alexametrics
32C
Malang
Monday, 19 April 2021

Mendadak KLB, Moeldoko Jadi Ketum Demokrat Gantikan AHY

RADAR MALANG – Kisruh di tubuh Partai Demokrat makin memanas saja. Menyusul penetapan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko sebagai Ketua Umum (ketum) Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) yang digelar di Deli Serdang, Sumatera Utara. Moeldoko mengalahkan Marzuki Alie yang juga diusulkan peserta KLB menjadi kandidat ketum Partai Demokrat.

”Berdasarkan hasil voting, Moeldoko terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat periode 2021-2026. Memutuskan menetapkan calon ketua tersebut ditetapkan menjadi Ketua Umum Partai Demokrat 2021-2026,” ujar pimpinan rapat Jhoni Allen Marbun seperti diberitakan jawapos.com Jumat (5/3).
“Setuju,” jawab peserta KLB. Dengan penetapan Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, maka otomatis Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) demisioner. “Memutuskan Dewan Pimpinan Pusat 2020-2021 yang diketuai AHY dinyatakan demisioner,” tambah Jhoni.

Baca juga : Sutiaji Sebut Kudeta Partai Demokrat Tak Punya Etika Politik

Menanggapi hal itu, Deputi Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP Partai Demokrat Kamhar Lakumani mengatakan KLB yang diselenggarakan di Deli Serdang, Sumatera Utara sudah pasti ilegal. Menurut Kamhar, DPP Partai Demokrat belum pernah mengeluarkan SK kepanitiaan tentang penyelenggaraan KLB. Sehingga dia mempertanyakan izin dari KLB tersebut. “Jika belum ada itu berarti makar, tak sesuai konstitusi Partai Demokrat. Tak punya legal standing,” tambahnya.

Kamhar mengatakan, otak pelaku KLB tersebut adalah orang-orang yang telah dipecat dari Partai Demokrat. Sehingga dirinya mengaku aneh jika mereka masih mengatasnamakan Partai Demokrat. “Mereka tidak punya hak untuk membawa-bawa nama Partai Demokrat dan menggunakan atribut Partai Demokrat,” katanya.

Mencermati kondisi Partai Demokrat saat ini, tak ada keadaan memaksa untuk diselenggarakannya KLB. Malah sebaliknya kepengurusan di bawah kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) harus diapresiasi karena memiliki banyak pencapaian. Bahkan hasil survei terakhir beberapa lembaga survei, Partai Demokrat telah masuk tiga besar dengan persentase elektabilitas double digit.

Kamhar memandang kudeta ini sebagai praktik ilegal. Mereka mengatasnamakan Partai Demokrat karena haus pada kekuasaan. Sehingga KLB ini harus dibatalkan. “Ini murni sebagai praktek pelacuran kader dan para mantan kader yang terobsesi kekuasaan di satu sisi dan praktek mempertontonkan arogansi kekuasaan di sisi lainnya di mana Moeldoko yang juga Kepala Staf Presiden berambisi mengambil alih Partai Demokrat untuk pemenuhan syahwat politiknya pada 2024 nanti,” tegasnya.

Kamhar menyebut para Ketua DPD seluruh Indonesia sudah menyatakan kesetiaanya terhadap AHY untuk terus menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. Sehingga dia mempertanyakan Ketua DPD mana yang hadir ke KLB tersebut. “Sekali lagi kami pastikan tak ada Ketua DPD dan Ketua DPC yang sah menghadiri kegiatan KLB abal-abal tersebut. Semuanya masih waras,” tuturnya.(sumber: jawapos)

RADAR MALANG – Kisruh di tubuh Partai Demokrat makin memanas saja. Menyusul penetapan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko sebagai Ketua Umum (ketum) Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) yang digelar di Deli Serdang, Sumatera Utara. Moeldoko mengalahkan Marzuki Alie yang juga diusulkan peserta KLB menjadi kandidat ketum Partai Demokrat.

”Berdasarkan hasil voting, Moeldoko terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat periode 2021-2026. Memutuskan menetapkan calon ketua tersebut ditetapkan menjadi Ketua Umum Partai Demokrat 2021-2026,” ujar pimpinan rapat Jhoni Allen Marbun seperti diberitakan jawapos.com Jumat (5/3).
“Setuju,” jawab peserta KLB. Dengan penetapan Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, maka otomatis Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) demisioner. “Memutuskan Dewan Pimpinan Pusat 2020-2021 yang diketuai AHY dinyatakan demisioner,” tambah Jhoni.

Baca juga : Sutiaji Sebut Kudeta Partai Demokrat Tak Punya Etika Politik

Menanggapi hal itu, Deputi Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP Partai Demokrat Kamhar Lakumani mengatakan KLB yang diselenggarakan di Deli Serdang, Sumatera Utara sudah pasti ilegal. Menurut Kamhar, DPP Partai Demokrat belum pernah mengeluarkan SK kepanitiaan tentang penyelenggaraan KLB. Sehingga dia mempertanyakan izin dari KLB tersebut. “Jika belum ada itu berarti makar, tak sesuai konstitusi Partai Demokrat. Tak punya legal standing,” tambahnya.

Kamhar mengatakan, otak pelaku KLB tersebut adalah orang-orang yang telah dipecat dari Partai Demokrat. Sehingga dirinya mengaku aneh jika mereka masih mengatasnamakan Partai Demokrat. “Mereka tidak punya hak untuk membawa-bawa nama Partai Demokrat dan menggunakan atribut Partai Demokrat,” katanya.

Mencermati kondisi Partai Demokrat saat ini, tak ada keadaan memaksa untuk diselenggarakannya KLB. Malah sebaliknya kepengurusan di bawah kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) harus diapresiasi karena memiliki banyak pencapaian. Bahkan hasil survei terakhir beberapa lembaga survei, Partai Demokrat telah masuk tiga besar dengan persentase elektabilitas double digit.

Kamhar memandang kudeta ini sebagai praktik ilegal. Mereka mengatasnamakan Partai Demokrat karena haus pada kekuasaan. Sehingga KLB ini harus dibatalkan. “Ini murni sebagai praktek pelacuran kader dan para mantan kader yang terobsesi kekuasaan di satu sisi dan praktek mempertontonkan arogansi kekuasaan di sisi lainnya di mana Moeldoko yang juga Kepala Staf Presiden berambisi mengambil alih Partai Demokrat untuk pemenuhan syahwat politiknya pada 2024 nanti,” tegasnya.

Kamhar menyebut para Ketua DPD seluruh Indonesia sudah menyatakan kesetiaanya terhadap AHY untuk terus menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. Sehingga dia mempertanyakan Ketua DPD mana yang hadir ke KLB tersebut. “Sekali lagi kami pastikan tak ada Ketua DPD dan Ketua DPC yang sah menghadiri kegiatan KLB abal-abal tersebut. Semuanya masih waras,” tuturnya.(sumber: jawapos)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru