alexametrics
21.1 C
Malang
Monday, 15 August 2022

Di Depan Wisudawan STIE Janega, Meutia Hatta Paparkan Modal Sosio Kultural

MALANG KOTA – Prof Dr Meutia Hatta yang pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu hadir dalam wisuda STIE Jaya Negara (Janega) Tamansiswa di Hotel Gajah Mada, hari ini. Dia menyampaikan orasi ilmiahnya tentang faktor non ekonomi dalam pembangunan modal sosio-kultural. Dia mengutip dari Prof Dr Selo Soemardjan seorang sosiolog, bahwa faktor non ekonomi sangat berperan untuk mencapai keberhasilan pembangunan.

“Faktor-faktor itu antara lain sikap malas bangsa, lazy people of Indonesia bukan lagi sebuah mitos tapi kenyataan. Guru besar antropolgi Prof Dr Koentjaraningrat tidak adanya budaya tekun mengakibatkan tumbuhnya budaya “nerabas”,”katanya.

Dia melanjutkan, budaya ini yang tidak membina pengalaman dari bawah. Akibatnya, tidak memperdulikan mutu dan kualitas. Kemudian, Meutia juga menambahkan, hambatan mental juga jadi faktor utamanya. Artinya masalah orientasi budaya yang mengagumi kecemerlangan masa lampau dengan mengabaukan orientasi masa depan.

“Bila itu terjadi akan mengalami kemunduran suatu bangsa dan akan jalan di tempat. Itulah sikap budaya manusia kerdil yang digambarkan oleh Bung Hatta,”ujarnya.

Meutia juga membawa para wisudawan untuk mengenal tokoh hebat dalam cerita fiksi Daniel Degoe yakni Robinson Cruzoe. Tokoh ini biasanya tergambarkan dalam mata pelajaran budi. Dari tokoh ini seseorang akan mulai mengetahui dan belajar mengenai keperkasaan manusia. Artinya, seseorang mulai belajar hebatnya ketika manusia menghadapi tantangan.

“Dia belajar mengenai the survival of the fittest. Dalam artiannya manusia yang fit (sehat, kuat, sakti, mandraguna) saja yang bisa survived mempertahankan kelangsungan hidup. Sebeneranya ini yang saya sebut sebagai modal sosial-kultural dari bangsa yaitu kemampuan untuk kuat,”jelasnya saat orasi ilmiahnya secara offline di wisuda STIE Jaya Negara Tamansiswa.

Sehingga, pengajaran ilmu ekonomi janhan sampai kurang memperhatikan modal sosio kultural. Artinya jangan terpaku oleh modal finansial ekonomi saja. Modal finasial ekonomi ini termasuk tersediannya dana-dana yang berasal dari hutang. Seberapapun menumpuknya tidak akan bisa memantik jalannya pembangunam tanpa disertai modal sosio kultural.

“Yang berupa kreatifitas manusia, kemampuan inovatif manusia, manusia yang beretos kerja tangguh, tidak apatis, memiliki mental tangguh, tidak mudah menyerah, patriotik, nasionalistik dan mampu mengatasi segala unfreedoms untuk memangku the cultural of excellence,”jelas Guru Besar Universitas Indonesia ini.

Sementara itu, Ketua STIE Jaya Negara Tamansiswa, Dr Eny Lestari Widiarni SE MM sangat menyambut baik kehadiran dari Prof Dr Meutia Hatta. Sebab ini pertama kalinnya STIE Jaya Negara Tamansiswa didatangi oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan.

“Hari ini, Prof Dr Meutia Hatta akan memberikan orasi ilmiahnya kepada 214 wisudawan terkait dengan faktor faktor non ekonomi dalam pembangunan modal sosio-kultural,”katanya.

Eny berpesan kepada para wisudawan bahwa akhir perjuangan belum selesai. Para lulusan harus berjuang di dunia dunia kerja dan masyarakat bernegara. Dia menambahkan agar lulusannya membawa nama baik PT dan juga sebagai penerus perjuangan dari pelopor pendidikan yakni Ki Hajar Dewantara.

“Jadi tauladan di lingkungan anda dan masyarakat. Semoga sukses dan berhasil. Perlu diketahui 90 persen lulusan kami telah diterima bekerja. Mereka banyak diterima sebagai ASN, BUMN, mereka menjadi karyawan karyawati swasta dan instansi lain,”ujuarnya.

Eny juga menghimbau agar agar lulusannya menjadi pribadi yang selalu memperjuangkan kejujuran dan kebenaran. Sebab, keberhasilan berpengaruh pada perilaku. Agar nantinya mereka menjadi orang-orang terpilih di tempat mereka bekerja. (Rof)

Pewarta: Rofia
Foto: Rofia

MALANG KOTA – Prof Dr Meutia Hatta yang pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu hadir dalam wisuda STIE Jaya Negara (Janega) Tamansiswa di Hotel Gajah Mada, hari ini. Dia menyampaikan orasi ilmiahnya tentang faktor non ekonomi dalam pembangunan modal sosio-kultural. Dia mengutip dari Prof Dr Selo Soemardjan seorang sosiolog, bahwa faktor non ekonomi sangat berperan untuk mencapai keberhasilan pembangunan.

“Faktor-faktor itu antara lain sikap malas bangsa, lazy people of Indonesia bukan lagi sebuah mitos tapi kenyataan. Guru besar antropolgi Prof Dr Koentjaraningrat tidak adanya budaya tekun mengakibatkan tumbuhnya budaya “nerabas”,”katanya.

Dia melanjutkan, budaya ini yang tidak membina pengalaman dari bawah. Akibatnya, tidak memperdulikan mutu dan kualitas. Kemudian, Meutia juga menambahkan, hambatan mental juga jadi faktor utamanya. Artinya masalah orientasi budaya yang mengagumi kecemerlangan masa lampau dengan mengabaukan orientasi masa depan.

“Bila itu terjadi akan mengalami kemunduran suatu bangsa dan akan jalan di tempat. Itulah sikap budaya manusia kerdil yang digambarkan oleh Bung Hatta,”ujarnya.

Meutia juga membawa para wisudawan untuk mengenal tokoh hebat dalam cerita fiksi Daniel Degoe yakni Robinson Cruzoe. Tokoh ini biasanya tergambarkan dalam mata pelajaran budi. Dari tokoh ini seseorang akan mulai mengetahui dan belajar mengenai keperkasaan manusia. Artinya, seseorang mulai belajar hebatnya ketika manusia menghadapi tantangan.

“Dia belajar mengenai the survival of the fittest. Dalam artiannya manusia yang fit (sehat, kuat, sakti, mandraguna) saja yang bisa survived mempertahankan kelangsungan hidup. Sebeneranya ini yang saya sebut sebagai modal sosial-kultural dari bangsa yaitu kemampuan untuk kuat,”jelasnya saat orasi ilmiahnya secara offline di wisuda STIE Jaya Negara Tamansiswa.

Sehingga, pengajaran ilmu ekonomi janhan sampai kurang memperhatikan modal sosio kultural. Artinya jangan terpaku oleh modal finansial ekonomi saja. Modal finasial ekonomi ini termasuk tersediannya dana-dana yang berasal dari hutang. Seberapapun menumpuknya tidak akan bisa memantik jalannya pembangunam tanpa disertai modal sosio kultural.

“Yang berupa kreatifitas manusia, kemampuan inovatif manusia, manusia yang beretos kerja tangguh, tidak apatis, memiliki mental tangguh, tidak mudah menyerah, patriotik, nasionalistik dan mampu mengatasi segala unfreedoms untuk memangku the cultural of excellence,”jelas Guru Besar Universitas Indonesia ini.

Sementara itu, Ketua STIE Jaya Negara Tamansiswa, Dr Eny Lestari Widiarni SE MM sangat menyambut baik kehadiran dari Prof Dr Meutia Hatta. Sebab ini pertama kalinnya STIE Jaya Negara Tamansiswa didatangi oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan.

“Hari ini, Prof Dr Meutia Hatta akan memberikan orasi ilmiahnya kepada 214 wisudawan terkait dengan faktor faktor non ekonomi dalam pembangunan modal sosio-kultural,”katanya.

Eny berpesan kepada para wisudawan bahwa akhir perjuangan belum selesai. Para lulusan harus berjuang di dunia dunia kerja dan masyarakat bernegara. Dia menambahkan agar lulusannya membawa nama baik PT dan juga sebagai penerus perjuangan dari pelopor pendidikan yakni Ki Hajar Dewantara.

“Jadi tauladan di lingkungan anda dan masyarakat. Semoga sukses dan berhasil. Perlu diketahui 90 persen lulusan kami telah diterima bekerja. Mereka banyak diterima sebagai ASN, BUMN, mereka menjadi karyawan karyawati swasta dan instansi lain,”ujuarnya.

Eny juga menghimbau agar agar lulusannya menjadi pribadi yang selalu memperjuangkan kejujuran dan kebenaran. Sebab, keberhasilan berpengaruh pada perilaku. Agar nantinya mereka menjadi orang-orang terpilih di tempat mereka bekerja. (Rof)

Pewarta: Rofia
Foto: Rofia

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/