Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Meningkat, Mahasiswa di Malang Akses Layanan Konseling Kampus

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Jumat, 17 November 2023 | 22:00 WIB

 

Kampus UMM
Kampus UMM

MALANG KOTA – Setelah pandemi, jumlah mahasiswa yang mengakses layanan konseling kampus meningkat drastis. Di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) misalnya, per tahunnya ada sekitar 800 mahasiswa yang mengakses layanan konseling.

Padahal sebelum pandemi Covid-19, layanan konseling kampus hanya diakses sekitar 200 mahasiswa per tahun. ”Meningkat 400 persen ya,” ungkap Kepala UPT Bimbingan dan Konseling UMM Hudaniah kemarin.

Dia mengatakan, bimbingan dan konseling (BK) UMM tak hanya jaga gawang. Namun, juga melakukan jemput bola. Lebih-lebih saat maraknya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa, pihaknya beberapa kali menangani mahasiswa yang ingin mengakhiri hidup.

Untuk itu, Hudaniah mengaku setiap kali penerimaan mahasiswa baru selalu dilakukan pelacakan kondisi psikologis. Salah satunya melalui penyebaran kuesioner lewat akun mahasiswanya masing-masing.

Hasilnya akan menjadi bahan diskusi dengan para dosen wali. “Kami sampaikan kondisi psikologis masing-masing mahasiswa kepada dosen walinya. Tujuannya agar dosen bisa memberikan treatment yang tepat,” jelasnya.

Hudaniah mengungkap, permasalahan psikologis tak hanya bisa ditangani oleh satu pihak. Namun melibatkan semua pihak secara kolaboratif. Dia menyampaikan, ada beberapa penyebab gangguan psikologis yang dialami mahasiswa. Di antaranya akibat masalah intrapersonal, interpersonal, dan keluarga.

Hudaniah mengatakan, yang paling banyak akibat permasalahan instrapersonal atau bersumber dari dirinya sendiri. ”Misalnya kurang percaya diri (pede), adaptasi dengan lingkungan baru, dan sebagainya,” ungkapnya.

Sementara untuk masalah interpersonal, lanjutnya, kebanyakan akibat konflik dalam relasi pertemanan dan relasi asmara. “Sedangkan yang diakibatkan masalah keluarga kami bedakan sendiri,” ucapnya.

Hudaniah mengatakan, masalah keluarga banyak dilatari akibat perceraian kedua orang tua. Karena itu, layanan konseling yang diberikan kepada mahasiswa bergantung kebutuhan. Selain itu juga gratis. Kecuali bila mahasiswa dirasa perlu untuk dirujuk ke psikiater. “Karena kami belum punya tenaga untuk itu,” tandasnya.

Hal yang sama disampaikan oleh Kepala Pusat Bimbingan Konseling, Karier, dan Kewirausahaan (PBK3) Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LPPP) Universitas Negeri Malang (UM) Dr Hetti Rahmawati SPsi MSi. Dia mengatakan, sepanjang tahun ini sudah 320 mahasiswa. Mayoritas mengonsultasikan terkait permasalahan pribadinya. Mulai dari masalah relasi, baik pertemanan maupun asmara hingga kecemasan dan depresi. “65 persen masalah pribadi,” ucapnya. Sedangkan sisanya terdiri atas pengembangan diri dan bimbingan pengelolaan akademik.

Hetti mengatakan, layanan konseling tidak hanya diberikan secara tatap muka. Namun juga bisa diakses secara online. Hal itu untuk memberikan opsi terbaik layanan yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Namun tak dimungkiri mahasiswa lebih banyak yang memilih layanan offline atau tatap muka. “Sebanyak 70 persen memilih layanan offline,” pungkasnya. (dre/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#konseling #mahasiswa #UMM