alexametrics
22.4 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Bahas Isu Multikulturalisme dan Inklusivitas Sosial

Gandeng PMPK LP3M UB, KK Wargakarta UB Gelar Seminar Sekolah Keragaman

MALANG KOTA – Gandeng PMPK LP3M UB, Kelompok Kajian (KK) Wargakarta Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) menggelar webinar bertajuk Seminar Pembuka Sekolah Keragaman, Rabu (22/9). Dalam webinar tersebut, dihadirkan empat pakar dalam bidangnya. Di antaranya Prof Myrta Dyah Artaria, Prof Bambang Sugiharto, Prof Yudi Latief, dan Prof Siti Zuhro.

Untuk diketahui, seminar pembuka sekolah keragaman ini merupakan kegiatan yang secara resmi membuka Program Sekolah Keragaman KK Wargakarta. Sekaligus memberi dasar wawasan bagi seluruh peserta mahasiswa tentang isu-isu multikulturalisme dan inklusivitas sosial di Indonesia dari para pakar-pakar berkaliber nasional. Oleh karenanya, keempat narasumber itu mendiskusikan multikulturalitas dalam ranah agama dan budaya, sosial ekonomi dan politik, gender, etnisitas (genetika) dan pendidikan.

Materi pertama pertama diisi Prof Dra Myrta Dyah Artaria dari Universitas Airlangga. Ia membahas multikulturalisme dari sisi etnisitas teristimewa perspektif bio-genetika. Materi itu bertujuan untuk memberi pemahaman bahwa centang perentang keberagaman fisik biologis itu sejatinya adalah realitas keberagaman yang paling nyata dan perlu disadari serta dimengerti lebih awal oleh setiap manusia.

“Dengan materi ini, peserta sekolah keragaman diajak untuk memahami keragaman itu mulai dari kulit paling luar, yakni perbedaan manusia secara ragawi sebelum masuk lebih jauh untuk memahami keragaman ideologis atau cara pandang yang bersifat abstrak. Kesadaran ini akan menjadi dasar bagi peserta sekolah keragaman untuk semakin mengerti bahwa perjumpaan sehari-hari antar individu baik secara pribadi maupun kelompok adalah perjumpaan yang terjalin di atas dasar keragaman yang sangat pelik dan rumit,” jelasnya.

Penyampaian materi kedua tentang multikulturalisme dalam perspektif agama dan budaya disampaikan oleh Prof Dr I Bambang Sugiharto dari Fakultas Filsafat Unpar Bandung. Menurutnya multikulturalisme perlu didudukkan dan dipahami sebagai turunan dan konsekuensi lebih lanjut dari struktur dasar pembentuk makhluk manusia. Agama dan budaya adalah entitas keberagaman lain lagi yang memiliki kerumitan pemahamannya sendiri. Agama dan budaya hidup dan berkembang dalam praktik-praktik hidup masyarakat yang perlu dipahami secara lebih seksama dalam aliran hidup masyarakat itu sendiri.

“Agama dan budaya tidak bisa dimengerti tanpa pengenalan yang mendalam dengan masyarakat. Perbedaan agama dan budaya adalah sebuah keniscayaan yang perlu dipahami betul oleh para perserta program sekolah keragaman. Mereka perlu tahu bahwa konflik agama dan budaya mudah disulut karena keduanya adalah sekaligus bagian diri masyarakat yang paling sensitif,” paparnya.

Sementara itu, Prof Dr Siti Zuhro Peneliti Senior bidang Sosial Politik dari LIPI menyampaikan tentang multikulturalisme dari sisi sosial, ekonomi, politik dan gender tak bisa dipisahkan dari tema sentral keragaman. Sebut saja, keragaman sosial menyinggung soal status sosial masyarakat yang pasti sangat bervariasi dan bertingkat. Hal ini berpengaruh pada cara dan pola serta pandangan hidup masing-masing kelas sosial. Keragaman di bidang ekonomi juga pasti berpengaruh pada berbagai bidang hidup lain. Seperti tingkat dan derajat kehidupan, gaya hidup, cara pandang dan lain-lain.

