KARANGPLOSO – Berbagai keluhan terkait keberadaan wartawan gadungan diungkap para kepala sekolah (Kasek) SMA/SMK seKabupaten Malang.
Mulai melontarkan tuduhan, intimidasi, hingga pemerasan.
Hal itu terungkap dalam forum edukasi media Jawa Pos Radar Malang bersama kepala SMA/SMK se-Kabupaten Malang, kemarin (4/9).
Acara yang digelar di Shanaya Resort Malang, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang diikuti 78 kasek, baik sekolah negeri maupun swasta.
”Mereka itu datang tidak terduga dan suka nggedak-gedak (membentak),” keluh Kepala SMAN 1 Tumpang Fadillah Umi Maisyaroh dalam sesi tanya jawab bersama Direktur Jawa Pos Radar Malang Tauhid Wijaya.
Keluhan serupa juga disampaikan Kepala SMKN 1 Gedangan Ainun Huda.
Dia mengaku pernah diberitakan miring oleh wartawan gadungan, tapi tidak dimintai konfirmasi.
”Dalam pemberitaannya itu menggunakan kata ”diduga” dan sumber beritanya disamarkan,” keluh Kasek yang sebelumnya berdinas di Lumajang itu.
”Yang seperti itu apakah bisa dilaporkan ke dewan pers,” tambahnya.
Menanggapi berbagai pertanyaan yang dilontarkan para Kasek, Direktur Jawa Pos Radar Malang Tauhid Wijaya menyampaikan prosedur yang harus dijalani wartawan dalam melakukan kerja jurnalistik.
Menurut dia, masalah yang dialami para kasek tersebut tidak akan pernah dilakukan oleh wartawan sungguhan.
Sebab, dia melanjutkan, wartawan sudah dibekali pengetahuan dan terikat kode etik.
”Salah satunya adalah menghargai narasumber,” terang Tauhid di hadapan puluhan Kasek SMA/SMK tersebut.
”Kalau dia (wartawan) datang juga akan memperkenalkan diri selayaknya bertamu,” tambahnya.
Ciri lain wartawan sungguhan adalah, dia melanjutkan, tulisan enak dibaca.
Dalam melakukan kerja jurnalistik juga tidak boleh tendensius. Karena itu, dia mengatakan, bagi para Kasek yang mengalami pemerasan, dia mempersilakan untuk melapor ke polisi.
”Kalau bapak ibu mau melaporkan, kami akan mengapresiasi, bahkan siap memberitakan,” katanya.
”Terkadang, bapak ibu yang mengalami hal itu wegah dengan prosesnya jika melapor (ke polisi),” tambahnya.
Sementara pemateri lain, Redaktur Jawa Pos Radar Malang Mahmudan menyampaikan kiat-kiat mengidentifikasi wartawan gadungan.
Salah satunya, mereka menggunakan nama media yang menyerupai media besar.
”Kami sering dihubungi narasumber, katanya didatangi wartawan Radar,” katanya.
”Tapi setelah dicek, dia bukan Radar Malang,” kata Mahmudan.
Sedangkan dalam sambutan pembukaan acara, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur wilayah Kabupaten Malang-Batu Ema Sumiarti mengatakan, pihaknya sering menerima keluhan dari pihak sekolah. Tidak sedikit Kasek yang bingung saat diberitakan wartawan gadungan.
Beberapa di antara mereka juga mendapat surat ancaman, baik dari wartawan gadungan maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
”Kalau bapak ibu dapat ”surat cinta” tidak usah takut. Laporkan ke kami,” kata Ema saat membuka acara. (biy/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana