alexametrics
23 C
Malang
Saturday, 2 July 2022

Cegah Klaster Sekolah Lewat Swab Berkala, Pemkot Malang Sedia Rp 11M

MALANG KOTA – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang terus mengevaluasi jalannya pembelajaran tatap muka (PTM). Selama tiga pekan berjalan, beberapa poin penting telah didapatkan. Salah satunya dengan rencana melakukan swab rutin kepada guru dan pelajar. Hal itu dilakukan untuk mencegah sebaran virus Covid-19 di sekolah.

Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan, rencana swab berkala tersebut bakal dilakukan secepatnya. Sebab, dia melihat pelaksanaan PTM di sejumlah daerah lain ditemukan siswa terpapar Covid-19. Sebagai langkah antisipasi, kata dia, swab berkala menjadi solusi ketika terjadi kasus positif baru.

“Jadi kami ingin ada penguatan 3T (testing, tracing, dan treatment) hingga sekolah. Bisa swab antigen maupun PCR,” katanya kemarin (22/9).

Orang nomor satu di Pemkot Malang itu telah menyiapkan anggaran khusus. Setidaknya Rp 11 miliar bakal digelontorkan untuk dinas kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Namun, dia tak menyebut rincian anggaran untuk swab berkala guru dan pelajar. Sutiaji hanya menjelaskan teknis swab bisa dilakukan ketika ada siswa positif dengan optimalisasi tracing dan testing.

Menurut Sutiaji, PTM yang sudah berjalan selama tiga pekan ini sesuai protokol kesehatan (prokes). Rantai persebaran Covid-19 menurutnya bisa terputus di sekolah. Namun hal itu tentu juga perlu pembiasaan agar pelajar teredukasi bahwa Covid-19 masih terus berlangsung.
“Proses PTM terus berlanjut. Jika nanti ada satu sekolah yang menjadi klaster, jangan panik, apalagi membuat mental siswa harus down lagi,” harap Politikus Partai Demokrat tersebut.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kota Malang Suwarjana SE MM mengatakan, evaluasi PTM yang dilakukan tiga pekan ini sudah berjalan dengan lancar. Pihaknya bakal melakukan evaluasi secara bertahap, sehingga PTM bisa berjalan. Jika ada kebijakan swab berkala, maka pihaknya menunggu instruksi lebih lanjut.

“Kami tetap melakukan komunikasi dengan pihak sekolah supaya selalu berhati-hati. Jangan sampai terjadi klaster. Sudah saya sampaikan sejak awal, jangan memaksa jika tidak ada izin orang tua,” ucapnya.

Mantan Kabag Umum Pemkot Malang itu menambahkan, siswa telah teredukasi dengan maksimal selama PTM. Proses vaksinasi juga terus dipercepat. Sehingga risiko gejala yang dialami jika terpapar tak terlalu buruk. Disdikbud hanya berharap pengawasan dari guru dan orang tua bisa terjalin jika kondisi siswa tidak memungkinkan untuk sekolah tatap muka.

Sebelumnya, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim Perwakilan V Malang Raya Dr dr Harjoedi Adji Tjahjono SpA(K) mengusulkan swab berkala sejak awal tahun lalu. Jauh sebelum PTM dilakukan lagi di Kota Malang. Hal itu tentu sebagai wujud antisipasi penyebaran Covid-19 pada siswa. “Kita bisa belajar dari Australia. Pelajar di sana melakukan swab jika ada temannya ada yang positif (Covid-19),” katanya beberapa waktu yang lalu.

Harjoedi menilai PTM juga harus dilakukan dengan hati-hati. Apalagi dengan berjalannya vaksinasi terhadap pelajar usia 12-17 tahun juga memberikan herd immunity. Dia berharap klaster sekolah tak sampai terjadi. Sehingga pelaksanaan PTM bisa berjalan normal meski dengan adaptasi kebiasaan baru. (adn/dan/rmc)

MALANG KOTA – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang terus mengevaluasi jalannya pembelajaran tatap muka (PTM). Selama tiga pekan berjalan, beberapa poin penting telah didapatkan. Salah satunya dengan rencana melakukan swab rutin kepada guru dan pelajar. Hal itu dilakukan untuk mencegah sebaran virus Covid-19 di sekolah.

Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan, rencana swab berkala tersebut bakal dilakukan secepatnya. Sebab, dia melihat pelaksanaan PTM di sejumlah daerah lain ditemukan siswa terpapar Covid-19. Sebagai langkah antisipasi, kata dia, swab berkala menjadi solusi ketika terjadi kasus positif baru.

“Jadi kami ingin ada penguatan 3T (testing, tracing, dan treatment) hingga sekolah. Bisa swab antigen maupun PCR,” katanya kemarin (22/9).

Orang nomor satu di Pemkot Malang itu telah menyiapkan anggaran khusus. Setidaknya Rp 11 miliar bakal digelontorkan untuk dinas kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Namun, dia tak menyebut rincian anggaran untuk swab berkala guru dan pelajar. Sutiaji hanya menjelaskan teknis swab bisa dilakukan ketika ada siswa positif dengan optimalisasi tracing dan testing.

Menurut Sutiaji, PTM yang sudah berjalan selama tiga pekan ini sesuai protokol kesehatan (prokes). Rantai persebaran Covid-19 menurutnya bisa terputus di sekolah. Namun hal itu tentu juga perlu pembiasaan agar pelajar teredukasi bahwa Covid-19 masih terus berlangsung.
“Proses PTM terus berlanjut. Jika nanti ada satu sekolah yang menjadi klaster, jangan panik, apalagi membuat mental siswa harus down lagi,” harap Politikus Partai Demokrat tersebut.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kota Malang Suwarjana SE MM mengatakan, evaluasi PTM yang dilakukan tiga pekan ini sudah berjalan dengan lancar. Pihaknya bakal melakukan evaluasi secara bertahap, sehingga PTM bisa berjalan. Jika ada kebijakan swab berkala, maka pihaknya menunggu instruksi lebih lanjut.

“Kami tetap melakukan komunikasi dengan pihak sekolah supaya selalu berhati-hati. Jangan sampai terjadi klaster. Sudah saya sampaikan sejak awal, jangan memaksa jika tidak ada izin orang tua,” ucapnya.

Mantan Kabag Umum Pemkot Malang itu menambahkan, siswa telah teredukasi dengan maksimal selama PTM. Proses vaksinasi juga terus dipercepat. Sehingga risiko gejala yang dialami jika terpapar tak terlalu buruk. Disdikbud hanya berharap pengawasan dari guru dan orang tua bisa terjalin jika kondisi siswa tidak memungkinkan untuk sekolah tatap muka.

Sebelumnya, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim Perwakilan V Malang Raya Dr dr Harjoedi Adji Tjahjono SpA(K) mengusulkan swab berkala sejak awal tahun lalu. Jauh sebelum PTM dilakukan lagi di Kota Malang. Hal itu tentu sebagai wujud antisipasi penyebaran Covid-19 pada siswa. “Kita bisa belajar dari Australia. Pelajar di sana melakukan swab jika ada temannya ada yang positif (Covid-19),” katanya beberapa waktu yang lalu.

Harjoedi menilai PTM juga harus dilakukan dengan hati-hati. Apalagi dengan berjalannya vaksinasi terhadap pelajar usia 12-17 tahun juga memberikan herd immunity. Dia berharap klaster sekolah tak sampai terjadi. Sehingga pelaksanaan PTM bisa berjalan normal meski dengan adaptasi kebiasaan baru. (adn/dan/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/