Sejarawan Bahasa Malangan Restu Respati mengatakan, istilah melip sudah cukup lama diketahui warga dari sejumlah daerah. Baik di wilayah Arekan (termasuk Malang Raya) maupun Mataraman. Sebab, kosakata tersebut tergolong dalam Bahasa Jawa yang baru. ”Sekitar abad ke-16 sudah ada di wilayah Mataraman. Kemudian menyebar sampai ke Malang,” kata dia.
Istilah tersebut bisa dipakai untuk dua keperluan. Selain untuk menyebut posisi layang-layang di luar jangkauan mata, bisa juga digunakan untuk menyindir orang yang sombong.
”Seolah melip atau terlalu tinggi sampai tidak kelihatan. Dalam artian (omongannya) terlalu tinggi sampai tidak masuk logika,” tambahnya. Sampai saat ini istilah tersebut masih sering digunakan. Khususnya oleh anak-anak yang hobi bermain layang-layang. (biy/by)
Editor : A. Nugroho