alexametrics
22.4 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Konsen Pembelajaran Diferensiasi, Disidik Perbanyak Guru Penggerak

MALANG KOTA –  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdik) Kota Malang memastikan komitmennya untuk terus menyokong para guru, khususnya guru SD dalam mengikuti program guru penggerak.  Karena guru penggerak ini menjadi praktisi pendekatan dalam pembelajaran diferensiasi.

Kepala Disdikbud Kota Malang Suwarjana mengatakan bahwa pembelajaran diferensiasi merupakan pembelajaran yang memberi keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil siswa tersebut. “Nah guru SD ini kami minta agar terus mengembangkan keilmuannya,” ucap pejabat asal Bantul itu. Dikatakan bahwa pembelajaran diferensiasi tidak hanya berfokus pada produk pembelajaran, tapi juga fokus pada proses dan konten atau materi

 

 

Sekarang ini sudah ada 65 orang guru yang telah lulus program hasil inisiasi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Anwar Makarim tersebut. Sementara  130 lainnya masih dalam proses pendidikan dan pendampingan yang berlangsung 9 bulan.

Lewat program guru penggerak, mendikbud ristek berupaya mencetak pemimpin pendidikan di masa depan yang mampu mewujudkan generasi unggul Indonesia. Caranya, lewat pembelajaran holistic yang mendorong terciptanya pembelajaran yang berpusat kepada murid.

Pihaknya terus mendorong para pendidik mengikuti program guru penggerak. Sejak angkatan pertama, saat ini sudah ada 65 orang yang telah menjalankan tugasnya sebagai guru penggerak di Kota Malang. Sementara, masih akan ada tambahan 130 guru penggerak yang saat ini sedang menempuh pendidikan.

Mereka akan bertugas di semua jenjang yakni SD, SMP, SMA/SMK.  “Dari 65 orang yang sudah lulus guru penggerak kami tugaskan untuk menularkan ilmunya kepada guru-guru lainnya,” tambahnya.  Disdikbud juga memfasilitasi para guru penggerak memberikan sharing motivasi dan wawasan. Selain itu, pihaknya juga berupaya meningkatkan jumlah guru penggerak. Bahkan kegiatan tersebut juga didukung anggaran dari APBD Kota Malang lewat Disdikbud.

Sebelumnya, Wali Kota Malang Sutiaji pernah mengatakan, pendekatan pembelajaran diferensiasi harus terus dikembangkan karena dapat mengakomodir kebutuhan belajar siswa. Di mana guru memfasilitasi siswa sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Hal itu karena setiap siswa mempunyai karakteristik yang berbeda sehingga guru tidak bisa memberikan perlakuan yang sama.

Untuk itu, Sutiaji juga berharap para guru penggerak dapat menjalankan tugasnya menggerakkan komunitas belajar guru. Mereka sekaligus menjadi pengajar praktek bagi guru lainnya terkait pengembangan pembelajaran di sekolah. Pemkot Malang akan secara masif mendorong semua guru untuk ikut program tersebut. “Target kami semua guru di Kota Malang tahun 2022 nanti menjadi Guru Penggerak,” pungkas Sutiaji. (adk/nay)

MALANG KOTA –  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdik) Kota Malang memastikan komitmennya untuk terus menyokong para guru, khususnya guru SD dalam mengikuti program guru penggerak.  Karena guru penggerak ini menjadi praktisi pendekatan dalam pembelajaran diferensiasi.

Kepala Disdikbud Kota Malang Suwarjana mengatakan bahwa pembelajaran diferensiasi merupakan pembelajaran yang memberi keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil siswa tersebut. “Nah guru SD ini kami minta agar terus mengembangkan keilmuannya,” ucap pejabat asal Bantul itu. Dikatakan bahwa pembelajaran diferensiasi tidak hanya berfokus pada produk pembelajaran, tapi juga fokus pada proses dan konten atau materi

 

 

Sekarang ini sudah ada 65 orang guru yang telah lulus program hasil inisiasi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Anwar Makarim tersebut. Sementara  130 lainnya masih dalam proses pendidikan dan pendampingan yang berlangsung 9 bulan.

Lewat program guru penggerak, mendikbud ristek berupaya mencetak pemimpin pendidikan di masa depan yang mampu mewujudkan generasi unggul Indonesia. Caranya, lewat pembelajaran holistic yang mendorong terciptanya pembelajaran yang berpusat kepada murid.

Pihaknya terus mendorong para pendidik mengikuti program guru penggerak. Sejak angkatan pertama, saat ini sudah ada 65 orang yang telah menjalankan tugasnya sebagai guru penggerak di Kota Malang. Sementara, masih akan ada tambahan 130 guru penggerak yang saat ini sedang menempuh pendidikan.

Mereka akan bertugas di semua jenjang yakni SD, SMP, SMA/SMK.  “Dari 65 orang yang sudah lulus guru penggerak kami tugaskan untuk menularkan ilmunya kepada guru-guru lainnya,” tambahnya.  Disdikbud juga memfasilitasi para guru penggerak memberikan sharing motivasi dan wawasan. Selain itu, pihaknya juga berupaya meningkatkan jumlah guru penggerak. Bahkan kegiatan tersebut juga didukung anggaran dari APBD Kota Malang lewat Disdikbud.

Sebelumnya, Wali Kota Malang Sutiaji pernah mengatakan, pendekatan pembelajaran diferensiasi harus terus dikembangkan karena dapat mengakomodir kebutuhan belajar siswa. Di mana guru memfasilitasi siswa sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Hal itu karena setiap siswa mempunyai karakteristik yang berbeda sehingga guru tidak bisa memberikan perlakuan yang sama.

Untuk itu, Sutiaji juga berharap para guru penggerak dapat menjalankan tugasnya menggerakkan komunitas belajar guru. Mereka sekaligus menjadi pengajar praktek bagi guru lainnya terkait pengembangan pembelajaran di sekolah. Pemkot Malang akan secara masif mendorong semua guru untuk ikut program tersebut. “Target kami semua guru di Kota Malang tahun 2022 nanti menjadi Guru Penggerak,” pungkas Sutiaji. (adk/nay)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/