alexametrics
23C
Malang
Tuesday, 2 March 2021

Webinar Nasional UM Kupas Tuntas Strategi Cegah Radikalisme di Kampus

MALANG KOTA – Seluruh elemen bangsa mempunya pekerjaan rumah yang sama, yaitu mencegah penyebaran paham radikalisme. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Pengkajian Pancasila (P2P) Universitas Negeri Malang (UM) Slamet Sujud Purnawan dalam webinar nasional yang berlangsung hari ini (21/1) melalui Zoom dan YouTube live.

Mengusung tema “Meredam Radikalisme Dengan Harmoni Pancasila”, narasumber yang dihadirkan antara lain Mantan Pimpinan Jamaah Islamiah dan Pengamat Teror Nasional Ustadz Nasir Abas, Dosen UIN Sunan Ampel Dr Ainur Rofiq Al-Amin SH MAg, dan Dosen UM Dr Yusuf Hanafi SAg MFil I.

Slamet Sujud Purnawan Jati menjelaskan, webinar yang diikuti ribuan peserta ini adalah dalam rangka pencegahan penyebaran paham radikalisme di lingkungan kampus.

“Perguruan tinggi wajib mencegah penyebaran paham radikal ini. Karena merupakan intitusi akademik, maka pencegahannya menggunakan cara-cara akademik atau edukasi,” jelasnya.

Di antaranya, melalui Tri Darma Perguruan Tinggi dan pendidikan pembelajaran yang melalui mata kuliah Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, serta penelitian dan pengabdian.

“Juga dalam webinar ini mengundang para tokoh masyarakat, tokoh lintas agama, tokoh pendidik, tokoh pemuda untuk menjadi narasumber dalam webinar ini,” tambahnya.

Dosen UM Dr Yusuf Hanafi SAg MFil I yang merupakan narasumber pertama menjelaskan materinya yang diberi judul “Merawat Kebhinekaan Melalui Moderasi Pemikiran Keagamaan”. “Tugas saya meminimalisir paham radikalisme di lingkungan kampus. Generasi muda ini masih dalam fase mencari identitas diri. Maka dengan sendirinya, mereka memiliki kerentanan untuk menjadi lahan subur persemaian paham-paham (transnasional) yang bercorak radikal,” tuturnya.

Sehingga dari sini, masyarakat harus mengantisipasi yaitu generasi muda harus didorong bahwa dalam pengkajian ajaran agama tidak sebatas doktrin tekstualnya semata.

“Kajian-kajian, harus menyapa realitas, bahwa dalam konteks kehidupan kita, dan kita tidak segan secara prosedur dan metodologis bertegur sapa dengan disiplin ilmu yang lain,” katanya.

Dengan begitu, dia berharap bahwa nantinya generasi muda memiliki cakrawala dan juga horizon berpikir yang luas. “Untuk merawat kebhinekaan, ada tiga tahapan. Antara lain, self control yaitu menjaga diri agar tidak terracuni ideologi radikal dan menumbuhkan pola pikir dan pola sikap yang moderat,” katanya.

Selanjutnya, yaitu opini yang mengarusutamakan moderatisme serta diseminasi ke ruang publik secara masif ideologi keagamaan moderat dan toleran.

“Lalu gerakan moral melalui pressure group. Mengampanyekan moderatisme: makin moderat, makin Indonesia,” jelasnya.

Sementara itu, Mantan Pimpinan Jamaah Islamiah dan Pengamat Teror Nasional Ustadz Nasir Abas menambahkan, dalam pencegahan intoleran, perlu dilakukan pendidikan toleransi sejak dini.

“Karena, mereka dari kelompok radikalisme merekrut anak-anak mereka sejak dari usia dini,” jelasnya. Upayanya, anak-anak usia dini harus diterapkan wawasan kebangsaan dan menghargai perbedaan kebhinekaan.

Dosen UIN Sunan Ampel Dr Ainur Rofiq Al-Amin SH MAg mengatakan untuk memberantas radikalisme, harus dilakukan vaksinasi radikalisme. “Vaksinasi itu harus ditancapkan ke mereka agar keraguan-keraguan yang mengganggu psikologi mereka bisa hilang,” katanya. Dia menyebutkan, penggiat paham radikalisme ini salah satunya berasal dari orang luar negeri yang datang ke Indonesia dan membawa paham itu. Atau, bisa juga, orang Indonesia ke luar negeri dan pulang memabawa paham radikalisme.

