Infografik Fakta Angka Putus Sekolah di Kota Malang.
Alasannya karena Terkendala Ekonomi hingga Menikah
MALANG KOTA - Angka putus sekolah di Kota Malang masih tergolong tinggi.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat ada 192 siswa jenjang SMP memilih tak melanjutkan studi ke SMA/SMK.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Tri Oky Rudianto Prastijo mengungkapkan, laporan itu benar adanya.
Baca Juga: Mujiono Siapkan Program untuk Tekan Angka Putus Sekolah
Bahkan pihaknya menerima aduan dari beberapa sekolah.
”Paling tidak ada 5 hingga 10 anak per sekolah yang melaporkan pada kami,” terangnya.
Oky menyebut, data tahun sebelumnya angka putus sekolah sempat berhasil ditekan.
Itu terbukti dari data yang dihimpun BPS Kota Malang melaporkan nihil putus sekolah pada 2022.
Namun, pada 2023, angka tersebut muncul kembali.
Pria asal Jawa Tengah itu mengatakan, ada beberapa faktor mengapa pelajar memilih untuk tidak melanjutkan sekolah (selengkapnya baca grafis).
”Kalau terkendala biaya, kami sudah berikan fasilitas sekolah gratis maupun beasiswa,” kata mantan Sekretaris Satpol PP Kota Malang itu.
Sehingga, dirinya tak yakin ada pelajar yang tak sekolah karena terkendala biaya.
Terlebih adanya jalur afirmasi pada jenjang SMP juga disediakan kuotanya setiap tahun.
Oky mengungkapkan, alasan putus sekolah kemungkinan besar tak hanya timbul dari siswa.
Itu karena orang tua yang juga masih mengentengkan pendidikan.
Sehingga, meminta anaknya untuk tak melanjutkan sekolah.
Disdikbud mengimbau kepada masyarakat untuk turut menekan angka putus sekolah kembali nihil.
Sebab, orang tua memiliki peran aktif untuk mengarahkan anaknya.
Baca Juga: Pemkot Malang Luncurkan Aplikasi Pengawasan Siswa
”Kami juga sering lakukan sosialisasi mengenai pentingnya pendidikan, harapannya juga mengubah mindset orang tua yang salah,” imbuhnya.
Di tempat lain, Kepala SMP Islam Ulul Albab Siti Mutaminatun Ula turut membenarkan masih adanya angka putus sekolah.
Di sekolahnya, tahun lalu ada dua siswanya yang memutuskan untuk berhenti karena dinikahkan.
”Padahal dia sudah kelas 9, saya menyayangkan itu,” ujarnya.
Ula menyebut, beberapa orang tua di sekitar sekolahnya kurang melek akan pentingnya pendidikan.
Bahkan, kadangkala anaknya sering absen sekolah karena harus bekerja dahulu pagi harinya.
Sementara, upaya sosialisasi terus dilakukan.
Meskipun membuahkan hasil untuk mengurangi angka putus sekolah.
Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi D DPRD Kota Malang Suryadi meminta Disdikbud tak hanya menghitung jumlah angka putus sekolah.
Namun, juga perlu memetakan penyebab siswa berhenti sekolah.
Sehingga, dari alasan itu dapat dilakukan evaluasi.
”Kalau tahu alasannya, solusinya juga bisa segera ditemukan,” ujarnya.
Kemungkinan anak putus sekolah karena finansial perlu dikaji ulang.
Barangkali pemberian beasiswa yang tidak tepat sasaran.
Baca Juga: Kemendikbudristek Resmi Hapus Jurusan di SMA: Mapel Ilmu Alam Paling Diminati Siswa
Sehingga, perlu adanya komunikasi dengan orang tua terkait memutuskan untuk tak melanjutkan pendidikan.
Apabila pelajar tersebut berhenti sekolah karena bekerja, dirinya mendorong agar siswa tersebut tetap sekolah di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). (ori/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana