alexametrics
24.1 C
Malang
Tuesday, 15 June 2021

ICW Merasa Konyol Saat KPK OTT Bupati Nganjuk, Tahu Kenapa?

RADAR MALANG – Indonesia Corruption Watch (ICW) ikut mengapresiasi hasil operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat oleh KPK. Namun ada ironi di balik kesigapan yang dilakukan lembaga antirasuah tersebut. Karena ternyata, OTT tersebut dipimpin oleh salah satu dari 75 pegawai KPK yang tidak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK).

“OTT Nganjuk ini dipimpin oleh seseorang yang namanya tercantum di antara 75 pegawai KPK,” kata Peneliti ICW Kurnia Ramadhana seperti dikutip dari Jawapos Selasa (11/5).

Seperti diketahui, TWK menjadi syarat dalam proses peralihan status pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Berdasarkan informasi, pegawai yang dimaksud adalah Harun Al Rasyid selaku Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Penyelidik.

Kurnia pun merasa heran sebab pegawai yang memimpin OTT tersebut dinilai tidak memiliki wawasan kebangsaan karena gagal melewati TWK.
“Konyolnya, orang ini malah disebutkan tidak memiliki wawasan kebangsaan karena gagal melewati TWK. Jika TWK dianggap sebagai tes untuk menguji rasa cinta terhadap Tanah Air, bukankah selama ini yang dilakukan penyelidik dan penyidik KPK telah melampaui itu? Menangkap koruptor, musuh bangsa Indonesia dengan risiko yang kadang kala dapat mengancam nyawanya sendiri,” ucap Kurnia.

Oleh karena itu, ia menganggap kondisi KPK kian mengkhawatirkan. Menurutnya, pegawai KPK yang sudah bekerja maksimal dalam pemberantasan korupsi malah disingkirkan.

“Maka dari itu, kondisi KPK kian mengkhawatirkan. Bisa dibayangkan, tatkala ada pegawai yang bekerja maksimal malah disingkirkan oleh Pimpinan KPK sendiri dengan segala cara, salah satunya TWK,” ujar dia.

Seperti diketahui, Novi terjaring OTT yang digelar KPK bersama dengan Bareskrim Polri Senin (10/5) dini hari. Diduga hal itu terkait dengan kasus dugaan korupsi lelang jabatan di lingkungan Pemkab Nganjuk, Jawa Timur.

Sumber: Jawapos

RADAR MALANG – Indonesia Corruption Watch (ICW) ikut mengapresiasi hasil operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat oleh KPK. Namun ada ironi di balik kesigapan yang dilakukan lembaga antirasuah tersebut. Karena ternyata, OTT tersebut dipimpin oleh salah satu dari 75 pegawai KPK yang tidak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK).

“OTT Nganjuk ini dipimpin oleh seseorang yang namanya tercantum di antara 75 pegawai KPK,” kata Peneliti ICW Kurnia Ramadhana seperti dikutip dari Jawapos Selasa (11/5).

Seperti diketahui, TWK menjadi syarat dalam proses peralihan status pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Berdasarkan informasi, pegawai yang dimaksud adalah Harun Al Rasyid selaku Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Penyelidik.

Kurnia pun merasa heran sebab pegawai yang memimpin OTT tersebut dinilai tidak memiliki wawasan kebangsaan karena gagal melewati TWK.
“Konyolnya, orang ini malah disebutkan tidak memiliki wawasan kebangsaan karena gagal melewati TWK. Jika TWK dianggap sebagai tes untuk menguji rasa cinta terhadap Tanah Air, bukankah selama ini yang dilakukan penyelidik dan penyidik KPK telah melampaui itu? Menangkap koruptor, musuh bangsa Indonesia dengan risiko yang kadang kala dapat mengancam nyawanya sendiri,” ucap Kurnia.

Oleh karena itu, ia menganggap kondisi KPK kian mengkhawatirkan. Menurutnya, pegawai KPK yang sudah bekerja maksimal dalam pemberantasan korupsi malah disingkirkan.

“Maka dari itu, kondisi KPK kian mengkhawatirkan. Bisa dibayangkan, tatkala ada pegawai yang bekerja maksimal malah disingkirkan oleh Pimpinan KPK sendiri dengan segala cara, salah satunya TWK,” ujar dia.

Seperti diketahui, Novi terjaring OTT yang digelar KPK bersama dengan Bareskrim Polri Senin (10/5) dini hari. Diduga hal itu terkait dengan kasus dugaan korupsi lelang jabatan di lingkungan Pemkab Nganjuk, Jawa Timur.

Sumber: Jawapos

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru