MALANG KOTA - Ada yang berbeda dalam pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMA Katolik St Albertus (SMA Dempo) pada Senin (10/7).
Tidak hanya diwarnai dengan apel pagi, setelah pengarahan dan pengenalan guru-guru, para siswa baru disuguhi dengan penampilan barongsai. Yang membuat istimewa, semua pemainnya siswa kelas X dan XI.
Mereka pun nampak terhibur dengan penampilan sederhana tersebut. Apalagi dua barongsai itu memimpin barisan siswa dan masuk ke lingkungan sekolah.
Kepala Sekolah SMA Dempo Br. Antonius Sumardi O.Carm mengungkapkan, pertunjukan barongsai tersebut merupakan bentuk rasa syukur karena tahun ajaran 2023 ini SMA Dempo telah menerima 442 siswa baru.
"Di tengah sekian banyak sekolah mencari murid, kami diberkati oleh Tuhan untuk dipercaya oleh ratusan wali murid," kata dia.
Namun, menurutnya itu juga menjadi tantangan karena beban tanggung jawab bapak ibu guru bertambah. "Katakanlah kami menerima mereka, berarti kami harus bertanggung jawab selama tiga tahun ke depan," lanjutnya.
MPLS tersebut, kata Bruder Mardi-sapaan akrab Br. Antonius Sumardi O.Carm- adalah untuk memperkenalkan budaya sekolah.
Apalagi, sekitar 40 persen siswa baru tersebut berasal dari luar Malang Raya, sehingga perlu penyesuaian cukup lama.
"Karena kalau Malang Raya dari sisi budaya belajar relatif sama, kalau dari luar Jawa kami harus mengarahkan lagi," tambahnya.
Dia berharap para siswa baru mampu menjaga konsistensi semangat belajar, agar harapan mereka datang ke SMA Dempo tidak sia-sia.
Sementara itu, Pembina OSIS SMA Dempo Yosef St. S. Windaryanto menambahkan bahwa MPLS merupakan proses para siswa beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada di SMA Dempo.
Mulai dari kebiasaan ketika masuk sekolah, seragam, hingga proses pembelajaran ke depannya. "Kami rancang MPLS ini dengan menyenangkan, tetap ada tugasnya tapi sederhana, tidak memberatkan," tegasnya.
Sementara untuk penampilan barongsai pada pembukaan tadi, menurut Yosef, menunjukkan bahwa kebudayaan apapun itu dapat dimainkan oleh berbagai suku dan agama.
"Seperti barongsai tadi kalau kita lihat tidak hanya siswa etnis Tionghoa saja yang memainkan," tuturnya. Begitu juga saat memainkan gamelan, tidak hanya orang Jawa saja yang harus bisa, tapi semuanya. (Jprm2/dur/nen)
Editor : Neny Fitrin