Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

8 Cara Menggunakan Bahasa Malangan, Tegaskan Ngomong Walikan Tak Sekadar Dibalik

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Sabtu, 9 Maret 2024 | 01:15 WIB
Kawasan Kayutangan Malang yang kini menjadi Kajoetangan Heritage
Kawasan Kayutangan Malang yang kini menjadi Kajoetangan Heritage

MALANG - Di Malang, dialek Bahasa Malangan yang dikenal sebagai osob kiwalan ngalaman memiliki ciri khas tanpa aturan yang baku.

Dialek bahasa Malangan berbeda dengan boso walikan yang mungkin ada di daerah lain.

Osob kiwalan ngalaman memiliki keunikannya sendiri dalam membalikkan kata-kata, tidak sekadarnya.

Selain itu, dialek slang osob kiwalan ngalaman merupakan gabungan bahasa Jawa, Madura, Indonesia, serta bahasa Arab dan China yang telah diadaptasi secara alami.

Sehingga, kosakata yang digunakan merupakan kesepakatan dari komunitas masyarakat Malang pada saat itu.

Wildhan Ichzha Maulana, Farida Dwitya Aninda, Sudrajat dan Amirul Syafiq dari universitas Negeri Yogyakarta membuat penelitian soal ini.

Judulnya, “Osob Kiwalan Ngalaman”: Mengulik penggunaan bahasa slang sebagai identitas lokal masyarakat Malang, Jawa Timur.

Berdasarkan penelitian itu, ada delapan cara penggunaan osob kiwalan ngalaman.

Pertama, dengan membalikkan fonem langsung.

Yaitu dengan mengubah posisi huruf-huruf dalam kata tanpa mengubah urutan atau bentuk katanya.

Misalnya, kata suwun (terima kasih) menjadi nuwus.

Kedua, pembalikan fonem yang disertai dengan pelepasan adalah teknik membalik kata diikuti dengan penghilangan huruf-huruf tertentu pada kata tersebut.

Misalnya, kata polisi yang dilafalkan sebagai pulisi dalam bahasa Jawa dialek Malangan, menjadi isilup.

Karena terasa kurang nyaman dilafalkan, huruf 'i' dihilangkan, menjadi silup.

Ketiga, pembalikan fonem tanpa mengubah posisi 2 konsonan bergandengan.

Contoh, kata sembarang, jika memakai pembalikan fonem secara kaku, akan jadi gnarabmes.

Tetapi, pembalikan fonem bisa tanpa mengubah 2 konsonan.

Sembarang, jika memakai bahasa walikan menjadi ngarambes.

Keempat, pembalikan disertai penambahan fonem.

Yaitu membalik suatu kata serta diberikan tambahan huruf.

Contoh, kata luwe yang artinya lapar, dibalik menjadi ewul.

Baca Juga: Tidak Asal Dibalik, Ini Istilah Arek Malang Menyebut Kata Ganti Mertua, Bukan Autrem apalagi Outorom

Namun, dalam bahasa Malangan, ada tambahan konsonan h, sehingga ewul menjadi hewul.

Kelima, pembalikan fonem disertai modifikasi purposif.

Yaitu pembalikan kata dirasa sulit serta tidak pas untuk diucapkan, maka dibutuhkan pembalikan huruf yang disertai dengan modifikasi secara purposif.

Contoh, kata mlebu yang berarti masuk, dibalik menjadi ubelm.

Karena tidak terdengar enak di telinga, kata ini berubah sebagai ublem yang lebih nyaman.

Keenam, pembalikan fonem disertai perubahan bunyi.  

Kata bayar apabila dibalik menjadi rayab merupakan bentuk slang tertulis.

Kemudian untuk slang lisannya terdapat perubahan huruf akhir yang semula 'b' menjadi 'p', sehingga dibaca rayap (bayar).

Ketujuh, pemendekan kata atau yang disebut abrevasi.

Yaitu pemenggalan 1 hingga beberapa bagian konsonan menjadi bentuk baru.

Contohnya, Sukarno Hatta menjadi Suhat.

Terakhir, kedelapan, selain pembalikan kata, terdapat pula serapan bahasa asing.

Contoh kata ebes yang mengakar dari kata abah dalam bahasa Arab yang artinya ayah.

Kemudian kata memes yang mengakar dari kata mammie atau mamma dalam bahasa Belanda yang artinya ibu.(fin)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#ngalaman #osob kiwalan #bahasa malangan