MALANG KOTA - Sesosok jenazah pria tergeletak di pelataran ruko dealer Yamaha Makmur Utama, Jalan Satsui Tubun nomor 44, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sukun, kemarin (27/11).
Di bagian kepalanya terdapat darah yang cukup banyak.
Sementara di mata kirinya tampak luka memar.
Hingga tadi malam belum ada kesaksian yang menyebabkan kematian pria tanpa identitas itu.
Namun, jika melihat adanya luka dan darah, kemungkinan besar pria tersebut meninggal bukan karena penyakit.
Bisa jadi karena pembunuhan.
Bisa juga karena kecelakaan atau korban tabrak lari.
Pantauan koran ini di lokasi kejadian, jenazah itu seperti sengaja diletakkan di atas alas seperti kain banner.
Tubuhnya menggunakan kemeja hitam dengan motif garis putih, celana biru, kaos kaki hitam, dan sarung hijau motif kotak-kotak.
Di tangannya ada jam tangan.
Di sekitar jenazah tampak beberapa bekas bungkus makanan dan minuman instan.
Ada pula sehelai baju yang seperti dijemur di atas jenazah.
Kabag Humas Polresta Malang Kota Ipda Yudi Risdiyanto menjelaskan, laporan penemuan jenazah masuk pukul 07.15.
Polisi pun langsung melakukan olah TKP.
Lalu pada pukul 09.09, jenazah dibawa ke RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) untuk diperiksa.
”Kalau dari keterangan orang-orang sekitar, nama panggilannya Madi,” ujarnya.
Informasi sementara yang beredar, ada yang menyebut bahwa korban berasal dari Jawa Tengah.
Namun ada juga yang menyebut korban tinggal di Kabupaten Malang.
Pihak kepolisian belum bisa memastikan dan masih terus mencari anggota keluarga korban.
"Ini orang jauh. Dari Jawa Tengah. Biasanya jagongan di warung. Tapi tadi malam tidak jagongan," kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Warga itu menyebut kalau semasa hidup pria tersebut sudah lama tidak kembali ke tempat asalnya.
Sementara itu, seorang pemilik toko asal Madura bernama Aisyah mengaku sering melihat Madi meminta-minta di lampu merah dekat Terminal Gadang.
Kurang lebih selama tiga tahun terakhir sejak dirinya membuka toko.
"Kalau tidur biasanya di warung depan toko saya. Terakhir saya lihat dia hari Sabtu sekitar jam dua pagi tidur di warung," terang dia.
Aisyah menuturkan, biasanya Madi bersama seorang pengemis juga.
Namun usianya tampak lebih muda.
Sehari-hari Madi mengemis mulai pagi hingga pukul 22.00.
Setelah itu tidur di warung. (mel/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana