Selain akademisi, webinar ini diikuti oleh kepala desa serta lurah se-Jawa Timur dan wilayah perbatasan antar negara, agenda yang disiarkan secara live dari akun YouTube debna_lppm_ub live streaming itu juga menghadirkan keynote speaker para pakar yang berkompeten. Di antaranya MS Koordinator Kelompok Jabatan Fungsional (KKJF) Pengabdian LPPM UB Dr Ir Susinggih Wijana, Direktur PMD Kementerian Desa Tertinggal, Pengabdian Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia M. Fachri SSTP MSi, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jawa Timur Ir Mohammad Yasin MSi, serta opening speech dari Ketua LPPM UB Dr Ir Bambang Susilo MScAgr.
”Di 2020 ini evaluasi Kemendes melalui Indeks Desa Membangun (IDM), desa mandiri di Jatim terjadi peningkatan signifikan. Dari 171 di tahun 2019, meningkat jadi 332 desa di tahun 2020. Ini peningkatan yang luar biasa,” terang Yasin.
Yasin mengatakan, pihaknya siap bekerja sama dengan banyak pihak, termasuk perguruan tinggi soal program pemberdayaan masyarakat dan desa di Provinsi Jawa Timur. Yakni dengan sejumlah tawaran program di antaranya Desa Berdaya, Pemberdayaan BUMDesa, Sinau Nang Deso (Sinando), dan Data Desa Center (DDC).
”Tujuan program Desa Berdaya adalah menumbuhkan inovasi, memunculkan ikon desa yang khas, mengoptimalkan penggunaan penggunaan dana desa, menciptakan praktik keteladanan. Ada reward untuk desa yang berhasil meningkatkan statusnya, kita kasih bantuan Rp 100 juta,” terangnya.
Sedangkan dari UB, Susinggih menerangkan beberapa kegiatan program membangun desa yang bisa difasilitasi oleh LPPM UB yang sesuai dengan Implementasi Kampus Merdeka sudah banyak. Antara lain magang atau praktik industri, proyek di desa, pertukaran pelajar, penelitian/riset, wirausaha, studi/proyek independen, proyek kemanusiaan, dan mengajar di sekolah.
”Konsep desa binaan yang dimiliki LPPM UB di antaranya sebagai media diseminasi iptek temuan dosen UB, media KKN mahasiswa, media penelitian dosen dan mahasiswa, dan sebagai laboratorium lapang UB,” paparnya.
Sedangkan untuk konsep pengembangannya desa binaan (debina), Susinggih menerangkan nantinya akan memiliki karakter unggul. Yakni status IDM meningkat, dokumen RPJMDesa terarah, lembaga BUMDesa kuat dan berkembang, produk unggulan desa kuat, produk binaan tersertifikasi. Lainnya adalah UMKM berbadan hukum, lembaga sosial kemasyarakatan berbadan hukum, kontrak kerja sama dengan UB, dan lainnya sesuai dengan output standar DRPM Kemendikbud.
”LPPM UB juga meluncurkan Seribu Debina UB, untuk meyediakan desa binaan di seluruh Indonesia, khususnya di Provinsi Jatim. Ini ditujukan untuk mendukung aktualisasi para dosen UB dalam kerja pengabdian masyarakat dan sekaligus menyiapkan wahana implementasi kampus merdeka bagi mahasiswa,” katanya.
Sumber daya desa binaan itu, kata Susinggih, kebutuhan pengembangannya terindentifiaksi, aparat desa komunikatif, potensi kelompok masyarakat yang akan diberdayakan, potensi seni, budaya, dan pariwisata yang akan dikembangkan, dan potensi lokal lain yang mempunyai keunggulan menuju ekonomi.
Melalui program Seribu Debina UB, juga diharapkan terbentuk sinergitas dan kolaborasi antara UB dan desa mitra. Dengan diperkuat peran dari pemda, kementerian terkait, BUMN, swasta, program corporate social responsibility (CSR), dan alumni UB. Untuk menunjang keberhasilan model debina, Fachri juga menambahkan sejumlah strategi yang mesti dilakukan, yakni memahami strategi pengembangan desa.
Pewarta: Adela Oki N Editor : Shuvia Rahma