21.8 C
Malang
Tuesday, 6 December 2022

Pemkot Tak Mau Gegabah Hapus PR

MALANG KOTA – Per 10 November 2022, Kota Surabaya resmi menghapus PR atau pekerjaan rumah bagi siswa SD dan SMP. Kebijakan itu tampaknya tidak akan diikuti oleh Kota Malang. Pasalnya, belum ada kajian yang menunjukkan kebutuhan untuk menghapus PR itu bagi pelajar di Kota Malang.

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang Dodik Teguh Pribadi mengatakan, pihaknya tak akan gegabah ikut-ikutan menerapkan hal serupa seperti di Kota Surabaya. Apalagi selama ini pemberian PR kepada siswa mampu meningkatkan kompetensi pelajar.

Dia menjelaskan, PR bagi pelajar setidaknya memiliki tiga fungsi. Di antaranya pengulangan, penguatan, dan pengayaan. “Kita harus pahamkan ulang tujuan pemberian PR bagi pelajar,” ujarnya.

Dodik menegaskan bahwa kebutuhan model pendidikan di setiap daerah jelas berbeda.

Hal itu disesuaikan dengan sistem yang diterapkan di masing-masing daerah. Termasuk berkaitan dengan karakter setiap siswa. Khusus untuk di Kota Malang, sampai saat ini belum ada situasi yang membuat penghapusan PR mendesak untuk dilakukan.

Seandainya nanti Kota Malang ingin menghapus PR bagi siswa, maka kebijakan tersebut harus melalui kajian terlebih dulu. Harus dilihat kelebihan dan kekurangannya. Juga harus diingat bahwa selama ini PR membantu menekan potensi siswa dalam memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna di rumah.

“Kalau menurut saya, semestinya penghapusan PR tidak dilakukan. Sistem pemberiannya yang harus diubah. Disesuaikan dengan porsi yang ideal menurut fungsinya,” terang Dodik. Dengan porsi yang pas, PR tidak akan memberatkan siswa. Sifatnya hanya untuk mengulang apa yang sudah disampaikan di sekolah saja.

Sebagai informasi, penghapusan PR bagi siswa SD dan SMP oleh Pemkot Surabaya tidak semata-mata tanpa pengganti. Pihak sekolah diminta memberikan tambahan dua jam pengayaan untuk pendalaman karakter siswa. Kebijakan itu diambil dengan tujuan agar siswa tidak terlalu dibebani serta meningkatkan kemampuan pelajar dalam bersosialisasi. PR dan penyelesaiannya juga bisa dilakukan melalui dua jam pengayaan di sekolah. Sehingga saat mereka pulang ke rumah sudah dalam keadaan tanpa beban dan lebih fresh. (dre/fat)

MALANG KOTA – Per 10 November 2022, Kota Surabaya resmi menghapus PR atau pekerjaan rumah bagi siswa SD dan SMP. Kebijakan itu tampaknya tidak akan diikuti oleh Kota Malang. Pasalnya, belum ada kajian yang menunjukkan kebutuhan untuk menghapus PR itu bagi pelajar di Kota Malang.

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang Dodik Teguh Pribadi mengatakan, pihaknya tak akan gegabah ikut-ikutan menerapkan hal serupa seperti di Kota Surabaya. Apalagi selama ini pemberian PR kepada siswa mampu meningkatkan kompetensi pelajar.

Dia menjelaskan, PR bagi pelajar setidaknya memiliki tiga fungsi. Di antaranya pengulangan, penguatan, dan pengayaan. “Kita harus pahamkan ulang tujuan pemberian PR bagi pelajar,” ujarnya.

Dodik menegaskan bahwa kebutuhan model pendidikan di setiap daerah jelas berbeda.

Hal itu disesuaikan dengan sistem yang diterapkan di masing-masing daerah. Termasuk berkaitan dengan karakter setiap siswa. Khusus untuk di Kota Malang, sampai saat ini belum ada situasi yang membuat penghapusan PR mendesak untuk dilakukan.

Seandainya nanti Kota Malang ingin menghapus PR bagi siswa, maka kebijakan tersebut harus melalui kajian terlebih dulu. Harus dilihat kelebihan dan kekurangannya. Juga harus diingat bahwa selama ini PR membantu menekan potensi siswa dalam memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna di rumah.

“Kalau menurut saya, semestinya penghapusan PR tidak dilakukan. Sistem pemberiannya yang harus diubah. Disesuaikan dengan porsi yang ideal menurut fungsinya,” terang Dodik. Dengan porsi yang pas, PR tidak akan memberatkan siswa. Sifatnya hanya untuk mengulang apa yang sudah disampaikan di sekolah saja.

Sebagai informasi, penghapusan PR bagi siswa SD dan SMP oleh Pemkot Surabaya tidak semata-mata tanpa pengganti. Pihak sekolah diminta memberikan tambahan dua jam pengayaan untuk pendalaman karakter siswa. Kebijakan itu diambil dengan tujuan agar siswa tidak terlalu dibebani serta meningkatkan kemampuan pelajar dalam bersosialisasi. PR dan penyelesaiannya juga bisa dilakukan melalui dua jam pengayaan di sekolah. Sehingga saat mereka pulang ke rumah sudah dalam keadaan tanpa beban dan lebih fresh. (dre/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/