Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kampus Klaim Lulusan FK Paling Mudah Terserap

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Sabtu, 1 April 2023 | 02:00 WIB
SENIOR : Fakultas Kedokteran UB terhitung lebih lama berdiri ketimbang fakultas kedokteran kampus lain di Malang. (FKUB official Instagram)
SENIOR : Fakultas Kedokteran UB terhitung lebih lama berdiri ketimbang fakultas kedokteran kampus lain di Malang. (FKUB official Instagram)
 

MALANG KOTA – Meskipun setiap tahun bertambah, lulusan fakultas kedokteran (FK) tampaknya tidak perlu khawatir. Peluang mereka dalam mendapatkan pekerjaan masih terbuka lebar.

Terutama pekerjaan yang linier dengan bidang keilmuan. Ini karena lulusan kedokteran tak melulu menjadi dokter.

Fasilitas kesehatan juga terus bermunculan dan membuka lowongan sesuai kebutuhan. Ada empat kampus di Kota Malang yang saat ini memiliki fakultas kedokteran FK.

Yang paling ”senior” adalah Universitas Brawijaya (UB). Selain itu ada Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Islam Malang (Unisma), dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Saat ini juga ada dua perguruan tinggi yang dalam proses mendirikan FK. Meski demikian, jumlah lulusan kedokteran masih dinilai kurang.

Karena itu pemerintah pusat meminta sejumlah perguruan tinggi diminta menambah kuota. Seperti FK UB yang meningkatkan kuota dari 250 menjadi 275 mahasiswa.
Baca Juga : Dua Kampus di Malang Bikin Fakultas Kedokteran.

”Ke depan kami ditarget meningkatkan kuota hingga 300 mahasiswa,” kata Dekan FK UB Dr dr Wisnu Barlianto SpA(K) MSi Med.

Dia menjelaskan, tingkat kelulusan FK UB antara 95 sampai 100 persen. Setelah lulus, banyak di antara mereka yang melanjutkan ke pendidikan spesialis.

Sebagian lulusan juga ada yang menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Kemudian terlibat dalam bidang kesehatan di militer, swasta, membuka praktik mandiri, hingga menjadi dosen.

Hal tersebut dibenarkan Kepala Program Studi (KPS) S1 Kedokteran dr Dearisa Surya Yudhantara SpKJ. Menurutnya, dokter bisa bekerja secara klinik maupun nonklinik sebagai struktural atau manajerial.

Begitu pula secara struktural maupun fungsional pada lembaga atau institusi pemerintah dan swasta. Misalnya saja, BKKBN, BPOM, BNN, dan Basarnas.

”Tidak menutup kemungkinan bagi seorang dokter untuk bisa berperan sebagai entrepreneur dan bidang lain yang mungkin tidak berkaitan dengan dunia medis,” papar Dearisa. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Serupa dengan UB, lulusan FK Unisma diklaim juga terserap dengan baik di berbagai bidang. Namun umumnya di pelayanan primer. Seperti puskesmas, klinik pertama, dan rumah sakit di berbagai daerah.

Dekan FK Unisma dr Rahma Triliana MKes PhD mengatakan, lulusannya kebanyakan berada di sektor pelayanan fungsional. Misalnya dokter jaga, dokter UGD, dan managerial.

”Ada pula yang bekerja pada bidang pengelolaan rumah sakit, melanjutkan pendidikan S2, spesialis, atau yang lain,” terangnya.

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang memiliki FK sejak 2001 sudah meluluskan 1.845 dokter. Mereka kini menyebar di berbagai daerah di Indonesia.

UMM juga mengklaim tingkat keterserapan dalam lapangan pekerjaan nyaris 100 persen. Bahkan banyak rumah sakit yang sudah inden lulusan mereka.

Hal itu diungkapkan Dekan Fakultas Kedokteran (FK) UMM Dr dr Meddy Setiawan SpPD FINASIM. Dia juga mengaku terus berkomitmen meningkatkan kompetensi lulusan.
Baca Juga : RSUD Kanjuruhan Siap Cetak Calon-Calon Dokter Andal di Masa Depan.

Apalagi kini FK UMM tengah mengejar akreditasi unggul. Peningkatan kompetensi itu dilakukan dengan mengembangkan kerja sama bersama sejumlah rumah sakit.

Mulai dari rumah sakit jejaring Amal Usaha Muhammadiyah hingga rumah sakit di luar Muhammadiyah. Yang baru saja dilakukan adalah kerja sama dengan dengan RS Muhammadiyah (RSM) Sumberejo, Bojonegoro.

