MALANG KOTA – Berbagai upaya dilakukan kampus swasta untuk bersaing dengan kampus negeri dalam menyedot perhatian calon mahasiswa baru (camaba). Mulai dari melengkapi fasilitas, meningkatkan kualitas dosen, tidak menaikkan Uang Kuliah Tunggal (UKT), hingga roadshow ke daerah-daerah (selengkapnya baca grafis).
Dengan perjuangan tersebut, ada kampus swasta yang berhasil memenuhi pagu, tapi ada juga yang tidak. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merupakan satu di antara segelintir kampus swasta yang berhasil memenuhi target pagu.
Kepala Humas Infokom UMM M. Isnaini mengatakan, pagu mahasiswa baru (maba) terpenuhi sejak Agustus lalu. Total ada 7 ribu maba yang diterima. Mereka mendaftar di jenjang sarjana strata satu (S1) hingga program doktor atau strata tiga (S3). Untuk menggaet ribuan maba, UMM roadshow ke berbagai daerah. ”Roadshow ke Malang dan daerah lain di sekitar Jawa Timur,” ujarnya kemarin. ”Ada pula yang ke luar Jawa, seperti Kalimantan dan Nusa Tenggara Barat,” tambah pria yang akrab dipanggil Krisna tersebut.
Selain roadshow, dia melanjutkan, tahun ini pihaknya tidak menaikkan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Kebijakan UKT masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Berdasar laman resmi UMM, UKT atau biaya studi semester (BSS) bergantung jurusan masing-masing.
Tarif terendah adalah jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN). Untuk semester pertama jalur reguler satu dipatok Rp 6,2 juta. Kemudian untuk BSS dengan nominal tertinggi adalah jurusan kedokteran. Pada jalur reguler satu dibanderol Rp 103,3 juta dan reguler dua Rp 123,3 juta.
Kendati demikian, pihaknya juga menambah 5 persen kuota untuk beasiswa jalur prestasi. Selain beasiswa, pihaknya juga terus melakukan pengembangan fasilitas kampus. Misalnya dengan melakukan modernisasi di seluruh gedung maupun fasilitas perkuliahan. Salah satu yang sudah berjalan adalah Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 yang digunakan untuk jurusan kedokteran dan ilmu kesehatan. ”Nanti secara bertahap kami benahi lainnya. Pembenahan ini harapannya bisa selesai pada 2026,” terang lulusan S3 Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut.
Demikian pula kualitas dosen. Saat ini UMM mempunyai sekitar 700 dosen. Jumlah tersebut disesuaikan dengan jumlah mahasiswa, 38 ribu sampai 40 ribu mahasiswa. Untuk memastikan kualitas, UMM rutin melakukan akreditasi pada jurusan. ”Jurusan yang terakreditasi A di UMM sudah ada 96 persen,” imbuhnya.
Selain UMM, Unisma juga menyiapkan berbagai strategi menggaet maba. Rektor Unisma Prof Drs H Junaidi Mistar MPd Phd mengungkapkan, salah satu yang strategi dengan menerapkan UKT yang bersifat flat hingga lulus. Tujuannya agar mahasiswa tidak dibebani biaya gedung maupun pungutan tambahan lainnya.
Kendati demikian, pihaknya tetap melengkapi sarana dan prasarana kampus. Mulai dari laboratorium, pusat riset, hingga fasilitas penunjang minat bakat mahasiswa. ”Semua diarahkan untuk menciptakan lingkungan akademik yang kondusif sekaligus mendukung kreativitas mahasiswa,” tegasnya. Tahun ini Unisma juga menghadirkan jurusan baru, yakni jurusan Teknik Informatika untuk jenjang sarjana.
Hal yang sama juga dilakukan Institut Asia Malang. Wakil Rektor IV Institut Asia Dr Ir Teguh Widodo MM mengatakan, promosi di detik-detik akhir dilakukan melalui akun pribadi kampus tersebut. Saat ini, kampus tengah menunggu tambahan 30 persen dari total target 1.000 mahasiswa baru. ”Untuk sementara kami mengandalkan Instagram,” kata dia.
Disinggung mengenai kemungkinan perpanjangan pendaftaran, dia belum bisa memastikan. Pendaftaran dijadwalkan tutup hari ini (Senin, 15/9). ”Belum ada rencana memperpanjang pendaftaran. Menunggu instruksi rektor," tutur Teguh.
Teguh menerangkan, akreditasi untuk Institut Asia adalah kategori baik. Namun dua jurusan perguruan tinggi tersebut mampu meraih predikat baik sekali. Yaitu program studi manajemen dan informatika. "Dari enam jurusan, dua merupakan kategori sangat baik. Sehingga kami tidak kalah dengan kampus negeri," tandasnya.
Tak hanya akreditasi, Teguh mengatakan, fasilitas penunjang juga diperhatikan. Ada beberapa fasilitas penting yang diperlukan untuk menunjang perkuliahan. Mulai ruangan multimedia, inkubator bisnis, laboratorium dan teater.
Terkait UKT, Teguh memastikan nominalnya masih terjangkau bagi masyarakat. Untuk program studi (prodi) akuntansi, sistem komputer, dan desain komunikasi visual dipasang tarif Rp 3 juta sampai Rp 5 juta. Sementara untuk bisnis manajemen internasional Rp 7 juta sampai Rp 11 juta, serta teknik informatika dan profesional bisnis manajemen sekitar Rp 28 juta. "Kami juga menerima beasiswa. Misalnya bisa dengan KIP (Kartu Indonesia Pintar)," paparnya.
Di pihak lain, Bagian Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Widyagama (UWG) Dr Gatot Soebiyakto ST MT mengatakan, pendaftaran calon mahasiswa telah ditutup. Tahun ini menerima 900 maba. ”Jumlah ini 90 persen dari total target,” kata dia.
Gatot menuturkan, akreditasi program studi akuntansi di UWG tak kalah dengan perguruan tinggi lainnya. Sebab mendapatkan predikat A atau tertinggi. Jurusan lainnya rata-rata mendapat akreditasi B, di antaranya ilmu hukum, manajemen, dan teknik elektro.
Gatot menyebut, UWG menjadi pilihan karena UKT terjangkau. Paling rendah Rp 3,5 juta dan paling tinggi Rp 6 juta. Rata-rata UKT dibanderol Rp 4 juta. "Penentuan UKT berdasarkan reguler A dan reguler B. Reguler A merupakan kelas biasa, sedangkan reguler B merupakan kelas karyawan," tuturnya.(mel/adk/dan)
Editor : A. Nugroho