MALANG – Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) menjadi tuan rumah Seminar dan Rapat Kerja Nasional Forum Perguruan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) kemarin (6/2).
Acara yang berlangsung dua hari, 67 Februari 2025 diikuti sekitar 200 peserta.
Mereka adalah perwakilan dari pimpinan perguruan tinggi dan perwakilan sekolah vokasi se-Indonesia.
Acara bertajuk ”Akselerasi Inovasi yang Inklusif dan Berkelanjutan Menuju Pendidikan Tinggi Vokasi yang Berdaya Saing Global”, membahas strategi pengembangan pendidikan vokasi agar lebih selaras dengan dunia industry.
”Harapannya, UB bisa menja di salah satu pusat perkem bangan vokasi dan inspirator bagi pendidikan tinggi vokasi di Indonesia,” ujar Rektor UB Prof Widodo PhD di sela acara.
”Alhamdulillah, hari ini (kemarin, 6/2) teman-teman vokasi dari seluruh Indonesia berkumpul membahas program kerja untuk meningkatkan pendidikan tinggi vokasi,” tambahnya.
Dia mengatakan, pendidikan vokasi harus memiliki keterpaduan dengan industri serta didukung teknologi dan pendidikan dasar yang kuat.
Dengan begitu, pendidikan vokasi bisa menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional yang lebih utuh.
”Kalau pendidikan vokasi terintegrasi dari hulu ke hilir, kita tidak sekadar memenuhi kebutuhan industri, tapi juga bisa jadi trans center untuk menghasilkan inovasi baru,” kata Widodo.
Dalam kesempatan itu, Widodo juga menyinggung progres pembangunan kampus UB Kepanjen.
Dia menargetkan, pembangunan akan rampung pada 2026.
Gedung pertama yang dibangun itu diharapkan sudah bisa ditempati, meski masih membutuhkan dukungan pemerintah daerah dalam hal akses jalan.
”Kami berharap pemerintah daerah bisa bersama sama membangun infrastruktur pendukung agar kampus ini bisa beroperasi optimal,” imbuhnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Vokasi UB Mukhammad Kholid Mawardi SSos MAB PhD menegaskan, inovasi inklusif sangat penting untuk mengoptimalkan keunggulan multidisiplin di sekolah dan fakultas vokasi.
”Inovasi inklusif bisa mengubah kondisi multidisiplin yang selama ini dianggap sebagai kelemahan menjadi kekuatan. Lewat kebijakan interdisipliner dalam riset dan pengabdian masyarakat,” kata dia. (ram/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana