alexametrics
27.4 C
Malang
Friday, 1 July 2022

Alumni UMM Beber Perjuangan Menembus Jepang Hingga Bergaji Rp 47 Juta

Doa orang tua dan mental kerja keras-pantang menyerah menjadikan Sabbarudin Subekti AMd, alumnus D3 Keperawatan Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses berkarir di Jepang. Bahkan, saat ini ia bisa mendapatkan gaji Rp 47 juta per bulan. Bagaimana kisah perjuangannya?

:::::::::

Sabbarudin Subekti AMd, alumnus D3 Keperawatan Vokasi UMM pernah gagal beberapa kali dalam meraih mimpi untuk bekerja di Jepang sebagai perawat. Tepatnya pada tahun 2013 lalu, pria asal Ponorogo ini mencoba keberuntungan untuk bekerja di Jepang.

Ia mengikuti tes G to G Japan sebagai kaigo (perawat lansia). Langkah ini diambil, karena untuk menjadi kangoshi (perawat profesional dengan lisensi Jepang), seseorang harus melewati tahapan sebagai kaigo, minimal selama dua tahun.

”Tapi gagal di proses akhir (maching) waktu itu,” kenang alumnus vokasi UMM ini.

Subekti (kiri) saat berdinas di salah satu rumah sakit di Jepang (istimewa)

Singkat cerita, tahun 2014 Subekti mencoba ikut tes kembali, karena sudah genap dua tahun bekerja di Puskesmas. Alhasil, lulus dan menjalani masa pelatihan bahasa selama 6 bulan di P4TK bahasa di Jakarta. Lalu dilanjutkan pelatihan di Osaka, Jepang, selama 6 bulan.

Sehingga, tepat pada 9 Desember 2015 dia bekerja di Jepang sebagai calon perawat di Sangenjaya Hospital. ”karena saya belum punya lisensi keperawatan Jepang waktu itu,” terangnya.

Baca juga :c UMM Buka Peluang Ratusan Lulusan SMK Kerja di Jepang

Baru Februari 2016 dia mengikuti ujian keperawatan di Jepang. Tapi gagal. Nilainya masih 50 persen. Namun, kondisi ini tak membuatnya patah semangat. Terus berjuang. Baru pada tahun 2017 dia ikut tes kembali dan lulus.

”Mungkin berkat doa dan suport orang tua (bisa lulus),” jelas dia.

Hal ini membuat gaji juga turut naik dan saat ini per bulan gajinya mencapai sekitar Rp 47 juta. Jumlah ini termasuk tunjangan anak, istri dan lembur kerja. Karena pada November 2018 lalu, dia menikah dan saat ini sudah dikaruniai seorang anak.

”Saat ini tinggal di Jepang bertiga. Pendidikan di sini gratis sampai 16 tahun,” ungkapnya.

Namun, ada hal yang selalu dirindukan dari Indonesia saat berada di Jepang. Yaitu suara adzan tiap salat lima waktu. Dimana di Jepang ada larangan adzan dengan pengeras karena dinilai mengganggu.

”Selama di sini, saya belum pernah mendengar suara adzan keluar dari bangunan masjid. Katanya mengganggu ketenangan masyarakat sekitar,” ujar dia.

Ke depan, dia tidak menargetkan sampai kapan akan tinggal di Jepang. Namun, selama rejekinya masih di negara samurai ini, dia masih akan tetap menjalani bersama keluarga di negeri sakura tersebut. Salah satu impian yang ingin diwujudkan saat di Jepang adalah berangkat haji.

”Orang asing yang tinggal di Jepang dan punya KTP Jepang bisa berangkat haji tanpa menunggu bertahun-tahun. Bayar langsung berangkat,” jelas dia.

Direktur Direktorat Pendidikan dan Pelatihan Vokasi UMM Dr Tulus Winarsunu, MSi mengaku salut dengan perjuangan Subekti dalam meraih mimpi di Jepang. Ia berharap, kisahnya bisa menjadi motivasi anak-anak Indonesia untuk tak lelah mengejar impian.

“Mudah-mudahan ini akan memberikan motivasi yang lain dalam mengejar impian,” terang pria asal Banyuwangi ini.

Pewarta: Imam N

Doa orang tua dan mental kerja keras-pantang menyerah menjadikan Sabbarudin Subekti AMd, alumnus D3 Keperawatan Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses berkarir di Jepang. Bahkan, saat ini ia bisa mendapatkan gaji Rp 47 juta per bulan. Bagaimana kisah perjuangannya?

:::::::::

Sabbarudin Subekti AMd, alumnus D3 Keperawatan Vokasi UMM pernah gagal beberapa kali dalam meraih mimpi untuk bekerja di Jepang sebagai perawat. Tepatnya pada tahun 2013 lalu, pria asal Ponorogo ini mencoba keberuntungan untuk bekerja di Jepang.

Ia mengikuti tes G to G Japan sebagai kaigo (perawat lansia). Langkah ini diambil, karena untuk menjadi kangoshi (perawat profesional dengan lisensi Jepang), seseorang harus melewati tahapan sebagai kaigo, minimal selama dua tahun.

”Tapi gagal di proses akhir (maching) waktu itu,” kenang alumnus vokasi UMM ini.

Subekti (kiri) saat berdinas di salah satu rumah sakit di Jepang (istimewa)

Singkat cerita, tahun 2014 Subekti mencoba ikut tes kembali, karena sudah genap dua tahun bekerja di Puskesmas. Alhasil, lulus dan menjalani masa pelatihan bahasa selama 6 bulan di P4TK bahasa di Jakarta. Lalu dilanjutkan pelatihan di Osaka, Jepang, selama 6 bulan.

Sehingga, tepat pada 9 Desember 2015 dia bekerja di Jepang sebagai calon perawat di Sangenjaya Hospital. ”karena saya belum punya lisensi keperawatan Jepang waktu itu,” terangnya.

Baca juga :c UMM Buka Peluang Ratusan Lulusan SMK Kerja di Jepang

Baru Februari 2016 dia mengikuti ujian keperawatan di Jepang. Tapi gagal. Nilainya masih 50 persen. Namun, kondisi ini tak membuatnya patah semangat. Terus berjuang. Baru pada tahun 2017 dia ikut tes kembali dan lulus.

”Mungkin berkat doa dan suport orang tua (bisa lulus),” jelas dia.

Hal ini membuat gaji juga turut naik dan saat ini per bulan gajinya mencapai sekitar Rp 47 juta. Jumlah ini termasuk tunjangan anak, istri dan lembur kerja. Karena pada November 2018 lalu, dia menikah dan saat ini sudah dikaruniai seorang anak.

”Saat ini tinggal di Jepang bertiga. Pendidikan di sini gratis sampai 16 tahun,” ungkapnya.

Namun, ada hal yang selalu dirindukan dari Indonesia saat berada di Jepang. Yaitu suara adzan tiap salat lima waktu. Dimana di Jepang ada larangan adzan dengan pengeras karena dinilai mengganggu.

”Selama di sini, saya belum pernah mendengar suara adzan keluar dari bangunan masjid. Katanya mengganggu ketenangan masyarakat sekitar,” ujar dia.

Ke depan, dia tidak menargetkan sampai kapan akan tinggal di Jepang. Namun, selama rejekinya masih di negara samurai ini, dia masih akan tetap menjalani bersama keluarga di negeri sakura tersebut. Salah satu impian yang ingin diwujudkan saat di Jepang adalah berangkat haji.

”Orang asing yang tinggal di Jepang dan punya KTP Jepang bisa berangkat haji tanpa menunggu bertahun-tahun. Bayar langsung berangkat,” jelas dia.

Direktur Direktorat Pendidikan dan Pelatihan Vokasi UMM Dr Tulus Winarsunu, MSi mengaku salut dengan perjuangan Subekti dalam meraih mimpi di Jepang. Ia berharap, kisahnya bisa menjadi motivasi anak-anak Indonesia untuk tak lelah mengejar impian.

“Mudah-mudahan ini akan memberikan motivasi yang lain dalam mengejar impian,” terang pria asal Banyuwangi ini.

Pewarta: Imam N

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/