alexametrics
24.1 C
Malang
Tuesday, 15 June 2021

Bupati Nganjuk Banderol Jabatan dari Rp 10 Juta hingga Rp 150 Juta

RADAR MALANG – Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidhayat telah menyandang status tersangka terkait kasus dugaan suap jual beli jabatan. Novi diduga membanderol harga dari Rp 10-150 juta untuk pengisian jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

“Jadi dari informasi penyidik, tadi untuk di level perangkat desa itu antara Rp 10 juta sampai Rp 15 juta, kemudian untuk jabatan di atas itu sementara yang kita dapat informasi Rp 150 juta,” kata Kabareskrim Polri, Komjen Pol Agus Andrianto dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (10/5).

“Kalau tadi informasinya hampir di semua desa, perangkat desanya lakukan pembayaran. Jadi kemungkinan jabatan-jabatan lain juga dapat perlakuan yang sama,” ucap Agus.

Selain Novi, enam orang lainnya yang turut diamankan juga ditetapkan sebagai tersangka. Enam orang tersebut antara lain Camat Pace, Dupriono; Camat Tanjunganom dan sebagai Plt Camat Sukomoro, Edie Srijato; Camat Berbek, Haryanto; Camat Loceret, Bambang Subagio; mantan Camat Sukomoro, Tri Basuki Widodo dan Ajudan Bupati Nganjuk, Izza Muhtadin.

Direktur Tindak Pidana Korupsi (Dit Tipidkor) Bareskrim Polri, Brigjen Pol Djoko Poerwanto menambahkan, modus operandi para camat memberikan sejumlah uang kepada Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidhayat melalui ajudannya. Hal itu dilakukan saat dilakukan mutasi, promosi dan pengisian jabatan di tingkat kecamatan di jajaran Kabupaten Nganjuk.

“Selanjutnya ajudan Bupati Nganjuk menyerahkan uang tersebut kepada Bupati Nganjuk,” ucap Djoko.

Penetapan tersangka ini setelah tim gabungan KPK dan Polri mengamankan Bupati Nganjuk Novi Hidhayat dan para Camat serta Ajudan Novi Minggu (9/5) sekitar pukul 19.00 WIB.

“Pada hari Minggu tanggal 9 Mei 2021 sekitar pukul 19.00 WIB, tim gabungan Dit Tipidkor Bareskrim Polri dan
KPK telah mengamankan Bupati Nganjuk, NRH dan beberapa Camat di jajaran Kabupaten Nganjuk,” pungkas Djoko.

Sumber: Jawapos

RADAR MALANG – Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidhayat telah menyandang status tersangka terkait kasus dugaan suap jual beli jabatan. Novi diduga membanderol harga dari Rp 10-150 juta untuk pengisian jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

“Jadi dari informasi penyidik, tadi untuk di level perangkat desa itu antara Rp 10 juta sampai Rp 15 juta, kemudian untuk jabatan di atas itu sementara yang kita dapat informasi Rp 150 juta,” kata Kabareskrim Polri, Komjen Pol Agus Andrianto dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (10/5).

“Kalau tadi informasinya hampir di semua desa, perangkat desanya lakukan pembayaran. Jadi kemungkinan jabatan-jabatan lain juga dapat perlakuan yang sama,” ucap Agus.

Selain Novi, enam orang lainnya yang turut diamankan juga ditetapkan sebagai tersangka. Enam orang tersebut antara lain Camat Pace, Dupriono; Camat Tanjunganom dan sebagai Plt Camat Sukomoro, Edie Srijato; Camat Berbek, Haryanto; Camat Loceret, Bambang Subagio; mantan Camat Sukomoro, Tri Basuki Widodo dan Ajudan Bupati Nganjuk, Izza Muhtadin.

Direktur Tindak Pidana Korupsi (Dit Tipidkor) Bareskrim Polri, Brigjen Pol Djoko Poerwanto menambahkan, modus operandi para camat memberikan sejumlah uang kepada Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidhayat melalui ajudannya. Hal itu dilakukan saat dilakukan mutasi, promosi dan pengisian jabatan di tingkat kecamatan di jajaran Kabupaten Nganjuk.

“Selanjutnya ajudan Bupati Nganjuk menyerahkan uang tersebut kepada Bupati Nganjuk,” ucap Djoko.

Penetapan tersangka ini setelah tim gabungan KPK dan Polri mengamankan Bupati Nganjuk Novi Hidhayat dan para Camat serta Ajudan Novi Minggu (9/5) sekitar pukul 19.00 WIB.

“Pada hari Minggu tanggal 9 Mei 2021 sekitar pukul 19.00 WIB, tim gabungan Dit Tipidkor Bareskrim Polri dan
KPK telah mengamankan Bupati Nganjuk, NRH dan beberapa Camat di jajaran Kabupaten Nganjuk,” pungkas Djoko.

Sumber: Jawapos

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru