KABUPATEN – Program ketahanan pangan mulai digarap dari lingkungan sekolah. Sebanyak 71 SMA, SMK, dan SLB di Kabupaten Malang tercatat mengikuti program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Timur sejak 25 Januari lalu.
Melalui program ini, lahan kosong di sekolah dimanfaatkan sebagai media tanam dan sarana pembelajaran. Sekolah peserta diminta menyusun pola ketahanan pangan yang aplikatif. Tidak sekadar menanam, tetapi juga mengintegrasikan proses tersebut ke dalam pembelajaran.
Mulai dari perencanaan, perawatan, hingga panen. ”Pemanfaatan lahan sekolah bisa diarahkan ke pembelajaran yang berdampak. Anak-anak belajar langsung dari prosesnya,” ujar Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Malang Dwi Anggraeni.
Menurut dia, program ini mendorong siswa memahami isu ketahanan pangan secara utuh sekaligus menumbuhkan kepedulian lingkungan dan semangat gotong royong. Selain itu, lahan ketahanan pangan bisa menjadi ruang riset sederhana bagi siswa.
”Mereka bisa mengamati, mengkaji, bahkan berinovasi dari tanaman atau ternak yang dikembangkan,” katanya. Program serupa telah lebih dulu berjalan di SMAN 1 Singosari. Sekolah tersebut mengelola 187 jenis tanaman yang membuat lingkungan sekolah lebih rindang.
Salah satu unggulannya adalah budidaya lele dengan hasil panen mencapai 50 kilogram sekali panen. ”Sebagian hasil panen kami bagikan ke warga sekolah,” kata Kepala SMAN 1 Singosari Sri Endang Hidajati. Saat peluncuran SIKAP, sekolah itu juga menambah 300 tanaman cabai. Hasilnya kelak akan dibagikan kepada siswa dan wali murid. (aff/adn)
Editor : Aditya Novrian