alexametrics
29C
Malang
Monday, 19 April 2021

Setahun Sekolah Daring di Kota Malang, Begini Hasil Evaluasinya

MALANG KOTA – Setahun berlalu, pembelajaran dalam jaringan (daring) telah dilaksanakan. Tepatnya sejak 1 Maret 2019 saat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerapkan kebijakan tersebut karena pandemi Covid-19. Meski telah berlangsung setahun, masih banyak yang harus diperbaiki dalam pembelajaran daring, khususnya di Kota Malang.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kota Malang Suwarjana SE MM mengakui, ada beberapa hal penting yang harus diperbaiki dari pengalaman satu tahun pembelajaran daring. Yang utama menurutnya adalah pendidikan karakter. Karena lamanya tidak bertemu guru, membuat kedisiplinan dan pendidikan karakter siswa sedikit luntur. “Pendidikan karakter juga PR buat saya. Sebab saya amati sekarang ini mulai luntur budi pekertinya. Sekolah sudah berupaya mengatasi masalah ini, namun secara umum masih belum optimal,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya berusaha mengumpulkan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah ( MKKS) dan pengawas untuk mencari formula. “Kami akan membuat kurikulum muatan lokal untuk budi pekerti. Memang risikonya akan menambah jam pelajaran dan guru pulang agak siang,” ujarnya.

Namun dirinya yakin cara ini akan lebih efektif. “Sebab pendidikan karakter dan budi pekerti ini jika disendirikan dalam satu mata pelajaran tersendiri bisa lebih efektif. Kalau selama ini dititipkan di pendidikan agama itu kurang. Jadi nanti kami evaluasi. Semoga nanti tahun 2022 awal sudah bisa kami masukkan,” yakinnya.

Sementara itu, beragam problem dihadapi para guru dalam pembelajaran non tatap muka. Luluk Hesti Dewi salah seorang guru SMPN 9 Kota Malang menceritakan pengalamannya. Selama pandemi, ada saja kendala yang dihadapi. Mulai dari masalah sinyal ponsel, keterbatasan gadget, hingga kedisiplinan siswa yang menurun.

“Kalau ada siswa yang terkendala sinyal, kuota, bahkan ponsel, akhirnya ada solusi dengan mempersilakan mereka untuk datang ke perpustakaan sekolah. Mereka bisa memanfaatkan fasilitas yang ada,” ujar Guru Bahasa Indonesia itu.

Hesti yang juga pustakawan itu mengatakan, siswa yang datang ke sekolah untuk mengerjakan tugas sebenarnya tidak banyak. Mungkin hanya lima hingga belasan anak per harinya. “Ada juga beberapa yang kemari untuk remidi atau susulan. Sebab ketika ujian mereka kehabisan kuota, atau sinyalnya pas jelek,” ujar wanita berkacamata itu.

Selain itu, kendala bagi guru adalah masalah memori ponsel. “Karena kami mengajar tak hanya satu kelas saja. Dan tiap kelasnya ada puluhan siswa. Belum lagi yang mengajar mata pelajaran lain,” ungkapnya. Sehingga ia pun mengakui harus lebih ekstra sabar dalam mengajar selama pandemi.

Pewarta: Errica Vannie

MALANG KOTA – Setahun berlalu, pembelajaran dalam jaringan (daring) telah dilaksanakan. Tepatnya sejak 1 Maret 2019 saat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerapkan kebijakan tersebut karena pandemi Covid-19. Meski telah berlangsung setahun, masih banyak yang harus diperbaiki dalam pembelajaran daring, khususnya di Kota Malang.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kota Malang Suwarjana SE MM mengakui, ada beberapa hal penting yang harus diperbaiki dari pengalaman satu tahun pembelajaran daring. Yang utama menurutnya adalah pendidikan karakter. Karena lamanya tidak bertemu guru, membuat kedisiplinan dan pendidikan karakter siswa sedikit luntur. “Pendidikan karakter juga PR buat saya. Sebab saya amati sekarang ini mulai luntur budi pekertinya. Sekolah sudah berupaya mengatasi masalah ini, namun secara umum masih belum optimal,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya berusaha mengumpulkan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah ( MKKS) dan pengawas untuk mencari formula. “Kami akan membuat kurikulum muatan lokal untuk budi pekerti. Memang risikonya akan menambah jam pelajaran dan guru pulang agak siang,” ujarnya.

Namun dirinya yakin cara ini akan lebih efektif. “Sebab pendidikan karakter dan budi pekerti ini jika disendirikan dalam satu mata pelajaran tersendiri bisa lebih efektif. Kalau selama ini dititipkan di pendidikan agama itu kurang. Jadi nanti kami evaluasi. Semoga nanti tahun 2022 awal sudah bisa kami masukkan,” yakinnya.

Sementara itu, beragam problem dihadapi para guru dalam pembelajaran non tatap muka. Luluk Hesti Dewi salah seorang guru SMPN 9 Kota Malang menceritakan pengalamannya. Selama pandemi, ada saja kendala yang dihadapi. Mulai dari masalah sinyal ponsel, keterbatasan gadget, hingga kedisiplinan siswa yang menurun.

“Kalau ada siswa yang terkendala sinyal, kuota, bahkan ponsel, akhirnya ada solusi dengan mempersilakan mereka untuk datang ke perpustakaan sekolah. Mereka bisa memanfaatkan fasilitas yang ada,” ujar Guru Bahasa Indonesia itu.

Hesti yang juga pustakawan itu mengatakan, siswa yang datang ke sekolah untuk mengerjakan tugas sebenarnya tidak banyak. Mungkin hanya lima hingga belasan anak per harinya. “Ada juga beberapa yang kemari untuk remidi atau susulan. Sebab ketika ujian mereka kehabisan kuota, atau sinyalnya pas jelek,” ujar wanita berkacamata itu.

Selain itu, kendala bagi guru adalah masalah memori ponsel. “Karena kami mengajar tak hanya satu kelas saja. Dan tiap kelasnya ada puluhan siswa. Belum lagi yang mengajar mata pelajaran lain,” ungkapnya. Sehingga ia pun mengakui harus lebih ekstra sabar dalam mengajar selama pandemi.

Pewarta: Errica Vannie

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru