Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sakit, Tiga Pelajar Sekolah Rakyat Mundur

A. Nugroho • Sabtu, 16 Agustus 2025 | 20:09 WIB

LATIH KEDISIPLINAN: Para pelajar SRMP 14 Kota Batu menjalani latihan upacara untuk peringatan HUT RI ke-80, Kamis lalu (14/8).
LATIH KEDISIPLINAN: Para pelajar SRMP 14 Kota Batu menjalani latihan upacara untuk peringatan HUT RI ke-80, Kamis lalu (14/8).

 

KOTA BATU - Sekolah rakyat dengan jumlah pelajar terbanyak ada di Kota Batu. Tepatnya di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14. Berlokasi di eks UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Petirahan Anak (PPSPA), Kecamatan Batu.  

 

Pemerintah pusat memberikan jatah kuota angkatan pertama sebanyak 150 kursi. Penerimaan pelajar dilakukan dalam dua tahap. Saat pembukaan pada 14 Juli lalu, ada 100 siswa. Kemudian dilanjutkan pada tahap kedua pada 1 Agustus sebanyak 52 siswa.

 

Kepala SRMP 14 Kota Batu Yulianah menyebut, sebenarnya angkatan pertama yang diterima tidak genap. Saat pembukaan, hanya 99 siswa yang hadir dan masuk asrama. Sebab, satu siswa asal Kota Batu mengalami kecelakaan beberapa pekan sebelum pembukaan sekolah rakyat. ”Setelah itu, ada siswa dari Kabupaten Malang yang sakit,” jelas Yulianah. 

 

Siswa tersebut mengalami sakit kulit. Sebab, beberapa saat sebelum bergabung ke asrama, dia menjalani khitan. Karena kurang komunikasi dengan wali asuh, siswa itu mengalami kelebihan protein yang membuat lukanya tak kunjung sembuh.

 

Melihat kondisi yang semakin memburuk, siswa tersebut dibawa ke Puskesmas untuk mendapatkan pertolongan. Akhirnya, puskesmas meminta siswa tersebut dipulangkan agar menjalani rawat jalan di rumah. ”Karena formasi masih kurang, akhirnya kami dikirim lagi (pelajar) dari tahap kedua,” ujarnya. 

 

Untuk formasi penerimaan kedua, langsung dikirim 52 siswa untuk memenuhi kuota siswa di sana. Tak hanya dari Kota Batu, siswa tersebut juga berasal dari Kota Kediri, Kabupaten Jombang dan Kabupaten Malang. Siswa yang menyusul itu mayoritas merupakan siswa yang belum mendapatkan sekolah saat seleksi penerimaan murid baru (SPMB), beberapa waktu lalu. Untuk menekan angka putus sekolah, siswa tersebut diajak untuk bergabung ke SRMP 14 Kota Batu. ”Tentunya juga harus memenuhi syarat masuk prasejahtera kategori desil 1 maupun 2,” tuturnya.

 

Hingga kini belum ada masalah berarti mengenai pelaksanaan pembelajaran di SRMP 14 Kota Batu. Ada enam rombongan belajar (rombel) di sana. Mereka diampu sembilan guru mata pelajaran (mapel). ”Tidak ada yang mundur (lagi) karena sudah nyaman mengajar di sini,” tandas mantan Guru SMPN 1 Batu itu. 

 

Kuota maksimal juga berlaku di SRMP 16 Kota Malang. Gedung Politeknik Kota Malang (Poltekom) yang menjadi lokasinya hanya bisa menampung 100 siswa, atau empat rombel. Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 Kota Malang Rida Apriliyasanti menuturkan, pihaknya tidak bisa menerima tambahan siswa. 

 

Jika dipaksa lebih dari 100 murid, pembelajaran tidak akan efektif. ”Sudah diatur 100 siswa ini sesuai dengan tenaga pendukung dan bangunan asramanya. Kalau ditambah akan overload,” kata dia. 

Rida menyebut ada peluang pihaknya menambah murid bila ketika ada yang mundur. 

 

Selama sebulan pelaksanaan, ada satu siswa SRMP 16 yang mundur. Mereka langsung mendapatkan ganti dengan mendatangkan murid baru. 

”Satu murid yang mundur itu karena sakit, dia belum pernah mengikuti pembelajaran di sini. Saya mendapatkan info, akhirnya siswa tersebut memilih ke pondok pesantren,” papar dia. 

 

Di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Kota Malang, sejauh ini tidak ada pelajar yang mundur. Pihak guru memastikan semua siswa siap belajar pada akhir Agustus. Kepala SRMA 22 Kota Malang Rahmah Dwi Norwita Imtihana menjelaskan, sejak awal masuk pihaknya sudah melihat potensi yang dimiliki siswa. 

 

Itu semakin tampak setelah siswa selesai menjalani serangkaian tes. Mulai tes diagnostik kognitif hingga tes minat bakat. ”Secara keseluruhan, saya terkejut melihat hasilnya karena sebagian besar siswa masuk kategori IQ high average, yakni 120,” kata Wita. Dari tes yang dilakukan itu, bisa ditentukan arah pembelajaran yang akan diterapkan.

 

Selain itu, ada beberapa siswa yang memiliki prestasi. Sebagai contoh, ada siswa yang rutin mengikuti lomba voli. Ada pula yang mahir pencak silat, tenis meja, menari, hingga kesenian musik banjari. ”Kebanyakan dari mereka juga memiliki kecerdasan kinestetik,” imbuh perempuan yang pernah menjadi guru Bahasa Inggris di SMA Negeri 5 Kota Malang tersebut.

 

Sayangnya, selama ini para siswa belum menerapkan pembelajaran deep learning. Wita menyebut kalau kebanyakan siswa belajar dengan cara menghafal. ”Sehingga dalam dua bulan ini, kami perlu re-calling atau mengingatkan mereka terhadap materi-materi yang pernah diajarkan saat SMP,” terang Wita. 

 

Dalam persiapan pembelajaran, 75 siswa yang ada di SRMA 22 Kota Malang dibagi menjadi tiga kelas. Wita melihat persiapan pembelajaran berlangsung lebih cepat. Bahkan proses orientasi siswa di SRMA 22 juga terbilang singkat. Dari ketentuan dua pekan menjadi satu pekan saja. 

 

Di samping pembelajaran, rencananya para siswa juga akan mendapat ekstrakurikuler sesuai minat dan bakat masing-masing. Awal Agustus lalu, pihaknya mendatangkan pembina Paskibraka, dance, teater, hingga basket untuk penjaringan ekstrakurikuler.


Wita menambahkan, sebelum pembelajaran dimulai, pihaknya turut memastikan kondisi kesehatan para siswa. Sebagian siswa diketahui memiliki masalah kesehatan pada gigi. Sehingga mereka harus rutin menjalani perawatan dari Puskesmas. (ori/adk/mel/by)

Editor : A. Nugroho
#batu #Sekolah Rakyat #malang #kota #sr #radar