MALANG KOTA - Setelah resmi ditetapkan sebagai muatan lokal (mulok) di jenjang SD, Kota Malang masih kekurangan guru Bahasa Inggris.
Berdasar data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), kekurangannya mencapai 142 guru. Sebagai informasi, ada 195 SD negeri dan 90 SD swasta di Kota Malang.
Namun, sekolah swasta diperkenankan untuk merekrut guru secara mandiri.
Sementara, sekolah negeri tidak bisa mengangkat Guru Tidak Tetap (GTT).
”Kami masih punya 53 formasi guru kelas yang mengajar Bahasa Inggris di SD negeri,” terang Kepala Bidang (Kabid) Ketenagaan Disdikbud Kota Malang Tujuwarno.
Jumlah itu masih jauh dari kata ideal untuk mengajar.
Sebab, dia menyebut, satu guru Bahasa Inggris akan mengajar enam rombel di setiap sekolah.
Sehingga, idealnya per sekolah memiliki satu guru.
Saat ini, Disdikbud masih menunggu formasi pengangkatan guru dari Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Namun, usulan formasi PPPK guru Bahasa Inggris tahun ini belum ada.
Itu karena perumusan jumlah usulan digarap tahun sebelumnya.
Sehingga, formasi guru Bahasa Inggris belum menjadi skala prioritas usulan saat itu.
Kendati begitu, kekurangan guru tersebut akan dirangkap oleh guru ekstrakurikuler Bahasa Inggris di masingmasing sekolah.
Namun, Tuju menyebut bila tak semua sekolah memiliki guru ekstrakurikuler.
Solusinya, pengajar Bahasa Inggris akan dibebankan kepada salah satu guru yang dirasa mampu mengajar.
Dia mengatakan, kurikulum mulok Bahasa Inggris tak begitu sulit.
Sehingga, masih memungkinkan untuk dirangkap oleh guru kelas, meskipun bukan lulusan Bahasa Inggris.
Pria asal Karangbesuki itu menambahkan, formasi guru Bahasa Inggris akan segera diusulkan dalam formasi PPPK yang akan datang.
Dia belum bisa menyebut pasti kapan itu akan direalisasikan.
”Kami pasti akan mendata sekolah mana yang tak punya guru, itu kami prioritaskan untuk diusulkan,” jelas pejabat eselon IIIB Pemkot Malang itu.
Terpisah, Kepala SD Negeri Sumbersari 3 Juwita Emlina Putri tak khawatir dengan penerapan mulok Bahasa Inggris tahun ini.
Pasalnya, pihaknya telah memiliki satu guru ekstrakurikuler Bahasa Inggris.
Sehingga, guru tersebut langsung ditugaskan untuk mengajar.
”Kebetulan kami tidak ada guru kelas lulusan Bahasa Inggris, jadi kami berdayakan guru ekstrakurikuler,” ujarnya.
Juwita mengaku pihaknya tak akan menambah guru Bahasa Inggris lagi.
Sebab, sekolahnya hanya memiliki satu rombel di masing-masing kelas.
Sehingga, guru tersebut dirasa sudah cukup untuk mengajar di seluruh kelas. (ori/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana