Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

FTP UB Ajak Penyintas Covid-19 Jadi Pendonor Plasma Konvalesen

Shuvia Rahma • Kamis, 31 Desember 2020 | 17:57 WIB
Civitas academica dan tenaga kependidikan (tendik) FTP UB saat menunggu antrean untuk rapid dan swab test di RSUB beberapa waktu lalu. (istimewa)
Civitas academica dan tenaga kependidikan (tendik) FTP UB saat menunggu antrean untuk rapid dan swab test di RSUB beberapa waktu lalu. (istimewa)
MALANG KOTA - Upaya Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya (UB) dalam merangkul penyintas Covid-19 terus dikuatkan. Wakil Dekan II FTP UB Dr Dodyk Pranowo STP MSi mengatakan bahwa hal tersebut bertujuan supaya setelah sembuh, para penyintas Covid-19 itu bersedia menjadi pendonor plasma konvalesen.

”UB mempunyai cita-cita untuk membentuk para penyintas Covid-19 yang sudah terkonfirmasi negatif Covid-19 bisa menjadi pendonor,” katanya.

Di FTP, pihaknya mengharuskan bagi setiap yang terkonfirm positif Covid-19, setelah 14 hari akan dibiayai untuk swab test dengan catatan mereka bersedia menjadi pendonor.

Dari total 9 orang yang terpapar Covid-19 di FTP UB, 3 orang diantaranya yang sudah sembuh telah bersedia untuk menjadi pendonor. ”Itu bisa memotivasi teman-teman yang lain. Nah, sisanya sedang berjuang untuk menjadi negatif Covid-19,” imbuhnya.

Besok (28/12) 2 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 bakal dilakukan swab test. Pada Selasa (29/12) pun bakal dilakukan swab test untuk 2 orang yang terkonfirmasi positif.

”Karena memang di grup kami (FTP Pemantauan Sehat), kami bangun semangat untuk siapa pun yang terkonfirm positif, harus atau punya semangat untuk
menjadi pahlawan bagi teman-teman yang lain,” imbuh Dodyk.

Photo
Photo
Dr Dodyk Pranowo STP MSi
Wakil Dekan II FTP UB

Menurut dia, karena para penyintas Covid-19 juga dibantu teman-teman
penyintas Covid-19 yang sudah sembuh, maka semangat mereka untuk membantu
teman-teman yang lain ketika sudah negatif juga tinggi.

”Ini harus dimunculkan di awal. Makanya kami sangat concern untuk tidak membiarkan teman-teman yang positif Covid-19 berjuang sendiri,” jelasnya.

Dodyk mengatakan, syarat paling utama untuk menjadi pendonor adalah para
penyintas Covid-19 bersedia. ”Kalau kriteria medis, kami serahkan ke ahlinya. Kami tidak bisa apa-apa ketika secara medis tidak bisa dilakukan,” katanya.

Dodyk menuturkan bahwa men-support penyintas Covid-19 yang sudah sembuh
untuk menjadi pendonor merupakan salah satu upaya yang pihaknya lakukan ketika pandemi Covid-19 melanda. Sementara itu, dari sisi pencegahan Covid-19 telah dilakukan tindakan beberapa hal.

”Misalnya, kami sudah secara rutin melakukan disinfektan setiap 2 hari sekali, baik itu ada kejadian maupun tidak ada kejadian,” kata
pria yang juga ketua Satgas Covid-19 FTP UB ini. Kemudian, untuk handling pintu dilakukan sterilisasi dua kali sehari.

”Ketika ada kasus, dilakukan tracing untuk yang kontak erat maupun yang
tidak kontak erat. Yang kontak erat sekali, langsung dilakukan swab test,” katanya.

Sementara itu, untuk yang tidak terlalu intens berkontak dengan penyintas
Covid-19, bakal dilakukan rapid test. ”Setelah melakukan tindakan itu, yang paling penting menurut kami di satgas adalah pemantauannya. Jadi, baik yang rapid test maupun swab test, kami lakukan kebijakan untuk isolasi mandiri selama 14 hari,” jelasnya.

Selama isolasi mandiri itu, pihaknya membuat grup WhatsApp bernamanya FTP Pemantauan Sehat. Di grup itu setiap hari, baik yang melakukan rapid
test maupun swab test, wajib untuk melaporkan perkembangan harian.

”Di grup itu kami juga bisa sharing pengalaman dan kebutuhan penyintas
Covid-19,” tuturnya.

Menurut dia, untuk penanganan Covid-19, yang paling penting adalah kejujuran dari semua lini, baik dari pihaknya sebagai pengelola maupun teman-teman yang lagi dalam kondisi sakit.

”Ada kasus yang kami temui, karena mereka sangat jujur, kasus tidak sampai
rumah sakit. Karena begitu ada gejala, langsung kami tangani,” jelasnya.

Di grup itu, pihaknya juga bekerja sama dengan Klinik UB. ”Mereka yang mensupply kebutuhan kami,” tuturnya.

Pun, civitas academica yang isolasi mandiri di rumah, begitu swab test dan terkonfirm positif, pihaknya menyarankan bekerja sama dengan puskesmas terdekat.

”Di grup itu anggotanya adalah teman-teman yang mempunyai riwayat
pernah rapid test dan swab test. Memang kami bangun dalam rangka untuk membangun psikologi agar tetap tenang,” tutup Dodyk. (ila/c1/dik) Editor : Shuvia Rahma
#ist #JPRM #UB