JARAK rumah Subhan dengan MI Miftahul Huda terbilang sangat dekat.
Hanya sekitar 50 meter.
Itu sebabnya dia masih sering berjumpa dengan murid-muridnya yang berangkat maupun pulang sekolah.
Tak jarang para murid itu berteriak memanggil Subhan.
Sekaligus menanyakan kapan guru kesenian itu mengajar kembali.
Kegamangan selalu menyelimuti perasaan Subhan tiap kali mendengar teriakan dan panggilan muridmuridnya.
Dalam hati dia masih berhasrat untuk kembali mengajar di sekolah.
Namun, masalah pemukulan pada murid yang sedang dia hadapi masih menahan pergerakannya.
Pemukulan itu terjadi pada 24 Agustus 2024.
Saat itu, Subhan sedang mengajar mata pelajaran seni budaya keterampilan (SBK).
Versi Subhan, salah satu murid berinisial APA, 11, ribut sejak kelas dimulai.
APA berkelahi dengan salah satu temannya.
Pagi itu Subhan masih bisa menahan emosi.
Tapi APA tetap membuat gaduh pada siang hari.
Bahkan bocah itu berlari lari di dalam kelas meski pelajaran sedang berlangsung.
Tiga kali diingatkan, APA tak kunjung duduk.
Baru setelah diingatkan untuk kali ke empat, APA akhirnya duduk.
Tapi masih berisik. Puncaknya ketika APA kembali diingatkan untuk diam.
Murid itu melontarkan kata kata tidak pantas pada Subhan (misuh).
”Mungkin karena sudah menahan emosi dari pagi, jadi saya kelepasan memukul dia,” ujar Subhan saat ditemui di rumahnya.
Bapak dua anak itu mengaku sudah lama berusaha menahan emosi atas perilaku APA.
Terhitung sejak Subhan mengajar pada Juli hingga akhir Agustus, APA sudah berkata tidak pantas tiga kali kepadanya.
Dia tidak tahu alasan sang murid melontarkan katakata seperti itu.
Kepada Jawa Pos Radar Malang, Subhan juga menunjukkan sebuah kertas dari buku gambar yang sudah disobek.
Kertas itu berisi gambar kaligrafi karya APA.
Di samping gambar tersebut terdapat angka 65 berwarna merah, tanda nilai dari Subhan.
Saat dibalik, di kertas yang sudah robek separo itu terdapat tulisan nama Subhan yang digabung dengan umpatan.
Setelah kasus pemukulan itu, Subhan langsung berusaha meminta maaf.
Sejak siang hingga malam dia tiga kali ke rumah APA.
Ibu APA berkata memaafkan, tapi proses hukum tetap berlanjut.
Kasus itu juga sudah telanjur menyebar di media sosial versi keluarga korban.
Menyebabkan Subhan mendapat gunjingan dari tetangga.
Akhirnya, Subhan diberhentikan sementara oleh pihak sekolah terhitung sejak 27 Agustus.
Baca Juga: Abdul Mu'ti Ingin Guru Fokus Mengajar, Beban Administrasi Guru Akan Dihapus Mulai 2025
”Sampai sekarang saya tidak bisa kerja karena tidak tenang dan harus mengurus mediasi,” ujar Subhan.
Selama empat bulan terakhir, Subhan kesulitan untuk mendapatkan pemasukan sehari-hari.
Biaya hidup untuk istri dan dua anaknya dia caricarikan dengan serabutan.
Termasuk mengurus sawah milik ibunya yang sedang sakit stroke ringan.
Sejak lulus dari Fakultas Tarbiyah di STIT Ibnu Sina pada 2013 lalu, Subhan memang sering memilih bekerja serabutan.
Seperti berjualan di pasar atau menjadi petani.
Bahkan dia pernah menjadi kuli di Jakarta.
Baru pada akhir 2023 lalu dia pulang dari Jakarta.
Kemudian Subhan mendapat tawaran mengajar dari MI Miftakhul Huda.
Kebetulan sekolah itu sedang kekurangan tenaga pengajar.
Apalagi ayah Subhan dulu juga seorang guru.
Sejak kasus pemukulan itu ditangani polisi, Subhan bimbang untuk menerima tawaran pekerjaan.
Contohnya bulan lalu, ketika dia diberi tawaran menjaga mesin di sebuah pabrik.
Subhan menolak karena masih harus mengurusi laporan pidana yang menjerat dirinya.
”Saya ingin masalah ini selesai dulu, secepatnya,” kata Subhan.
Karena itu pula, dia pernah menanyakan apakah pihak orang tua APA ingin uang kompensasi atas kasus tersebut.
Untuk biaya pengobatan luka luar APA, dia berjanji akan mengupayakannya.
Tapi, kalau untuk pengobatan mental seperti yang sering dibahas keluarga korban, Subhan mengaku tidak sanggup.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya saja, Subhan saat ini masih kebingungan.
Belum lagi ketika harus bolakbalik memenuhi panggilan polisi untuk pemeriksaan.
”Terus terang saya butuh kepastian agar bisa segera mencari pekerjaan lagi,” harapnya.
Upaya mediasi sebenarnya sudah dilakukan dengan bantuan sejumlah pihak.
Misalnya pihak sekolah, desa, hingga Nahdlatul Ulama.
Tapi sampai sekarang belum ada titik temu.
Sebenarnya Subhan masih ingin mengajar karena pekerjaan itu sudah menjadi panggilan hatinya.
Apalagi kalau melihat muridmurid yang setiap lagi lewat di depan rumahnya dan bertanya kapan Subhan kembali mengajar.
”Rasanya tidak tega kalau harus meninggalkan mereka. Saya sudah anggap mereka anak saya sendiri,” pungkasnya. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana