alexametrics
24.5 C
Malang
Friday, 20 May 2022

Pemerintah Kota Malang Tetap Izinkan PTM meski Covid-19 Meninggi

MALANG KOTA – Penularan Covid-19 di Kota Malang selama dua pekan terakhir menyita perhatian banyak pihak. Selain menempati posisi terbanyak di Jatim dengan 157 kasus aktif, penyebarannya sudah masuk lingkungan sekolah.Contohnya di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1.Meski demikian, Pemerintah Kota Malang memutuskan untuk tidak menghapus Pertemuan Tatap Muka (PTM) secara keseluruhan.

Hingga kemarin ( 27/1), Wali Kota Malang Sutiaji tetap mengizinkan PTM dengan beberapa syarat. Salah satunya penguatan 3T (testing, tracing, dan treatment) ketika ada satu siswa atau guru terpapar Covid-19.”Kalau ada kasus (penularan Covid-19) jangan ada penutupan sekolah atau kampus. Biarkan kami satgas Covid-19 yang melakukan tracing agar tak menyebar lagi,” kata pria yang juga menjadi Ketua Satgas Covid-19 Kota Malang itu.

Menurut Sutiaji, keputusan untuk tidak memberlakukan kembali pembatasan PTM sudah sejalan dengan progres vaksinasi pelajar. Untuk remaja usia 12-17 tahun sudah 100 persen. Sedangkan vaksinasi anak di bawah 12 tahun masih terus berjalan.Tak hanya itu, swab antigen secara acak dan rutin juga dilakukan pemkot untuk mengantisipasi persebaran Covid-19.

Yang perlu ditekankan, lanjut Sutiaji, para siswa dan mahasiswa yang menjalani PTM perlu pembiasaan mematuhi protokol kesehatan (prokes).Seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mengurangi kerumunan. Tak hanya itu, dia juga tidak ingin PTM tidak menjadi sebuah hal yang menakutkan ketakutan.

”Kita tidak tahu kapan pandemi selesainya. Maka kami dorong sekolah atau kampus menguatkan prokes,” tutur pemilik kursi N1 itu.Jika memang ada permintaan evaluasi dari pemerintah pusat, Sutiaji bakal mengikuti aturan yang ada.Sebab pihaknya tak ingin ada kegaduhan di masyarakat terkait polemik PTM.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Malang dr HusnulMuarif menyebut, per kemarin ada 157 kasus aktif Covid-19. Itu berarti ada penambahan 17 kasus aktif dibanding sebelumnya.Penambahan itu bukan berasal dari klaster sekolah.Melainkan klaster kondangan dan tahlilan yang sempat ditemukan dinkes pada Rabu lalu (26/1).”Kalau sekolah sudah berhenti 37 orang dan beberapa sudah sembuh,” kata Husnul.

Terkait antisipasi munculnya klaster sekolah, dinkes terus melakukan swab ke sejumlah sekolah. Sekolah yang dituju juga acak.Sementara untuk kampus bisa diserahkan ke pihak pengelola.

Husnul enggan berkomentar banyak terkait kemungkinan harus dihentikannya pembelajaran tatap muka (PTM) jika penyebaran Covid-19 di Kota Malang terus meningkat.Sebab, keputusan sebesar itu harus melibatkan Satgas Covid-19 Kota Malang serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang.

”Bahkan untuk jenjang SMA, kami juga harus berkoordinasi dengan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur,” tegas mantan direktur RSUD Kota Malang itu. (adn/adk/fat)

MALANG KOTA – Penularan Covid-19 di Kota Malang selama dua pekan terakhir menyita perhatian banyak pihak. Selain menempati posisi terbanyak di Jatim dengan 157 kasus aktif, penyebarannya sudah masuk lingkungan sekolah.Contohnya di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1.Meski demikian, Pemerintah Kota Malang memutuskan untuk tidak menghapus Pertemuan Tatap Muka (PTM) secara keseluruhan.

Hingga kemarin ( 27/1), Wali Kota Malang Sutiaji tetap mengizinkan PTM dengan beberapa syarat. Salah satunya penguatan 3T (testing, tracing, dan treatment) ketika ada satu siswa atau guru terpapar Covid-19.”Kalau ada kasus (penularan Covid-19) jangan ada penutupan sekolah atau kampus. Biarkan kami satgas Covid-19 yang melakukan tracing agar tak menyebar lagi,” kata pria yang juga menjadi Ketua Satgas Covid-19 Kota Malang itu.

Menurut Sutiaji, keputusan untuk tidak memberlakukan kembali pembatasan PTM sudah sejalan dengan progres vaksinasi pelajar. Untuk remaja usia 12-17 tahun sudah 100 persen. Sedangkan vaksinasi anak di bawah 12 tahun masih terus berjalan.Tak hanya itu, swab antigen secara acak dan rutin juga dilakukan pemkot untuk mengantisipasi persebaran Covid-19.

Yang perlu ditekankan, lanjut Sutiaji, para siswa dan mahasiswa yang menjalani PTM perlu pembiasaan mematuhi protokol kesehatan (prokes).Seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mengurangi kerumunan. Tak hanya itu, dia juga tidak ingin PTM tidak menjadi sebuah hal yang menakutkan ketakutan.

”Kita tidak tahu kapan pandemi selesainya. Maka kami dorong sekolah atau kampus menguatkan prokes,” tutur pemilik kursi N1 itu.Jika memang ada permintaan evaluasi dari pemerintah pusat, Sutiaji bakal mengikuti aturan yang ada.Sebab pihaknya tak ingin ada kegaduhan di masyarakat terkait polemik PTM.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Malang dr HusnulMuarif menyebut, per kemarin ada 157 kasus aktif Covid-19. Itu berarti ada penambahan 17 kasus aktif dibanding sebelumnya.Penambahan itu bukan berasal dari klaster sekolah.Melainkan klaster kondangan dan tahlilan yang sempat ditemukan dinkes pada Rabu lalu (26/1).”Kalau sekolah sudah berhenti 37 orang dan beberapa sudah sembuh,” kata Husnul.

Terkait antisipasi munculnya klaster sekolah, dinkes terus melakukan swab ke sejumlah sekolah. Sekolah yang dituju juga acak.Sementara untuk kampus bisa diserahkan ke pihak pengelola.

Husnul enggan berkomentar banyak terkait kemungkinan harus dihentikannya pembelajaran tatap muka (PTM) jika penyebaran Covid-19 di Kota Malang terus meningkat.Sebab, keputusan sebesar itu harus melibatkan Satgas Covid-19 Kota Malang serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang.

”Bahkan untuk jenjang SMA, kami juga harus berkoordinasi dengan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur,” tegas mantan direktur RSUD Kota Malang itu. (adn/adk/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/