MALANG KOTA - Meskipun jumlah murid di beberapa Sekolah Dasar Negeri (SDN) terus menurun, Pemkot Malang belum memiliki rencana untuk melakukan penggabungan atau merger sekolah. Rencana tersebut masih dalam tahap kajian, dan akan diputuskan setelah melihat tren penerimaan siswa selama beberapa tahun ke depan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Suwarjana mengungkapkan, saat ini hanya ada dua sekolah yang benar-benar kekurangan murid secara signifikan. Lokasinya berada di wilayah Kecamatan Sukun dan Lowokwaru. Namun, dia enggan menyebut nama sekolah secara spesifik.
”Dari total 195 SD negeri, ada 93 sekolah yang pagunya belum terpenuhi. Tapi itu belum final, karena masih ada pendaftaran secara luring (offline),” jelas mantan Kepala Bagian (Kabag) Umum Sekretariat Daerah (Setda) Kota Malang itu kemarin (29/6).
Menurut dia, keputusan untuk melakukan merger sekolah tidak bisa dilakukan secara instan hanya karena satu tahun ajaran kekurangan siswa. Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
”Kami harus lihat dulu trennya. Kalau dalam tiga tahun berturut-turut tetap minim, baru bisa dipertimbangkan untuk merger,” tegas pejabat eselon II B Pemkot Malang tersebut.
Dia menambahkan, ada beberapa faktor yang membuat daya tarik sekolah menurun. Antara lain persaingan antar-SD negeri di wilayah padat sekolah dan berkurangnya jumlah penduduk usia sekolah dasar di beberapa kelurahan.
Salah satu contohnya adalah Kelurahan Bareng, yang memiliki lima SD negeri dalam satu wilayah. ”Di sana, SDN Bareng 3 paling diminati. Empat sekolah lainnya kekurangan murid,” terang Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Malang, Muflikh Adhim.
Menurutnya, masyarakat cenderung memilih sekolah yang dinilai lebih favorit dan berprestasi. ”Kondisinya mirip tahun lalu. Ini jadi evaluasi kami ke depan, terutama soal pemerataan kualitas,” pungkas pejabat eselon III B Pemkot Malang itu. (adk/adn)
Editor : A. Nugroho