alexametrics
22 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Empat Masalah Mahasiswa saat Kuliah Daring, Begini Kata Ahlinya

MALANG KOTA – Beragam masalah muncul sejak diberlakukan kuliah daring (online) yang telah berlangsung setahun lebih. Selain persoalan akademik, sejumlah persoalan lain juga hadapi para mahasiswa hingga bisa menyebabkan mereka mengalamai tekanan hingga bisa berujung stres.

Setidaknya ada empat masalah yang boleh jadi dirasakan para mahasiswa dengan modekl kuliah daring. Yakni masalah akademik, pribadi, keluarga, dan sosial. Hal itu diungkapkan psikolog Universitas Brawijaya (UB) Ari Pratiwi SPsi MPsi. Untuk masalah pribadi, kata dia, muncul cemas dan stres. Karena itu, menurut dia, perlu ada pendampingan kepada mahasiswa. “Memang ini menjadi permasalahan tersendiri bagi mahasiswa, mulai kecemasan hingga stres,” ujar Ari, kemarin (24/8)

Sementara masalah akademik adalah, mahasiswa mengalami kesulitan memahami materi yang disampaikan dosen. Itu bisa terjadi karena beberapa persoalan, di antaranya jaringan internet lemot, sehingga materi yang dipaparkan dosen tidak diterima mahasiswa dengan baik. Apalagi di Indonesia ini tidak semua daerah terjangkau sinyal internet, khususnya pelosok.

Sedangkan terkait masalah keluarga, kata Ari, biasanya dipicu oleh lingkungan keluarga yang tidak mendukung proses perkuliahan secara daring. Misalnya, kondisi rumah sempit, sehingga tidak memungkinkan ada ruang khusus belajar.

Masalah bisa saja muncul jika perekonomian orang tua seret. Misalnya tidak punya pekerjaan akibat PHK di masa pandemi Covid-19 ini, sehingga orang tua tidak bisa membelikan paket data internet untuk anaknya. “Ada juga pola asuh otoriter, keras, dan tradisional sehingga membuat mahasiswa tertekan,” papar Ari.

Terkait faktor sosial, Ari mencontohkan, masalah muncul karena keterbatasan mahasiswa berinteraksi dengan orang lain akibat pembatasan. Bisa akibat PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) atau PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Akibatnya, mahasiswa merasa kesepian dan terisolasi. Hal ini bisa menimbulkan perasaan bosan, sehingga mengganggu proses perkuliahan secara daring.

Ari menjelaskan, untuk membantu permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa, ada beberapa tips yang bisa dilakukan oleh dosen penasihat akademik “Pada intinya, mereka (mahasiswa) hanya ingin didengar. Terkadang dengan kita menjadi pendengar, si mahasiswa yang melakukan konseling bisa menemukan permasalahannya sendiri,” kata Ari.

Bagi mahasiswa junior, kata Ari, dosen penasihat akademik harus mampu menjaga rahasia. Dengan kata lain, memperkuat hubungan remaja dengan menyelami dunia remaja. Seperti update tren remaja terkait bahasa gaul di media sosial (medsos).

“Dosen Pembimbing Akademik diharapkan memiliki pengetahuan diberbagai bidang, terutama masalah pernikahan dan pengasuh,” tuturnya. (rmc/adn/dan)

MALANG KOTA – Beragam masalah muncul sejak diberlakukan kuliah daring (online) yang telah berlangsung setahun lebih. Selain persoalan akademik, sejumlah persoalan lain juga hadapi para mahasiswa hingga bisa menyebabkan mereka mengalamai tekanan hingga bisa berujung stres.

Setidaknya ada empat masalah yang boleh jadi dirasakan para mahasiswa dengan modekl kuliah daring. Yakni masalah akademik, pribadi, keluarga, dan sosial. Hal itu diungkapkan psikolog Universitas Brawijaya (UB) Ari Pratiwi SPsi MPsi. Untuk masalah pribadi, kata dia, muncul cemas dan stres. Karena itu, menurut dia, perlu ada pendampingan kepada mahasiswa. “Memang ini menjadi permasalahan tersendiri bagi mahasiswa, mulai kecemasan hingga stres,” ujar Ari, kemarin (24/8)

Sementara masalah akademik adalah, mahasiswa mengalami kesulitan memahami materi yang disampaikan dosen. Itu bisa terjadi karena beberapa persoalan, di antaranya jaringan internet lemot, sehingga materi yang dipaparkan dosen tidak diterima mahasiswa dengan baik. Apalagi di Indonesia ini tidak semua daerah terjangkau sinyal internet, khususnya pelosok.

Sedangkan terkait masalah keluarga, kata Ari, biasanya dipicu oleh lingkungan keluarga yang tidak mendukung proses perkuliahan secara daring. Misalnya, kondisi rumah sempit, sehingga tidak memungkinkan ada ruang khusus belajar.

Masalah bisa saja muncul jika perekonomian orang tua seret. Misalnya tidak punya pekerjaan akibat PHK di masa pandemi Covid-19 ini, sehingga orang tua tidak bisa membelikan paket data internet untuk anaknya. “Ada juga pola asuh otoriter, keras, dan tradisional sehingga membuat mahasiswa tertekan,” papar Ari.

Terkait faktor sosial, Ari mencontohkan, masalah muncul karena keterbatasan mahasiswa berinteraksi dengan orang lain akibat pembatasan. Bisa akibat PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) atau PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Akibatnya, mahasiswa merasa kesepian dan terisolasi. Hal ini bisa menimbulkan perasaan bosan, sehingga mengganggu proses perkuliahan secara daring.

Ari menjelaskan, untuk membantu permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa, ada beberapa tips yang bisa dilakukan oleh dosen penasihat akademik “Pada intinya, mereka (mahasiswa) hanya ingin didengar. Terkadang dengan kita menjadi pendengar, si mahasiswa yang melakukan konseling bisa menemukan permasalahannya sendiri,” kata Ari.

Bagi mahasiswa junior, kata Ari, dosen penasihat akademik harus mampu menjaga rahasia. Dengan kata lain, memperkuat hubungan remaja dengan menyelami dunia remaja. Seperti update tren remaja terkait bahasa gaul di media sosial (medsos).

“Dosen Pembimbing Akademik diharapkan memiliki pengetahuan diberbagai bidang, terutama masalah pernikahan dan pengasuh,” tuturnya. (rmc/adn/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/