alexametrics
22.4 C
Malang
Tuesday, 5 July 2022

Akhirnya Prof Widodo yang Pimpin Universitas Brawijaya hingga 2027

MALANG KOTA – Terjadi kejutan di pemilihan Rektor Universitas Brawijaya (UB) kemarin sore (21/5). Secara mufakat, 17 anggota  Majelis Wali Amanah (MWA) UB akhirnya memilih Dekan FMIPA Prof Widodo sebagai Rektor untuk periode 2022-2027. Untuk diketahui sebelumnya, proses pemilihan Rektor UB di tahun ini memang baru. Hak suara terakhir ada di tangan 17 anggota MWA.

Secara aturan, metode pertama yang digunakan yakni musyawarah. Bila tidak menemui hasil mufakat, metode yang akan dilakukan selanjutnya adalah voting. Dan prosesnya kemarin tidak sampai dilakukan voting. Sebab setelah 17 anggota MWA bermusyawarah, mereka sepakat untuk menunjuk Prof Widodo sebagai pemimpin baru UB hingga 2027.

Proses yang sama juga dilakukan di kampus lain. Seperti di Universitas Hasanuddin, Makassar, dan Universitas Gajah Mada, Jogjakarta. Hanya saja, pemilihan rektor di dua kampus itu harus dilakukan dengan menggunakan metode voting. Sebab hasil musyawarah MWA-nya tidak menemui kata mufakat.

Terpilihnya Prof Widodo sebagai rektor cukup mengejutkan sejumlah pihak. Sebab sejak awal, dia bisa disebut sebagai ’kuda hitam’ dalam pemilihan rektor UB. Pada tahapan terakhir sebelum pemilihan kemarin (21/5), yakni tahap voting di tingkat senat akademik universitas (SAU), 21 April lalu, Prof Widodo mendapat suara paling sedikit dibandingkan dua pesaingnya. Pada posisi pertama ada Dekan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Prof Imam Santoso yang mendulang 29 suara.

Sementara pada posisi kedua ada Dekan Vokasi Prof Unti Ludigdo, yang mendapat 27 suara. Sedangkan Prof Widodo saat itu berada di posisi ketiga dengan mendapat 19 suara. Ketua MWA UB Muhadjir Effendy memastikan bila hasil musyawarah kemarin merupakan kesepakatan bersama seluruh 17 anggota MWA. Dalam prosesnya, dia menyebut ada proses perdebatan di antara anggota MWA. ”Namun intinya keputusan semua anggota sudah bulat. Dari tiga calon, ditetapkan bapak Widodo sebagai Rektor UB,” kata Muhadjir.

Dalam sidang pleno kemarin, dia menyebut hanya Mendikbudristek Nadiem Makarim saja yang diwakili oleh Plt Sekjen. Yang lainnya turut hadir. Ditanya mengenai alasan mengapa anggota MWA tidak sampai melakukan pemilihan secara voting, Muhadjir masih enggan membeberkannya secara gamblang. Dia hanya menegaskan bahwa itu merupakan keputusan bersama dari seluruh anggota MWA.

Muhadjir memastikan bila anggota MWA akan tetap melakukan pengawasan terhadap kebijakan rektor dalam bidang non akademik. Eksekusi kebijakan memang sepenuhnya di tangan rektor baru, namun pelaksanaannya tidak boleh melenceng dari rencana strategis (renstra) yang sudah disepakati oleh MWA. Sementara untuk urusan akademik, rektor akan bekerja sama dengan SAU. ”Garis besar renstra tidak memberikan batasan kepada rektor. Jadi nanti eksekusinya sangat tergantung bagaimana kreativitas dan visi misi rektor ke depan,” tutur pria yang menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) itu.

Sementara itu, Rektor UB periode 2018-2022 Prof Nuhfil Hanani memandang proses pemilihan yang dilakukan secara musyawarah itu menunjukkan kekompakan dari seluruh komponen UB. Dia juga mengucapkan selamat kepada rektor terpilih dan dua kandidat lainnya. Nuhfil memastikan bila dua kandidat rektor UB lainnya juga sudah memberikan sumbangsih yang maksimal. ”UB menunjukkan kekompakannya, karena dari 17 orang (anggota MWA) itu bisa menyuarakan hal yang sama. Mufakat itu kan sesuatu hal yang luar biasa,” kata dia.

Guru besar fakultas pertanian itu lantas memberikan pesan kepada rektor terpilih untuk menjaga amanah dari seluruh anggota MWA. Dia berharap Prof Widodo bisa membawa UB meraih ranking 500 dunia pada 2027 mendatang. Seperti yang dilakukannya, dengan mencapai target masuk 800 ranking dunia pada tahun ini. ”Jadi ada lima tahun yang harus dimanfaatkan untuk mencapai ranking 500 dunia,” tandas Nuhfil.

Di tempat yang sama, Rektor UB terpilih Prof Widodo menyatakan siap untuk menjawab tantangan tersebut. Setelah resmi menjabat pada bulan Juni mendatang, fokus utama yang akan dia kejar yakni internasionalisasi kampus. Itu merupakan implementasi dari renstra yang sudah ditetapkan oleh MWA. Jadi siapa pun rektor yang terpilih, harus bisa membawa UB lebih dikenal dalam dunia internasional. ”Selain itu, kami juga akan bersinergi dengan program yang ada di kementerian,” kata dia.

Sementara itu, kandidat rektor yang lain, yakni Prof Unti Ludigdo turut mengapresiasi proses yang dilakukan anggota MWA. Dia menyebut bila tercapainya kata mufakat adalah hal yang luar biasa. ”Itu bisa menjadi contoh untuk kampus-kampus lainnya,” kata dia. Menurutnya, ikhtiar dari musyawarah itu tetap satu, yakni mendapatkan pemimpin yang terbaik.

Hal senada juga disampaikan Prof Imam Santoso. Dia menganggap bila terpilihnya Prof Widodo merupakan takdir yang sudah digariskan tuhan. Pihaknya memastikan telah menerima keputusan anggota MWA dengan ikhlas. ”Ini merupakan takdir dan yang terbaik bagi UB dan Prof Widodo. Mudah-mudahan semua bisa berkolaborasi untuk membangun UB menjadi lebih baik,” kata pria berusia 54 tahun itu. (adk/by)

MALANG KOTA – Terjadi kejutan di pemilihan Rektor Universitas Brawijaya (UB) kemarin sore (21/5). Secara mufakat, 17 anggota  Majelis Wali Amanah (MWA) UB akhirnya memilih Dekan FMIPA Prof Widodo sebagai Rektor untuk periode 2022-2027. Untuk diketahui sebelumnya, proses pemilihan Rektor UB di tahun ini memang baru. Hak suara terakhir ada di tangan 17 anggota MWA.

Secara aturan, metode pertama yang digunakan yakni musyawarah. Bila tidak menemui hasil mufakat, metode yang akan dilakukan selanjutnya adalah voting. Dan prosesnya kemarin tidak sampai dilakukan voting. Sebab setelah 17 anggota MWA bermusyawarah, mereka sepakat untuk menunjuk Prof Widodo sebagai pemimpin baru UB hingga 2027.

Proses yang sama juga dilakukan di kampus lain. Seperti di Universitas Hasanuddin, Makassar, dan Universitas Gajah Mada, Jogjakarta. Hanya saja, pemilihan rektor di dua kampus itu harus dilakukan dengan menggunakan metode voting. Sebab hasil musyawarah MWA-nya tidak menemui kata mufakat.

Terpilihnya Prof Widodo sebagai rektor cukup mengejutkan sejumlah pihak. Sebab sejak awal, dia bisa disebut sebagai ’kuda hitam’ dalam pemilihan rektor UB. Pada tahapan terakhir sebelum pemilihan kemarin (21/5), yakni tahap voting di tingkat senat akademik universitas (SAU), 21 April lalu, Prof Widodo mendapat suara paling sedikit dibandingkan dua pesaingnya. Pada posisi pertama ada Dekan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Prof Imam Santoso yang mendulang 29 suara.

