteraan, kemakmuran, dan kebahagiaan bagi rakyatnya.

“Sebuah negara dianggap gagal ketika negara tidak hadir untuk memberikan perlindungan dan kenyamanan kepada warganya,” katanya.

Menurut dia, keberadaan sekolah kepemimpinan Nusantara ini diyakini mampu menjawab tantangan kondisi riil bangsa Indonesia. ”Sekolah kepemimpinan Nunsantara ini sebagai jawaban,” kata dia.

Di sisi lain, dalam launching itu juga langsung digelar kuliah perdana yang disampaikan oleh Coach Ridwan Abadi. Ridwan lantas menjabarkan tahapan menjadi pemimpin.

Menurut dia, pemimpin yang ideal adalah pemimpin mentor, bukan mandor. Karena itu, sekolah kepemimpinan nusantaran ini bertujuan mencetak pemimpin mentor.

”Meminjam istilahnya pak Kum, pemimpin mentor inilah yang dicetak,” kata dia.(arl/dan/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru