Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kamus Malangan: Petelot

Fathoni Prakarsa Nanda • Minggu, 20 April 2025 | 19:37 WIB
Grafis Lingua Franca Kampus Malangan. (RADAR MALANG)
Grafis Lingua Franca Kampus Malangan. (RADAR MALANG)

Generasi zaman sekarang sangat jarang yang menggunakan istilah petelot.

Kebanyakan lebih familiar dengan kata pensil.

Bahan grafit (mineral nonlogam yang terbentuk secara alami dari karbon) dengan chasing yang umumnya berbahan kayu.

Petelot merupakan kata serapan dari Bahasa Belanda.

Sama halnya dengan kata serapan lain seperti handuk, wastafel, dipan, dan jeriken.

Petelot diambil dari kata potlood yang artinya juga pensil.

Hanya berbeda pengucapan karena lidah yang berbeda.

Kalau di Malang populer dengan istilah petelot, di tempat lain ada yang menyebutnya dengan potlot.

Pengamat Bahasa Universitas Negeri Malang (UM) Nurenzia Sidharta menuturkan, kata potlood diserap sesuai kebiasaan lidah masyarakat Malang.

Seharusnya potlood dibaca dengan huruf vokal ”o”, tetapi oleh masyarakat diganti dengan huruf ”e” di awal dan tengah.

”Seperti misalnya kata setrap, kalau di Bahasa Belanda hanya straf. Tapi di sini disisipi huruf e, kemudian huruf f diganti p,” jelas Nurenzia.

Istilah petelot sempat populer saat bentuk benda tersebut masih sangat kuno.

Kebanyakan dibuat sepaket dengan penghapus kecil yang dipasang di bagian pangkal.

Kini, bentuk petelot sudah banyak mengalami transformasi.

Bahkan ada yang menyerupai puplen, sehingga tidak memerlukan peraut untuk membuatnya runcing.

Istilah ”bujel” atau tumpul yang kerap mengiringi eksistensi diksi petelot pun seolah ikut tenggelam. (adk/fat)

Editor : A. Nugroho
#PENSIL #kamus malangan