alexametrics
22.3 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Masih Pandemi, Permintaan Kaki Palsu Mulai Naik

MALANG KOTA – Pengusaha pembuatan kaki palsu di Kota Malang sudah mulai lega. Meski pandemi masih melanda, lambat laun usahanya bangkit lagi. Mulai kembali ada pemesan. Tidak seperti di awal pandemi 2020 lalu.

Itu diakui owner Scosialis Andre Styawan Cabang Malang Fajar Bagus Setyawan. Dia menyebut, sebelum adanya pandemi omzet per bulan bisnis pembuatan kaki palsu ini kisaran Rp 20 juta-Rp 100 juta.

Namun, di tengah pandemi ini, dia mengaku, bisnisnya itu sempat down. Tidak ada pesanan dari rumah sakit. Selain itu, dari sisi aktivitas juga terbatas karena ada penyekatan dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

”Kami tidak ada pemasukan sama sekali di awal-awal pandemi,” tambahnya.

Namun, untuk saat ini sudah kembali berangsur pulih kembali. Hanya, dibanding dengan sebelum pandemi, omzet masih jauh di bawah. ”Sudah lumayan karena terbantu penjualan yang lainnya,” ucapnya.

Untuk pembuatan kaki palsu, dia mengatakan, biasanya untuk kisaran harga sangat beragam, dia menyebutkan, mulai dari Rp 3,5 juta sampai dengan puluhan juta rupiah.

”Itu tergantung dari spesifikasi dan bahan yang diinginkan,” ungkapnya.

Contohnya, harga dipengaruhi bahan silikon dan komponen yang dipakai, apakah impor atau lokal. Adapun customer-nya juga dari bermacam-macam. Mulai dari anak-anak hingga dewasa dan itu dari seluruh Indonesia.

”Kami ada cabang di Jakarta, Jawa Tengah, Serang, Banten, dan di Jawa Timur,” bebernya.

Pasiennya mayoritas biasanya membelinya dari website. Kebetulan pihaknya memang memasarkannya secara online. ”Kami juga kerja sama dengan rumah sakit pemerintah ataupun swasta,” bebernya.

Dia menceritakan, pembukaan usaha pencetakan kaki palsu ini mulai dari 2018. Sebelumnya, pihaknya memang mendalami bidang tersebut dan profesi ortotik prostetik.

”Tertarik di bidang ini karena banyak masyarakat Indonesia yang masih belum mengerti tentang kesehatan, khususnya pemanfaatan kaki palsu,” terangnya.

Artinya, memang masih banyak yang membutuhkan bantuan kaki palsu ini. Biasanya ada yang kakinya bermasalah dari bawaan lahir atau karena kecelakaan.

”Kalau yang dari lahir itu dari kalangan anak-anak,” bebernya.

Untuk proses pencetakan kaki palsu, dia menjelaskan, yang pertama mulai diukur dan digips. Setelah itu dibawa ke bengkel untuk dicor. Kemudian dirakit untuk menjadi kaki palsu.

Untuk waktu pemesanannya, dia melanjutkan, prosesnya tidak membutuhkan waktu yang lama. Sekitar 1-2 minggu. ”Tapi menyesuaikan antrean yang ada,” imbuhnya. Yang menjadi kendala selain adanya pandemi, menurut dia lebih kesulitan di SDM-nya. Karena memang harus memiliki keterampilan khusus untuk pembuatan kaki palsu ini.

Sebab, selain kaki palsu, dia menambahkan, pihaknya juga menyediakan alat ortopedi yang lainnya seperti untuk scoliosis, alat bantu untuk patah leher, dan alat bantu untuk penegak badan. (ulf/c1/abm/rmc)

MALANG KOTA – Pengusaha pembuatan kaki palsu di Kota Malang sudah mulai lega. Meski pandemi masih melanda, lambat laun usahanya bangkit lagi. Mulai kembali ada pemesan. Tidak seperti di awal pandemi 2020 lalu.

Itu diakui owner Scosialis Andre Styawan Cabang Malang Fajar Bagus Setyawan. Dia menyebut, sebelum adanya pandemi omzet per bulan bisnis pembuatan kaki palsu ini kisaran Rp 20 juta-Rp 100 juta.

Namun, di tengah pandemi ini, dia mengaku, bisnisnya itu sempat down. Tidak ada pesanan dari rumah sakit. Selain itu, dari sisi aktivitas juga terbatas karena ada penyekatan dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

”Kami tidak ada pemasukan sama sekali di awal-awal pandemi,” tambahnya.

Namun, untuk saat ini sudah kembali berangsur pulih kembali. Hanya, dibanding dengan sebelum pandemi, omzet masih jauh di bawah. ”Sudah lumayan karena terbantu penjualan yang lainnya,” ucapnya.

Untuk pembuatan kaki palsu, dia mengatakan, biasanya untuk kisaran harga sangat beragam, dia menyebutkan, mulai dari Rp 3,5 juta sampai dengan puluhan juta rupiah.

”Itu tergantung dari spesifikasi dan bahan yang diinginkan,” ungkapnya.

Contohnya, harga dipengaruhi bahan silikon dan komponen yang dipakai, apakah impor atau lokal. Adapun customer-nya juga dari bermacam-macam. Mulai dari anak-anak hingga dewasa dan itu dari seluruh Indonesia.

”Kami ada cabang di Jakarta, Jawa Tengah, Serang, Banten, dan di Jawa Timur,” bebernya.

Pasiennya mayoritas biasanya membelinya dari website. Kebetulan pihaknya memang memasarkannya secara online. ”Kami juga kerja sama dengan rumah sakit pemerintah ataupun swasta,” bebernya.

Dia menceritakan, pembukaan usaha pencetakan kaki palsu ini mulai dari 2018. Sebelumnya, pihaknya memang mendalami bidang tersebut dan profesi ortotik prostetik.

”Tertarik di bidang ini karena banyak masyarakat Indonesia yang masih belum mengerti tentang kesehatan, khususnya pemanfaatan kaki palsu,” terangnya.

Artinya, memang masih banyak yang membutuhkan bantuan kaki palsu ini. Biasanya ada yang kakinya bermasalah dari bawaan lahir atau karena kecelakaan.

”Kalau yang dari lahir itu dari kalangan anak-anak,” bebernya.

Untuk proses pencetakan kaki palsu, dia menjelaskan, yang pertama mulai diukur dan digips. Setelah itu dibawa ke bengkel untuk dicor. Kemudian dirakit untuk menjadi kaki palsu.

Untuk waktu pemesanannya, dia melanjutkan, prosesnya tidak membutuhkan waktu yang lama. Sekitar 1-2 minggu. ”Tapi menyesuaikan antrean yang ada,” imbuhnya. Yang menjadi kendala selain adanya pandemi, menurut dia lebih kesulitan di SDM-nya. Karena memang harus memiliki keterampilan khusus untuk pembuatan kaki palsu ini.

Sebab, selain kaki palsu, dia menambahkan, pihaknya juga menyediakan alat ortopedi yang lainnya seperti untuk scoliosis, alat bantu untuk patah leher, dan alat bantu untuk penegak badan. (ulf/c1/abm/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/