SEBELUM ada kata ”Nakam”, arek Malang terlebih dahulu menggunakan kata ”Ciak”. Itu merupakan bahasa khas Malangan, yang diserap kata kerja untuk makan.
Ciak bukan dari bahasa Indonesia maupun Jawa. Kata tersebut biasanya dipakai warga Tionghoa.
Karena enak didengar, kemudian arek Malang mengadaptasinya menjadi bahasa Malangan.
"Ini menunjukkan bahwa Kota Malang menerima semua golongan atau etnis. Tidak hanya menggunakan bahasa Arab, bahasa China pun juga dipakai dalam kehidupan sehari-hari," tutur sejarawan dan pemerhati bahasa Malangan, Restu Respati.
Contoh penggunaan Ciak dalam percakapan sehari-hari sebagai berikut.
"Wes awan, ayo Ciak disek,".
Artinya, sudah siang ayo makan dulu.
"Arek Malang saat itu simpel. Jika enak didengar, akan dipakai sebagai bahasa mereka. Entah itu asalnya dari bahasa asing atau bahasa Jawa," tutur Restu. (adk/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana