alexametrics
27C
Malang
Tuesday, 2 March 2021

Fosil Cacing Predator Jumbo Ini Ditemukan di Laut Kuno Taiwan

RADAR MALANG – Peneliti menemukan hasil jejak predator yang kemungkinan mirip dengan cacing bobbit modern. Sekitar 20 juta tahun yang lalu, cacing laut raksasa bersembunyi di dasar laut untuk menyergap mangsanya.

Sarang bawah tanah kuno yang ditinggalkan oleh hewan-hewan ini muncul di bebatuan dari pesisir Taiwan. Para penggali menganggap mungkin ini adalah analog dari cacing bobbit modern (Eunice aphroditois), yang dikenal mengubur diri di pasir untuk mengejutkan dan menyerang mangsanya.

Liang tersebut adalah jejak fosil bukti aktivitas hewan yang terawetkan dalam catatan geologi (SN: 15/6/14) seperti jejak kaki (SN: 27/4/20) atau bahkan kotoran (SN: 21/9/17). Fosil yang baru dilaporkan ini pertama kali ditemukan tahun 2013 di tanjung Badouzi, Taiwan, oleh ahli paleontologi Masakazu Nara dari Universitas Kochi di Jepang. Jejak fosil cacing jumbo tersebut ditemukan lebih banyak lagi di struktur batuan di geopark Yehliu, sebuah objek wisata populer yang dulunya merupakan ekosistem laut dangkal berusia sekitar 20 juta hingga 22 juta tahun lalu.

Deskripsi bagaimana cacing memangsa ikan.(source: sciencenews.org)

Dari 319 spesimen fosil, tim berhasil merekonstruksi liang tersebut. Hewan-hewan itu mengebor jalur berbentuk L ke dasar laut, meninggalkan struktur corong di bagian atas yang terlihat seperti bulu pada penampang melintang vertikal. Liang tersebut berukuran panjang sekitar 2 meter dan lebar 2 hingga 3 sentimeter.

“Dibandingkan dengan jejak fosil lainnya yang biasanya hanya beberapa puluh sentimeter panjangnya, fosil jejak ini sangat besar,” kata Yu-Yen Pan, ahli geologi di Universitas Simon Fraser di Burnaby, Kanada seperti dilansir pada sciencenews.org Sabtu (23/1). Dia menjuluki jejak fosil Pennichnus Formosae ini dengan menggabungkan kata Latin untuk bulu, jejak kaki, dan indah.

“Corong ini menunjukkan bahwa cacing berulang kali menyeret mangsanya ke dalam sedimen,” kata rekan penulis studi Ludvig Löwemark, ahli geosains di Universitas Nasional Taiwan di Taipei.

Taktik berburu ini sesuai dengan taktik cacing bobbit modern yang menyembunyikan tubuh sepanjang 3 meter di pasir dan melompat ke depan untuk menangkap mangsa.

Penulis: Fara Trisna Rahmadani

RADAR MALANG – Peneliti menemukan hasil jejak predator yang kemungkinan mirip dengan cacing bobbit modern. Sekitar 20 juta tahun yang lalu, cacing laut raksasa bersembunyi di dasar laut untuk menyergap mangsanya.

Sarang bawah tanah kuno yang ditinggalkan oleh hewan-hewan ini muncul di bebatuan dari pesisir Taiwan. Para penggali menganggap mungkin ini adalah analog dari cacing bobbit modern (Eunice aphroditois), yang dikenal mengubur diri di pasir untuk mengejutkan dan menyerang mangsanya.

Liang tersebut adalah jejak fosil bukti aktivitas hewan yang terawetkan dalam catatan geologi (SN: 15/6/14) seperti jejak kaki (SN: 27/4/20) atau bahkan kotoran (SN: 21/9/17). Fosil yang baru dilaporkan ini pertama kali ditemukan tahun 2013 di tanjung Badouzi, Taiwan, oleh ahli paleontologi Masakazu Nara dari Universitas Kochi di Jepang. Jejak fosil cacing jumbo tersebut ditemukan lebih banyak lagi di struktur batuan di geopark Yehliu, sebuah objek wisata populer yang dulunya merupakan ekosistem laut dangkal berusia sekitar 20 juta hingga 22 juta tahun lalu.

Deskripsi bagaimana cacing memangsa ikan.(source: sciencenews.org)

Dari 319 spesimen fosil, tim berhasil merekonstruksi liang tersebut. Hewan-hewan itu mengebor jalur berbentuk L ke dasar laut, meninggalkan struktur corong di bagian atas yang terlihat seperti bulu pada penampang melintang vertikal. Liang tersebut berukuran panjang sekitar 2 meter dan lebar 2 hingga 3 sentimeter.

“Dibandingkan dengan jejak fosil lainnya yang biasanya hanya beberapa puluh sentimeter panjangnya, fosil jejak ini sangat besar,” kata Yu-Yen Pan, ahli geologi di Universitas Simon Fraser di Burnaby, Kanada seperti dilansir pada sciencenews.org Sabtu (23/1). Dia menjuluki jejak fosil Pennichnus Formosae ini dengan menggabungkan kata Latin untuk bulu, jejak kaki, dan indah.

“Corong ini menunjukkan bahwa cacing berulang kali menyeret mangsanya ke dalam sedimen,” kata rekan penulis studi Ludvig Löwemark, ahli geosains di Universitas Nasional Taiwan di Taipei.

Taktik berburu ini sesuai dengan taktik cacing bobbit modern yang menyembunyikan tubuh sepanjang 3 meter di pasir dan melompat ke depan untuk menangkap mangsa.

Penulis: Fara Trisna Rahmadani

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru