alexametrics
22.3 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Unisma Gelar Wayang Kebangsaan sebagai Media Dakwah

MALANG KOTA – Unisma telah menggelar Haul dan Manaqib Gus Dur yang dikemas dalam Wayang Kebangsaan, Sabtu (29/1). Selain sebagai peringatan haul Gus Dur ke-12, Tasyakuran Muktamar NU ke-34, juga sebagai peringatan diesnatalis Unisma ke-42, dan Hakki Mars Syubbanal Wathon serta Sholawat.

Acara ini digelar secara luring dengan 200 tamu undangan di Gedung KH Tholchah Hasan dengan protokol kesehatan yang ketat. Dan secara daring disiarkan langsung melalui channel youtube Unisma Malang.

Dalam kesempatan ini, Rektor Unisma Prof Dr H Maskuri MSi mangatakan bahwa Unisma sebagai PTNU terbaik Nasional, selayaknya harus memberikan apresiasi yang luar biasa. Maka apresiasi itu ditunjukkan Unisma melalui pagelaran Wayang Kebangsaan.

“Kita ingat bahwa tersebar luasnya Islam di pulau Jawa dan Indonesia tidak bisa terlepas dari wali songo. Khususnya nya Sunan kalijaga. Berdakwah menggunakan media kesenian termasuk wayang,”jelasnya.

Wayang Kebangsaan yang tampilkan oleh Ki Ardhi Poerbo Antono ini dibumbui dengan pesan-pesan moral cinta tanah air, membangun budaya, membangun peradaban serta pesan menjaga kesehatan di era pandemi. Selain itu Ki Ardhi juga membawakan dakwah melalui konsep islam nusantara.

“Termasuk di era revolusi 4.0 yang menuju ke society 4.0 ini justru nanti akan dimainkan melalui satu atraksi dalang. Ini sekaligus mendukung terhadap pengembangan peradaban dunia sesuai tagline Unisma. Ini juga sebagai sarana berdakwah, di atas keragaman masyarakat,”ungkapnya.

Prof Maskuri juga mengatakan bahwa semangat yang diusung kali ini yakni semangat perubahan. Bagaimana teknologi informasi bukan jadi tujuan utama. Tetapi menjadi instrumen nenuju kemajuan budaya peradaban. Maka peran manusia di dalamnya sangat penting. Bukan malah manusia yang dikendalikan oleh teknologi informasi.

“Maka untuk mendudukkan derajat kemanusiaan ini melalu sebuah dakwah ini. Manusia yabg harus diposisikan sebagai makhluk yg terhormat, jangan sampai manusia terbudak oleh teknologi informasi,”pesan pria yang menjabat sebagai Wakil Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) itu. (Rof)

MALANG KOTA – Unisma telah menggelar Haul dan Manaqib Gus Dur yang dikemas dalam Wayang Kebangsaan, Sabtu (29/1). Selain sebagai peringatan haul Gus Dur ke-12, Tasyakuran Muktamar NU ke-34, juga sebagai peringatan diesnatalis Unisma ke-42, dan Hakki Mars Syubbanal Wathon serta Sholawat.

Acara ini digelar secara luring dengan 200 tamu undangan di Gedung KH Tholchah Hasan dengan protokol kesehatan yang ketat. Dan secara daring disiarkan langsung melalui channel youtube Unisma Malang.

Dalam kesempatan ini, Rektor Unisma Prof Dr H Maskuri MSi mangatakan bahwa Unisma sebagai PTNU terbaik Nasional, selayaknya harus memberikan apresiasi yang luar biasa. Maka apresiasi itu ditunjukkan Unisma melalui pagelaran Wayang Kebangsaan.

“Kita ingat bahwa tersebar luasnya Islam di pulau Jawa dan Indonesia tidak bisa terlepas dari wali songo. Khususnya nya Sunan kalijaga. Berdakwah menggunakan media kesenian termasuk wayang,”jelasnya.

Wayang Kebangsaan yang tampilkan oleh Ki Ardhi Poerbo Antono ini dibumbui dengan pesan-pesan moral cinta tanah air, membangun budaya, membangun peradaban serta pesan menjaga kesehatan di era pandemi. Selain itu Ki Ardhi juga membawakan dakwah melalui konsep islam nusantara.

“Termasuk di era revolusi 4.0 yang menuju ke society 4.0 ini justru nanti akan dimainkan melalui satu atraksi dalang. Ini sekaligus mendukung terhadap pengembangan peradaban dunia sesuai tagline Unisma. Ini juga sebagai sarana berdakwah, di atas keragaman masyarakat,”ungkapnya.

Prof Maskuri juga mengatakan bahwa semangat yang diusung kali ini yakni semangat perubahan. Bagaimana teknologi informasi bukan jadi tujuan utama. Tetapi menjadi instrumen nenuju kemajuan budaya peradaban. Maka peran manusia di dalamnya sangat penting. Bukan malah manusia yang dikendalikan oleh teknologi informasi.

“Maka untuk mendudukkan derajat kemanusiaan ini melalu sebuah dakwah ini. Manusia yabg harus diposisikan sebagai makhluk yg terhormat, jangan sampai manusia terbudak oleh teknologi informasi,”pesan pria yang menjabat sebagai Wakil Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) itu. (Rof)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/