“Keragaman dalam sisi politik berbicara soal pandangan hidup, kekuasaan dan arah hidup bersama dalam komunitas bangsa ataupun yang lainnya. Keragaman gender menyoal perbedaan kodrat jenis kelamin demi menentukan status dan peran sosial seseorang di dalam hidup bersama. Semua perspektif ini perlu dibuka bagi para peserta sekolah keragaman karena wajah sosial hidup bersama dalam masyarakat dirajut oleh semua aspek tersebut,” ungkapnya.

Diskusi terakhir disampaikan oleh Prof Yudi Latif PhD sebagai mantan Ketua BPIP RI. Ia menerangkan tentang multikulturalisme dalam perspektif Pancasila dan Pendidikan juga tidak boleh luput dari konteks keragaman yang bersifat substansial ini. Pancasila adalah dasar negara Indonesia yang dibangun di atas kesadaran akan realitas keragaman. Materi ini menjadi penting untuk para peserta sekolah keragaman sebagai penguatan akan kuliah pendidikan Pancasila.

“Materi berkaitan dengan keragaman dalam bidang pendidikan juga mendapat porsi dalam seminar ini untuk memberi bekal kepada para peserta program sekolah keragaman bahwa dalam pengelolaan pendidikan ada banyak aspek keragaman yang perlu dipertimbangkan dalam merumuskan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum, materi pembelajaran, dan lain-lain,” tegasnya.

Dengan berbagai topik-topik yang dipaparkan narasumber, peserta program diberi kebebasan untuk menemukan dan mengeksplorasi pengalaman keragamannya dalam Program Sekolah Keragaman. Di samping untuk peserta, seminar ini juga ditujukan ke masyarakat luas. Tujuannya sebagai upaya untuk menggaungkan kembali nilai-nilai multuralisme dan saling torelan antara kelompok untuk kehidupan bangsa Indonesia yang lebih baik. (bin/dik)

Gandeng PMPK LP3M UB, KK Wargakarta UB Gelar Seminar Sekolah Keragaman

MALANG KOTA – Gandeng PMPK LP3M UB, Kelompok Kajian (KK) Wargakarta Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) menggelar webinar bertajuk Seminar Pembuka Sekolah Keragaman, Rabu (22/9). Dalam webinar tersebut, dihadirkan empat pakar dalam bidangnya. Di antaranya Prof Myrta Dyah Artaria, Prof Bambang Sugiharto, Prof Yudi Latief, dan Prof Siti Zuhro.

Untuk diketahui, seminar pembuka sekolah keragaman ini merupakan kegiatan yang secara resmi membuka Program Sekolah Keragaman KK Wargakarta. Sekaligus memberi dasar wawasan bagi seluruh peserta mahasiswa tentang isu-isu multikulturalisme dan inklusivitas sosial di Indonesia dari para pakar-pakar berkaliber nasional. Oleh karenanya, keempat narasumber itu mendiskusikan multikulturalitas dalam ranah agama dan budaya, sosial ekonomi dan politik, gender, etnisitas (genetika) dan pendidikan.

Materi pertama pertama diisi Prof Dra Myrta Dyah Artaria dari Universitas Airlangga. Ia membahas multikulturalisme dari sisi etnisitas teristimewa perspektif bio-genetika. Materi itu bertujuan untuk memberi pemahaman bahwa centang perentang keberagaman fisik biologis itu sejatinya adalah realitas keberagaman yang paling nyata dan perlu disadari serta dimengerti lebih awal oleh setiap manusia.

“Dengan materi ini, peserta sekolah keragaman diajak untuk memahami keragaman itu mulai dari kulit paling luar, yakni perbedaan manusia secara ragawi sebelum masuk lebih jauh untuk memahami keragaman ideologis atau cara pandang yang bersifat abstrak. Kesadaran ini akan menjadi dasar bagi peserta sekolah keragaman untuk semakin mengerti bahwa perjumpaan sehari-hari antar individu baik secara pribadi maupun kelompok adalah perjumpaan yang terjalin di atas dasar keragaman yang sangat pelik dan rumit,” jelasnya.

Penyampaian materi kedua tentang multikulturalisme dalam perspektif agama dan budaya disampaikan oleh Prof Dr I Bambang Sugiharto dari Fakultas Filsafat Unpar Bandung. Menurutnya multikulturalisme perlu didudukkan dan dipahami sebagai turunan dan konsekuensi lebih lanjut dari struktur dasar pembentuk makhluk manusia. Agama dan budaya adalah entitas keberagaman lain lagi yang memiliki kerumitan pemahamannya sendiri. Agama dan budaya hidup dan berkembang dalam praktik-praktik hidup masyarakat yang perlu dipahami secara lebih seksama dalam aliran hidup masyarakat itu sendiri.

“Agama dan budaya tidak bisa dimengerti tanpa pengenalan yang mendalam dengan masyarakat. Perbedaan agama dan budaya adalah sebuah keniscayaan yang perlu dipahami betul oleh para perserta program sekolah keragaman. Mereka perlu tahu bahwa konflik agama dan budaya mudah disulut karena keduanya adalah sekaligus bagian diri masyarakat yang paling sensitif,” paparnya.

Sementara itu, Prof Dr Siti Zuhro Peneliti Senior bidang Sosial Politik dari LIPI menyampaikan tentang multikulturalisme dari sisi sosial, ekonomi, politik dan gender tak bisa dipisahkan dari tema sentral keragaman. Sebut saja, keragaman sosial menyinggung soal status sosial masyarakat yang pasti sangat bervariasi dan bertingkat. Hal ini berpengaruh pada cara dan pola serta pandangan hidup masing-masing kelas sosial. Keragaman di bidang ekonomi juga pasti berpengaruh pada berbagai bidang hidup lain. Seperti tingkat dan derajat kehidupan, gaya hidup, cara pandang dan lain-lain.

“Keragaman dalam sisi politik berbicara soal pandangan hidup, kekuasaan dan arah hidup bersama dalam komunitas bangsa ataupun yang lainnya. Keragaman gender menyoal perbedaan kodrat jenis kelamin demi menentukan status dan peran sosial seseorang di dalam hidup bersama. Semua perspektif ini perlu dibuka bagi para peserta sekolah keragaman karena wajah sosial hidup bersama dalam masyarakat dirajut oleh semua aspek tersebut,” ungkapnya.

Diskusi terakhir disampaikan oleh Prof Yudi Latif PhD sebagai mantan Ketua BPIP RI. Ia menerangkan tentang multikulturalisme dalam perspektif Pancasila dan Pendidikan juga tidak boleh luput dari konteks keragaman yang bersifat substansial ini. Pancasila adalah dasar negara Indonesia yang dibangun di atas kesadaran akan realitas keragaman. Materi ini menjadi penting untuk para peserta sekolah keragaman sebagai penguatan akan kuliah pendidikan Pancasila.

“Materi berkaitan dengan keragaman dalam bidang pendidikan juga mendapat porsi dalam seminar ini untuk memberi bekal kepada para peserta program sekolah keragaman bahwa dalam pengelolaan pendidikan ada banyak aspek keragaman yang perlu dipertimbangkan dalam merumuskan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum, materi pembelajaran, dan lain-lain,” tegasnya.

Dengan berbagai topik-topik yang dipaparkan narasumber, peserta program diberi kebebasan untuk menemukan dan mengeksplorasi pengalaman keragamannya dalam Program Sekolah Keragaman. Di samping untuk peserta, seminar ini juga ditujukan ke masyarakat luas. Tujuannya sebagai upaya untuk menggaungkan kembali nilai-nilai multuralisme dan saling torelan antara kelompok untuk kehidupan bangsa Indonesia yang lebih baik. (bin/dik)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/