alexametrics
21.1 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

UIN Maliki Malang Ikut Dorong Gerakan Rekonstruksi Pengkajian Islam

MALANG KOTA- Kajian tentang sejarah Islam masih harus lebih banyak diulas. Hal ini penting karena bukti sejarah tentang kisah masa lampau bisa menjadi contoh teladan. Hanya saja, munculnya berbagai versi tentang sejarah Islam memberi tantangan akan pentingnya rekonstruksi kajian sejarah Islam.

Hal itu menjadi pokok bahasan workshop yang digelar Pusat Studi Integrasi Islam dan Sains dan Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Maliki (Maulana Malik Ibrahim) Malang Senin (26/7). Workshop tentang Metode Rekonstruksi Pengkajian Islam itu digelar via Zoom Meeting.

Dua narasumber utama yang dihadirkan adalah Prof Mun’im Sirry Ph D, professor Teologi dan Studi Islam di University of Notre Dome, USA dan Prof Hj. Tutik Hamidah MAg, ahli Ushul Fiqih UIN Maliki Malang. Sementara yang menjadi moderator adalah dosen UIN Maliki Malang yang juga Pembina Studi Islam Masyarakat Muslim Melbourne Australia Mokhmmad Yahya MA PHD.

Dalam paparannya, Prof Mun’im mengatakan perlunya dilakukannya rekonstruksi pengkajian Islam agar tidak terjadi kontradiksi bagi sebagian pihak. Terutama bagi para mahasiswa maupun sarjana yang sedang melakukan penelitian terkait sejarah Islam yang terus berkembang.

“Karena bagi historian maupun pembaca, adanya kontradiksi ini memicu permasalahan. Sebab, yang menjadi pertanyaan, dari sejumlah rujukan buku sejarah Islam yang muncul banyak versi, lantas yang mana yang tergolong lebih akurat,” ujar Prof Mun’im.

Pria yang juga penulis buku ini menyebut, ada kecenderungan penulisan sejarah peradaban Islam juga dipengaruh oleh kekuasaan. Dia lantas mencontohkan buku sejarah karya Ibnu Ishaq yang menuliskan kisah sang Nabi Muhammad SWT. Karena terikat oleh kekhalifaan Abbasiyah, maka isi dari buku tersebut mengalami perubahan dibandingkan pada masa kekhalifaan Ummayah.

Senada dengan hal tersebut Prof Tutik mengatakan bahwa Islam sangat memerlukan kajian secara akademis, sehingga bisa meyakinkan para umat muslim secara universal. Terutama menyangkut kebenaraan tentang peradaban Islam di masa lampau hingga diharapkan hasilnya bisa menghilangkan pandangan skeptis bagi sebagian pihak sekaligus memberi kemudahan bagi para sejarahwan dalam menjalankan tugasnya.

Pewarta : Mega Annisa Ni’mais

MALANG KOTA- Kajian tentang sejarah Islam masih harus lebih banyak diulas. Hal ini penting karena bukti sejarah tentang kisah masa lampau bisa menjadi contoh teladan. Hanya saja, munculnya berbagai versi tentang sejarah Islam memberi tantangan akan pentingnya rekonstruksi kajian sejarah Islam.

Hal itu menjadi pokok bahasan workshop yang digelar Pusat Studi Integrasi Islam dan Sains dan Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Maliki (Maulana Malik Ibrahim) Malang Senin (26/7). Workshop tentang Metode Rekonstruksi Pengkajian Islam itu digelar via Zoom Meeting.

Dua narasumber utama yang dihadirkan adalah Prof Mun’im Sirry Ph D, professor Teologi dan Studi Islam di University of Notre Dome, USA dan Prof Hj. Tutik Hamidah MAg, ahli Ushul Fiqih UIN Maliki Malang. Sementara yang menjadi moderator adalah dosen UIN Maliki Malang yang juga Pembina Studi Islam Masyarakat Muslim Melbourne Australia Mokhmmad Yahya MA PHD.

Dalam paparannya, Prof Mun’im mengatakan perlunya dilakukannya rekonstruksi pengkajian Islam agar tidak terjadi kontradiksi bagi sebagian pihak. Terutama bagi para mahasiswa maupun sarjana yang sedang melakukan penelitian terkait sejarah Islam yang terus berkembang.

“Karena bagi historian maupun pembaca, adanya kontradiksi ini memicu permasalahan. Sebab, yang menjadi pertanyaan, dari sejumlah rujukan buku sejarah Islam yang muncul banyak versi, lantas yang mana yang tergolong lebih akurat,” ujar Prof Mun’im.

Pria yang juga penulis buku ini menyebut, ada kecenderungan penulisan sejarah peradaban Islam juga dipengaruh oleh kekuasaan. Dia lantas mencontohkan buku sejarah karya Ibnu Ishaq yang menuliskan kisah sang Nabi Muhammad SWT. Karena terikat oleh kekhalifaan Abbasiyah, maka isi dari buku tersebut mengalami perubahan dibandingkan pada masa kekhalifaan Ummayah.

Senada dengan hal tersebut Prof Tutik mengatakan bahwa Islam sangat memerlukan kajian secara akademis, sehingga bisa meyakinkan para umat muslim secara universal. Terutama menyangkut kebenaraan tentang peradaban Islam di masa lampau hingga diharapkan hasilnya bisa menghilangkan pandangan skeptis bagi sebagian pihak sekaligus memberi kemudahan bagi para sejarahwan dalam menjalankan tugasnya.

Pewarta : Mega Annisa Ni’mais

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/