alexametrics
30.7 C
Malang
Wednesday, 25 May 2022

Ana Fauziah, Calon Diplomat, Paling Bangga Saat Wakili Iran

Di dunia diplomasi, Ana Fauziah ini memang patut untuk diperhitungkan. Track record-nya dalam menjuarai kompetisi nasional dan internasional yang berkaitan dengan hubungan antarnegara juga berpidato di depan umum tak bisa dianggap diremehkan.

Energik dan penuh semangat menjadi pembawaan tersendiri dari Ana Fauziah dalam kesehariannya. Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini telah banyak menorehkan prestasi di bidang akademik. Dalam 4 tahun terakhir, dia sudah memboyong pulang sebanyak 28 prestasi. Sebanyak 13 di antaranya dia peroleh dari ajang perlombaan yang berhubungan dengan diplomasi antarnegara.

Antara lain juara I Internasional Diplomacy and Debate and Give The Solution about Issues in the World yang diadakan di Jakarta, lalu ajang Best Intelligence of International Woman Conference yang diadakan oleh United Nation of PBB di Malaysia, Best Delegation WHO International Simulations by CIMSA, serta sejumlah prestasi lainnya.

Kepada Jawa Pos Radar Malang, mahasiswi Fakultas Hukum UMM itu bercerita bahwa dari sekian banyak prestasi yang pernah dia raih, ada satu capaian yang menurutnya paling berkesan hingga sekarang. Yakni, ketika dia mendapatkan predikat Best Honorable Mention Delegate Model United State (MUN) di ajang Bali Internasional MUN pada tahun 2020.

Ana mengatakan, saat itu dia bertindak sebagai diplomasi dari negara Iran. Dengan tema yang ditentukan ”Strengthening the Regulation of Lethal Autonomous Robotic Weaponry (LARW) through Artificial Intelligence” atau Penguatan Regulasi Lethal Autonomous Robotic Weaponry (LARW) melalui Artificial Intelligence.

”Sebagai negara berkembang, saya sampaikan bahwa kami belum bisa menerapkan hal itu. Namun, solusi yang saya bawa yakni dengan cara bekerja sama dengan sejumlah negara maju sehingga, meskipun belum bisa mempunyai sendiri, negara berkembang sudah bisa merasakan manfaatnya,” ucapnya.

Perempuan yang hobi menulis itu menambahkan, ketika menjadi perwakilan negara Iran, banyak peserta lain dari berbagai belahan dunia yang menentang gagasannya. Namun, dia tak gentar dan tetap konsisten dengan ide yang dia bawa. Hingga akhirnya ditemukan solusi bersama antarnegara.

”Setiap negara akhirnya memberikan solusi masing-masing dan bisa diimplementasikan bersama,” tambah wanita kelahiran 8 November 1999 itu.

Meski sudah sering mengikuti lomba bertaraf internasional, baginya ajang Bali Internasional MUN adalah yang paling dia ingat. Sebab, peserta yang ikut berasal dari berbagai belahan negara di dunia.

”Bagi saya yang paling membanggakan adalah menjuarai Model United Nations karena pesertanya dari berbagai negara,” imbuhnya.

Meskipun hanya sebatas perumpamaan, gagasan yang dibawa setiap peserta juga dipertimbangkan oleh penyelenggara kegiatan. Mengingat setiap masukkan juga akan berdampak pada negara yang diwakilinya.

Ana mengaku, di setiap perlombaan dia masih merasa minder dan kurang percaya diri atas kemampuan yang dia miliki. Namun, hal itulah yang selalu berhasil mendorongnya untuk lebih termotivasi dalam menunjukkan kapasitas yang dia miliki.

Selain itu, menurutnya, sekalipun seseorang punya gagasan yang sangat baik, hal itu tak akan bermanfaat jika tak disampaikan dan diterapkan. Sehingga menurutnya, mengikuti sebuah ajang perlombaan tentang hubungan suatu negara bukan melulu hanya mengejar prestasi, namun juga sebagai upaya bagaimana dia bisa bermanfaat bagi banyak orang nantinya.

”Kalau soal jumlah banyaknya ajang kejuaraan yang diperoleh, saya yakin masih sangat banyak yang lebih pintar dan berprestasi dari saya. Sehingga bukan itu yang saya inginkan, tetapi bagaimana ide saya bisa benar-benar diimplementasikan dan bermanfaat bagi banyak orang,” tegasnya.

Di balik semua capaiannya itu ada satu hal yang menjadi dorongan terbesar untuknya agar terus berkarya dan terus berusaha berguna bagi masyarakat adalah motivasi dari orang tuanya. Mahasiswi semester 6 itu mengatakan, sesaat sebelum dia daftar di perguruan tinggi pada tahun 2018 lalu, ayahnya sedang sakit keras sehingga membutuhkan banyak biaya untuk berobat. Meski tekadnya bulat untuk melanjutkan jenjang pendidikannya, waktu itu dia rela jika biaya kuliah yang sudah disisihkan harus terpakai terlebih dahulu untuk pengobatan sang ayah.

”Namun, ternyata takdir berkata lain. Sebelum biayanya terpakai, ayah saya meninggal dunia terlebih dahulu,” ucapnya.

Hal itu tentunya membawa bekas yang mendalam baginya. Di mana biaya kuliahnya sebagai taruhan atas nyawa ayahnya dan juga ingin orang tua bangga dengan kemampuan yang dia miliki.

Tak berhenti di situ, meski dari SD hingga SMA dia selalu menjadi bintang kelas, namun dia masih sering mengalami kegagalan ketika mendaftar di perguruan negeri. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk bergabung di UMM. Keputusannya untuk masuk di perkuliahan di swasta, menimbulkan banyak cibiran dari teman-temannya.

”Kata mereka, jadi selama ini juara kelasmu nggak ada artinya, ya? Sehingga saya banyak dipandang sebelah mata,” terangnya.

Namun, menurutnya, hal itu tak pernah jadi masalah. Menurutnya, di masa ini seharusnya stigma tersebut sudah harus dihilangkan. Karena saat ini juga sudah banyak perguruan tinggi swasta yang setara atau lebih tinggi dari perguruan tinggi negeri.

Namun menurutnya, bukan itu yang seharusnya diperdebatkan. Karena sejatinya, yang paling menentukan berhasil atau tidaknya sebuah pendidikan bukanlah instansi yang menaungi, tetapi peserta didik itu sendiri.

”Di manapun kita belajar, prestasi bisa saja diraih, yang penting kita tekun dan konsisten mempelajari apa yang kita inginkan,” pungkas Ana. (fik/c1/mas/rmc)

Di dunia diplomasi, Ana Fauziah ini memang patut untuk diperhitungkan. Track record-nya dalam menjuarai kompetisi nasional dan internasional yang berkaitan dengan hubungan antarnegara juga berpidato di depan umum tak bisa dianggap diremehkan.

Energik dan penuh semangat menjadi pembawaan tersendiri dari Ana Fauziah dalam kesehariannya. Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini telah banyak menorehkan prestasi di bidang akademik. Dalam 4 tahun terakhir, dia sudah memboyong pulang sebanyak 28 prestasi. Sebanyak 13 di antaranya dia peroleh dari ajang perlombaan yang berhubungan dengan diplomasi antarnegara.

Antara lain juara I Internasional Diplomacy and Debate and Give The Solution about Issues in the World yang diadakan di Jakarta, lalu ajang Best Intelligence of International Woman Conference yang diadakan oleh United Nation of PBB di Malaysia, Best Delegation WHO International Simulations by CIMSA, serta sejumlah prestasi lainnya.

Kepada Jawa Pos Radar Malang, mahasiswi Fakultas Hukum UMM itu bercerita bahwa dari sekian banyak prestasi yang pernah dia raih, ada satu capaian yang menurutnya paling berkesan hingga sekarang. Yakni, ketika dia mendapatkan predikat Best Honorable Mention Delegate Model United State (MUN) di ajang Bali Internasional MUN pada tahun 2020.

Ana mengatakan, saat itu dia bertindak sebagai diplomasi dari negara Iran. Dengan tema yang ditentukan ”Strengthening the Regulation of Lethal Autonomous Robotic Weaponry (LARW) through Artificial Intelligence” atau Penguatan Regulasi Lethal Autonomous Robotic Weaponry (LARW) melalui Artificial Intelligence.

”Sebagai negara berkembang, saya sampaikan bahwa kami belum bisa menerapkan hal itu. Namun, solusi yang saya bawa yakni dengan cara bekerja sama dengan sejumlah negara maju sehingga, meskipun belum bisa mempunyai sendiri, negara berkembang sudah bisa merasakan manfaatnya,” ucapnya.

Perempuan yang hobi menulis itu menambahkan, ketika menjadi perwakilan negara Iran, banyak peserta lain dari berbagai belahan dunia yang menentang gagasannya. Namun, dia tak gentar dan tetap konsisten dengan ide yang dia bawa. Hingga akhirnya ditemukan solusi bersama antarnegara.

”Setiap negara akhirnya memberikan solusi masing-masing dan bisa diimplementasikan bersama,” tambah wanita kelahiran 8 November 1999 itu.

Meski sudah sering mengikuti lomba bertaraf internasional, baginya ajang Bali Internasional MUN adalah yang paling dia ingat. Sebab, peserta yang ikut berasal dari berbagai belahan negara di dunia.

”Bagi saya yang paling membanggakan adalah menjuarai Model United Nations karena pesertanya dari berbagai negara,” imbuhnya.

Meskipun hanya sebatas perumpamaan, gagasan yang dibawa setiap peserta juga dipertimbangkan oleh penyelenggara kegiatan. Mengingat setiap masukkan juga akan berdampak pada negara yang diwakilinya.

Ana mengaku, di setiap perlombaan dia masih merasa minder dan kurang percaya diri atas kemampuan yang dia miliki. Namun, hal itulah yang selalu berhasil mendorongnya untuk lebih termotivasi dalam menunjukkan kapasitas yang dia miliki.

Selain itu, menurutnya, sekalipun seseorang punya gagasan yang sangat baik, hal itu tak akan bermanfaat jika tak disampaikan dan diterapkan. Sehingga menurutnya, mengikuti sebuah ajang perlombaan tentang hubungan suatu negara bukan melulu hanya mengejar prestasi, namun juga sebagai upaya bagaimana dia bisa bermanfaat bagi banyak orang nantinya.

”Kalau soal jumlah banyaknya ajang kejuaraan yang diperoleh, saya yakin masih sangat banyak yang lebih pintar dan berprestasi dari saya. Sehingga bukan itu yang saya inginkan, tetapi bagaimana ide saya bisa benar-benar diimplementasikan dan bermanfaat bagi banyak orang,” tegasnya.

Di balik semua capaiannya itu ada satu hal yang menjadi dorongan terbesar untuknya agar terus berkarya dan terus berusaha berguna bagi masyarakat adalah motivasi dari orang tuanya. Mahasiswi semester 6 itu mengatakan, sesaat sebelum dia daftar di perguruan tinggi pada tahun 2018 lalu, ayahnya sedang sakit keras sehingga membutuhkan banyak biaya untuk berobat. Meski tekadnya bulat untuk melanjutkan jenjang pendidikannya, waktu itu dia rela jika biaya kuliah yang sudah disisihkan harus terpakai terlebih dahulu untuk pengobatan sang ayah.

”Namun, ternyata takdir berkata lain. Sebelum biayanya terpakai, ayah saya meninggal dunia terlebih dahulu,” ucapnya.

Hal itu tentunya membawa bekas yang mendalam baginya. Di mana biaya kuliahnya sebagai taruhan atas nyawa ayahnya dan juga ingin orang tua bangga dengan kemampuan yang dia miliki.

Tak berhenti di situ, meski dari SD hingga SMA dia selalu menjadi bintang kelas, namun dia masih sering mengalami kegagalan ketika mendaftar di perguruan negeri. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk bergabung di UMM. Keputusannya untuk masuk di perkuliahan di swasta, menimbulkan banyak cibiran dari teman-temannya.

”Kata mereka, jadi selama ini juara kelasmu nggak ada artinya, ya? Sehingga saya banyak dipandang sebelah mata,” terangnya.

Namun, menurutnya, hal itu tak pernah jadi masalah. Menurutnya, di masa ini seharusnya stigma tersebut sudah harus dihilangkan. Karena saat ini juga sudah banyak perguruan tinggi swasta yang setara atau lebih tinggi dari perguruan tinggi negeri.

Namun menurutnya, bukan itu yang seharusnya diperdebatkan. Karena sejatinya, yang paling menentukan berhasil atau tidaknya sebuah pendidikan bukanlah instansi yang menaungi, tetapi peserta didik itu sendiri.

”Di manapun kita belajar, prestasi bisa saja diraih, yang penting kita tekun dan konsisten mempelajari apa yang kita inginkan,” pungkas Ana. (fik/c1/mas/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/