Kerja sama itu terkait wahana kedokteran industri. Yakni fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan untuk kegiatan praktik mahasiswa.

Ruang lingkup kerja sama itu meliputi kegiatan penyelenggaraan pelaksanaan pendidikan kedokteran untuk memenuhi standar kompetensi dokter Indonesia.

“Selain itu, juga mencakup standar nasional dokter perusahaan serta memenuhi standar keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan,” ungkapnya.

Terkait dengan lulusan dokter spesialis, perguruan tinggi yang memiliki program spesialis baru FK UB saja. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Mereka bekerja sama dengan RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) sebagai rumah sakit pendidikan utama.

”Sejak tahun 1995, kami telah mencetak 1.800 dokter spesialis. Saat ini yang menjalani pendidikan di tempat kami ada sebanyak 689 dokter, tapi setiap tahun jumlahnya fluktuatif,” sebut Komite Koordinator Pendidikan (Komkordik) RSSA dr Badrul Munir SpS(K).

Di tempat lain, Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Malang dr Tri Wahyu Sarwiyata MKes berpendapat bahwa peluang lulusan kedokteran untuk bekerja di rumah sakit masih sangat besar.

Ini bisa dilihat dari kebutuhan berdasar rasio dokter dan penduduk sesuai standar World Health Organization (WHO). Yakni satu dokter untuk 1.000 penduduk (1:1.000).

Menurut Wahyu, pada 2022, jumlah penduduk di Indonesia sekitar 275 juta. Sehingga kebutuhan dokter yang diperlukan sekitar 275 ribu orang.

Namun sampai 2022, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah dokter masih 176,100.
Baca Juga : Kanker Payudara Masih Mendominasi, Ini Kata Dokter tentang Penyebabnya.

"Jadi, Indonesia masih membutuhkan sekitar 100.000 dokter lagi. Apalagi perkembangan rumah sakit saat ini juga cukup pesat,” terang pria yang juga direktur di RSI Unisma itu.

Tak hanya memiliki peluang bekerja di rumah sakit, dokter yang sudah menjalani program internship dan memiliki surat izin praktik mandiri berpeluang bekerja di fasilitas kesehatan tingkat satu.

Misalnya puskesmas, klinik, hingga membuka praktik mandiri. Khusus untuk kebutuhan dokter untuk puskesmas, Kota Malang diklaim sudah terpenuhi.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang Dwi Wiyono. Menurutnya, kebutuhan dokter dari masing-masing faskes biasanya disampaikan melalui aplikasi perencanaan kebutuhan SDMK..

”Untuk standar minimal setiap puskesmas harus memiliki satu sampai dua dokter umum. Di Kota Malang, jumlah nakes saat ini sudah melebihi,” terang Dwi.

Meski demikian, kebutuhan dokter setiap puskesmas menyesuaikan dengan kondisi masing-masing. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Misalnya saja ada puskesmas yang memiliki layanan persalinan seperti Puskesmas Dinoyo. Maka jumlah tenaga kesehatan yang dimiliki lebih banyak. Saat ini, dokter di Puskesmas Dinoyo sudah lebih dari lima.

Selain menyesuaikan layanan, jumlah dokter di puskesmas juga menyesuaikan kondisi penduduk di wilayah kerja puskesmas.

Sebagai contoh di Puskesmas Cisadea hanya membawahi dua kelurahan. Namun ada beberapa puskesmas yang membawahi dua kelurahan atau lebih.

”Tahun kemarin dalam program PPPK kami menerima sebanyak 26 formasi. Tapi itu hanya nakes dan tidak ada dokter. Jadi kebutuhan nakes memang tergantung masing-masing faskes,” imbuhnya.

Meskipun kebutuhan dokter di Kota Malang sudah relatif terpenuhi, peluang masih terbuka di berbagai daerah lain. Seperti halnya Kabupaten Malang yang memiliki lebih banyak faskes dan wilayah yang luas.

”Selain rumah sakit milik pemkab, kami juga membawahi sejumlah puskesmas dan jaringannya. Yakni 94 Puskesmas Pembantu dan 350 Pondok Kesehatan Desa,” ungkap Kepala Dinkes Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo MMKes. (mel/dre/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
##malangkipa ##beritamalang #radarmalang ##wisatamalang ##kulinermalang ##jawaposradarmalang #malang ##mediaonlinemalang #kotamalang ##beritamalanghariini ##mahasiswamalang