Sementara pada posisi kedua ada Dekan Vokasi Prof Unti Ludigdo, yang mendapat 27 suara. Sedangkan Prof Widodo saat itu berada di posisi ketiga dengan mendapat 19 suara. Ketua MWA UB Muhadjir Effendy memastikan bila hasil musyawarah kemarin merupakan kesepakatan bersama seluruh 17 anggota MWA. Dalam prosesnya, dia menyebut ada proses perdebatan di antara anggota MWA. ”Namun intinya keputusan semua anggota sudah bulat. Dari tiga calon, ditetapkan bapak Widodo sebagai Rektor UB,” kata Muhadjir.

Dalam sidang pleno kemarin, dia menyebut hanya Mendikbudristek Nadiem Makarim saja yang diwakili oleh Plt Sekjen. Yang lainnya turut hadir. Ditanya mengenai alasan mengapa anggota MWA tidak sampai melakukan pemilihan secara voting, Muhadjir masih enggan membeberkannya secara gamblang. Dia hanya menegaskan bahwa itu merupakan keputusan bersama dari seluruh anggota MWA.

Muhadjir memastikan bila anggota MWA akan tetap melakukan pengawasan terhadap kebijakan rektor dalam bidang non akademik. Eksekusi kebijakan memang sepenuhnya di tangan rektor baru, namun pelaksanaannya tidak boleh melenceng dari rencana strategis (renstra) yang sudah disepakati oleh MWA. Sementara untuk urusan akademik, rektor akan bekerja sama dengan SAU. ”Garis besar renstra tidak memberikan batasan kepada rektor. Jadi nanti eksekusinya sangat tergantung bagaimana kreativitas dan visi misi rektor ke depan,” tutur pria yang menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) itu.

Sementara itu, Rektor UB periode 2018-2022 Prof Nuhfil Hanani memandang proses pemilihan yang dilakukan secara musyawarah itu menunjukkan kekompakan dari seluruh komponen UB. Dia juga mengucapkan selamat kepada rektor terpilih dan dua kandidat lainnya. Nuhfil memastikan bila dua kandidat rektor UB lainnya juga sudah memberikan sumbangsih yang maksimal. ”UB menunjukkan kekompakannya, karena dari 17 orang (anggota MWA) itu bisa menyuarakan hal yang sama. Mufakat itu kan sesuatu hal yang luar biasa,” kata dia.

Guru besar fakultas pertanian itu lantas memberikan pesan kepada rektor terpilih untuk menjaga amanah dari seluruh anggota MWA. Dia berharap Prof Widodo bisa membawa UB meraih ranking 500 dunia pada 2027 mendatang. Seperti yang dilakukannya, dengan mencapai target masuk 800 ranking dunia pada tahun ini. ”Jadi ada lima tahun yang harus dimanfaatkan untuk mencapai ranking 500 dunia,” tandas Nuhfil.

Di tempat yang sama, Rektor UB terpilih Prof Widodo menyatakan siap untuk menjawab tantangan tersebut. Setelah resmi menjabat pada bulan Juni mendatang, fokus utama yang akan dia kejar yakni internasionalisasi kampus. Itu merupakan implementasi dari renstra yang sudah ditetapkan oleh MWA. Jadi siapa pun rektor yang terpilih, harus bisa membawa UB lebih dikenal dalam dunia internasional. ”Selain itu, kami juga akan bersinergi dengan program yang ada di kementerian,” kata dia.

Sementara itu, kandidat rektor yang lain, yakni Prof Unti Ludigdo turut mengapresiasi proses yang dilakukan anggota MWA. Dia menyebut bila tercapainya kata mufakat adalah hal yang luar biasa. ”Itu bisa menjadi contoh untuk kampus-kampus lainnya,” kata dia. Menurutnya, ikhtiar dari musyawarah itu tetap satu, yakni mendapatkan pemimpin yang terbaik.

Hal senada juga disampaikan Prof Imam Santoso. Dia menganggap bila terpilihnya Prof Widodo merupakan takdir yang sudah digariskan tuhan. Pihaknya memastikan telah menerima keputusan anggota MWA dengan ikhlas. ”Ini merupakan takdir dan yang terbaik bagi UB dan Prof Widodo. Mudah-mudahan semua bisa berkolaborasi untuk membangun UB menjadi lebih baik,” kata pria berusia 54 tahun itu. (adk/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/