Pewarta: Ilmi Ariyanti

MALANG KOTA – Seluruh elemen bangsa mempunya pekerjaan rumah yang sama, yaitu mencegah penyebaran paham radikalisme. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Pengkajian Pancasila (P2P) Universitas Negeri Malang (UM) Slamet Sujud Purnawan dalam webinar nasional yang berlangsung hari ini (21/1) melalui Zoom dan YouTube live.

Mengusung tema “Meredam Radikalisme Dengan Harmoni Pancasila”, narasumber yang dihadirkan antara lain Mantan Pimpinan Jamaah Islamiah dan Pengamat Teror Nasional Ustadz Nasir Abas, Dosen UIN Sunan Ampel Dr Ainur Rofiq Al-Amin SH MAg, dan Dosen UM Dr Yusuf Hanafi SAg MFil I.

Slamet Sujud Purnawan Jati menjelaskan, webinar yang diikuti ribuan peserta ini adalah dalam rangka pencegahan penyebaran paham radikalisme di lingkungan kampus.

“Perguruan tinggi wajib mencegah penyebaran paham radikal ini. Karena merupakan intitusi akademik, maka pencegahannya menggunakan cara-cara akademik atau edukasi,” jelasnya.

Di antaranya, melalui Tri Darma Perguruan Tinggi dan pendidikan pembelajaran yang melalui mata kuliah Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, serta penelitian dan pengabdian.

“Juga dalam webinar ini mengundang para tokoh masyarakat, tokoh lintas agama, tokoh pendidik, tokoh pemuda untuk menjadi narasumber dalam webinar ini,” tambahnya.

Dosen UM Dr Yusuf Hanafi SAg MFil I yang merupakan narasumber pertama menjelaskan materinya yang diberi judul “Merawat Kebhinekaan Melalui Moderasi Pemikiran Keagamaan”. “Tugas saya meminimalisir paham radikalisme di lingkungan kampus. Generasi muda ini masih dalam fase mencari identitas diri. Maka dengan sendirinya, mereka memiliki kerentanan untuk menjadi lahan subur persemaian paham-paham (transnasional) yang bercorak radikal,” tuturnya.

Sehingga dari sini, masyarakat harus mengantisipasi yaitu generasi muda harus didorong bahwa dalam pengkajian ajaran agama tidak sebatas doktrin tekstualnya semata.

“Kajian-kajian, harus menyapa realitas, bahwa dalam konteks kehidupan kita, dan kita tidak segan secara prosedur dan metodologis bertegur sapa dengan disiplin ilmu yang lain,” katanya.

Dengan begitu, dia berharap bahwa nantinya generasi muda memiliki cakrawala dan juga horizon berpikir yang luas. “Untuk merawat kebhinekaan, ada tiga tahapan. Antara lain, self control yaitu menjaga diri agar tidak terracuni ideologi radikal dan menumbuhkan pola pikir dan pola sikap yang moderat,” katanya.

Selanjutnya, yaitu opini yang mengarusutamakan moderatisme serta diseminasi ke ruang publik secara masif ideologi keagamaan moderat dan toleran.

“Lalu gerakan moral melalui pressure group. Mengampanyekan moderatisme: makin moderat, makin Indonesia,” jelasnya.

Sementara itu, Mantan Pimpinan Jamaah Islamiah dan Pengamat Teror Nasional Ustadz Nasir Abas menambahkan, dalam pencegahan intoleran, perlu dilakukan pendidikan toleransi sejak dini.

“Karena, mereka dari kelompok radikalisme merekrut anak-anak mereka sejak dari usia dini,” jelasnya. Upayanya, anak-anak usia dini harus diterapkan wawasan kebangsaan dan menghargai perbedaan kebhinekaan.

Dosen UIN Sunan Ampel Dr Ainur Rofiq Al-Amin SH MAg mengatakan untuk memberantas radikalisme, harus dilakukan vaksinasi radikalisme. “Vaksinasi itu harus ditancapkan ke mereka agar keraguan-keraguan yang mengganggu psikologi mereka bisa hilang,” katanya. Dia menyebutkan, penggiat paham radikalisme ini salah satunya berasal dari orang luar negeri yang datang ke Indonesia dan membawa paham itu. Atau, bisa juga, orang Indonesia ke luar negeri dan pulang memabawa paham radikalisme.

Pewarta: Ilmi Ariyanti

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru