alexametrics
25.1 C
Malang
Sunday, 25 July 2021

Islamic Center Malang, Nasibmu Kini

KABUPATEN – Keberadaan gedung Islamic Center di Kabupaten Malang belum optimal. Niat awal ingin menjadikan gedung itu sebagai pusat kegiatan keagamaan dalam beberapa tahun terakhir juga tak maksimal. Sehingga, terkesan gedung yang dibangun dengan APBD Rp 8,5 miliar itu sia-sia. Setiap hari kondisinya sepi. Bahkan, sebelum pandemi, sejak diresmikan pada 2013 lalu juga tak banyak aktivitas di sana.

Saat Jawa Pos Radar Malang masuk ke area Islamic Center di Jalan Trunojoyo, Kepanjen, kemarin (11/6) cat tembok terlihat usang. Di bagian aula dalam gedung terlihat agak kotor dan berdebu. Nampaknya, memang ruangan tersebut jarang terjamah. Namun, secara fisik bangunan semua masih bagus. Beberapa fasilitas seperti miniatur Kakbah dan tembok setinggi sekitar 2 meter yang biasa dipakai untuk praktik lempar jumrah juga masih terlihat kokoh. Lengkap dengan batu kerikil sebagai alat untuk melempar.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang Musta’in mengatakan, saat ini memang di sana masih jarang ditempati untuk acara keagamaan. Salah satu alasannya, karena kondisi pandemi. Namun, dia memastikan bahwa Islamic Center Kabupaten Malang jauh dari kata mangkrak.

”Kalau dibilang mangkrak itu tidak,” tegas dia.

Diketahui, pemkab menyerahkan pengelolaan Islamic Center kepada Dinas Sosial Kabupaten Malang. Kemudian, 5 kantor keagamaan yang dulu masih menumpang di kantor Kemenag akhirnya dipindahkan ke sana. ”Di sana ditempati lima kantor, MUI (Majelis Ulama Indonesia), Baznas (Badan Amil Zakat Nasional), dan beberapa kantor lainya. Sehingga setiap hari pasti masih ada orang ke sana,” ucapnya.

Dia menyebut, setiap hari gerbang Islamic Center selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin masuk ke sana. Sehingga meski tidak selalu ramai, selalu ada masyarakat yang menggunakan fasilitas untuk beribadah. Bahkan. menjelang ibadah haji, Kemenag juga mempersilakan apabila ada kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) ingin melakukan praktik ibadah haji di Islamic Center itu.

”Yang jelas mereka harus mengajukan izin terlebih dahulu terhadap pengelola yang ada di sana,” tandas doktor alumnus Universitas Negeri Malang itu.

Di sisi lain, salah seorang warga yang tinggal di sebelah Islamic Center Kabupaten Malang, Siti Munawaroh, mengaku, setiap hari memang selalu ada orang keluar masuk di sana. Kerap kali dia juga melihat ada petugas kebersihan yang menyapu dan membersihkan rumput liar yang tumbuh di sana.

”Setiap hari ada orang, Mas. Kalau mau masuk ke sana juga tidak apa-apa, kalau pingin lihat,” kata dia.

Islamic Center di Kota Malang juga belum banyak berfungsi. Ini karena gedung yang berada di Kelurahan Arjowinangun, Kedungkandang, itu baru saja diresmikan. Tepatnya pada Desember 2020 lalu. Sehingga bangunan senilai Rp 50,164 miliar itu belum dimanfaatkan.

Saat Jawa Pos Radar Malang ke lokasi, pagar gedung terkunci rapat. Tak ada aktivitas apa pun di sana.

”Dulu akhir tahun (2020) ramai dibuka, tapi sekarang sepi tiap harinya,” ujar salah satu warga di sekitar gedung tersebut yang enggan disebut namanya.

Bahkan, ketika malam hari gedung tersebut gelap tak ada penerangan sama sekali. Warga sekitar tak tahu gedung itu sebenarnya digunakan untuk apa. Mereka hanya mengetahui jika gedung tersebut milik Pemkot Malang.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Malang Sutiaji menyebut jika memang belum ada pemakaian. Masih ada beberapa hal yang harus dipenuhi. Salah satunya sarana alat tulis kantor (ATK) di gedung tersebut. Padahal, jika tak ada kendala, gedung tersebut saat ini digunakan untuk pembekalan para calon haji.

”Kami masih susun dulu penggunaannya nanti untuk apa saja,” jelasnya saat ditemui kemarin.

Sutiaji menambahkan, gedung dengan luas 1.800 meter persegi tersebut masih berada pada tahap satu. Rencana awal pendirian gedung Islamic Center sebenarnya untuk menjadi asrama haji, tempat manasik, dan sejenisnya. Namun, berdasarkan informasi pemerintah pusat, Kota Malang ternyata belum bisa menjadi embarkasi haji.

Gedung Islamic Center itu akhirnya lebih difungsikan kepada organisasi keagamaan, kemasyarakatan, dan sebagainya. Beberapa di antaranya seperti kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Wakaf Indonesia (BWI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), dan lain-lain. Bahkan, Pemkot Malang telah menerima pengajuan pendirian layanan imigrasi dan kantor Kementerian Agama (Kemenag) di Islamic Center.

Politikus Partai Demokrat itu juga berharap layanan Polsek dan Koramil Kedungkandang juga dapat dipindahkan di Islamic Center. ”Rencananya dulu begitu, tapi kami masih atur lagi,” sambungnya.

Wartawan Jawa Pos Radar Malang juga sempat mengonfirmasi ke Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang. Memang benar jika gedung tersebut difungsikan untuk kegiatan keagamaan. Namun, mereka hanya sebagai mitra, bukan pengelolanya.

”Pengelolanya Pemkot Malang, kami hanya mitra,” ujar Kepala Kemenag Kota Malang Muhtar Hazawawi kemarin.

Muhtar menambahkan, Islamic Center memang tujuan penggunaannya untuk kegiatan keagamaan. Tentunya, Kemenag turut andil di dalamnya. Hanya, memang pada tahun ini kegiatan seperti haji terpaksa batal.

Ketua Komisi C Bidang Pembangunan DPRD Kota Malang Fathol Arifin mendorong Pemkot Malang tegas mengelola asetnya tersebut. Sebab, megaproyek yang dibangun berbarengan dengan Jembatan Kedungkandang dan Kantor Mini Block Office itu mampu mendorong kegiatan kemasyarakatan. Terutama sentralisasi beberapa lembaga seperti MUI, BWI, dan DMI jauh memudahkan masyarakat ketika mencarinya.

”Nah, itulah yang kami dorong agar seolah tak terpakai,” ungkapnya.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Dapil Sukun itu akan memanggil Pemkot Malang dalam waktu dekat. Itu dilakukannya lantaran satu dari tiga megaproyek di 2020 itu tak terpakai. Jika perlu, gedung tersebut dapat digunakan kegiatan masyarakat sekitar daripada harus ditutup. (fik/adn/c1/abm/rmc)

KABUPATEN – Keberadaan gedung Islamic Center di Kabupaten Malang belum optimal. Niat awal ingin menjadikan gedung itu sebagai pusat kegiatan keagamaan dalam beberapa tahun terakhir juga tak maksimal. Sehingga, terkesan gedung yang dibangun dengan APBD Rp 8,5 miliar itu sia-sia. Setiap hari kondisinya sepi. Bahkan, sebelum pandemi, sejak diresmikan pada 2013 lalu juga tak banyak aktivitas di sana.

Saat Jawa Pos Radar Malang masuk ke area Islamic Center di Jalan Trunojoyo, Kepanjen, kemarin (11/6) cat tembok terlihat usang. Di bagian aula dalam gedung terlihat agak kotor dan berdebu. Nampaknya, memang ruangan tersebut jarang terjamah. Namun, secara fisik bangunan semua masih bagus. Beberapa fasilitas seperti miniatur Kakbah dan tembok setinggi sekitar 2 meter yang biasa dipakai untuk praktik lempar jumrah juga masih terlihat kokoh. Lengkap dengan batu kerikil sebagai alat untuk melempar.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang Musta’in mengatakan, saat ini memang di sana masih jarang ditempati untuk acara keagamaan. Salah satu alasannya, karena kondisi pandemi. Namun, dia memastikan bahwa Islamic Center Kabupaten Malang jauh dari kata mangkrak.

”Kalau dibilang mangkrak itu tidak,” tegas dia.

Diketahui, pemkab menyerahkan pengelolaan Islamic Center kepada Dinas Sosial Kabupaten Malang. Kemudian, 5 kantor keagamaan yang dulu masih menumpang di kantor Kemenag akhirnya dipindahkan ke sana. ”Di sana ditempati lima kantor, MUI (Majelis Ulama Indonesia), Baznas (Badan Amil Zakat Nasional), dan beberapa kantor lainya. Sehingga setiap hari pasti masih ada orang ke sana,” ucapnya.

Dia menyebut, setiap hari gerbang Islamic Center selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin masuk ke sana. Sehingga meski tidak selalu ramai, selalu ada masyarakat yang menggunakan fasilitas untuk beribadah. Bahkan. menjelang ibadah haji, Kemenag juga mempersilakan apabila ada kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) ingin melakukan praktik ibadah haji di Islamic Center itu.

”Yang jelas mereka harus mengajukan izin terlebih dahulu terhadap pengelola yang ada di sana,” tandas doktor alumnus Universitas Negeri Malang itu.

Di sisi lain, salah seorang warga yang tinggal di sebelah Islamic Center Kabupaten Malang, Siti Munawaroh, mengaku, setiap hari memang selalu ada orang keluar masuk di sana. Kerap kali dia juga melihat ada petugas kebersihan yang menyapu dan membersihkan rumput liar yang tumbuh di sana.

”Setiap hari ada orang, Mas. Kalau mau masuk ke sana juga tidak apa-apa, kalau pingin lihat,” kata dia.

Islamic Center di Kota Malang juga belum banyak berfungsi. Ini karena gedung yang berada di Kelurahan Arjowinangun, Kedungkandang, itu baru saja diresmikan. Tepatnya pada Desember 2020 lalu. Sehingga bangunan senilai Rp 50,164 miliar itu belum dimanfaatkan.

Saat Jawa Pos Radar Malang ke lokasi, pagar gedung terkunci rapat. Tak ada aktivitas apa pun di sana.

”Dulu akhir tahun (2020) ramai dibuka, tapi sekarang sepi tiap harinya,” ujar salah satu warga di sekitar gedung tersebut yang enggan disebut namanya.

Bahkan, ketika malam hari gedung tersebut gelap tak ada penerangan sama sekali. Warga sekitar tak tahu gedung itu sebenarnya digunakan untuk apa. Mereka hanya mengetahui jika gedung tersebut milik Pemkot Malang.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Malang Sutiaji menyebut jika memang belum ada pemakaian. Masih ada beberapa hal yang harus dipenuhi. Salah satunya sarana alat tulis kantor (ATK) di gedung tersebut. Padahal, jika tak ada kendala, gedung tersebut saat ini digunakan untuk pembekalan para calon haji.

”Kami masih susun dulu penggunaannya nanti untuk apa saja,” jelasnya saat ditemui kemarin.

Sutiaji menambahkan, gedung dengan luas 1.800 meter persegi tersebut masih berada pada tahap satu. Rencana awal pendirian gedung Islamic Center sebenarnya untuk menjadi asrama haji, tempat manasik, dan sejenisnya. Namun, berdasarkan informasi pemerintah pusat, Kota Malang ternyata belum bisa menjadi embarkasi haji.

Gedung Islamic Center itu akhirnya lebih difungsikan kepada organisasi keagamaan, kemasyarakatan, dan sebagainya. Beberapa di antaranya seperti kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Wakaf Indonesia (BWI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), dan lain-lain. Bahkan, Pemkot Malang telah menerima pengajuan pendirian layanan imigrasi dan kantor Kementerian Agama (Kemenag) di Islamic Center.

Politikus Partai Demokrat itu juga berharap layanan Polsek dan Koramil Kedungkandang juga dapat dipindahkan di Islamic Center. ”Rencananya dulu begitu, tapi kami masih atur lagi,” sambungnya.

Wartawan Jawa Pos Radar Malang juga sempat mengonfirmasi ke Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang. Memang benar jika gedung tersebut difungsikan untuk kegiatan keagamaan. Namun, mereka hanya sebagai mitra, bukan pengelolanya.

”Pengelolanya Pemkot Malang, kami hanya mitra,” ujar Kepala Kemenag Kota Malang Muhtar Hazawawi kemarin.

Muhtar menambahkan, Islamic Center memang tujuan penggunaannya untuk kegiatan keagamaan. Tentunya, Kemenag turut andil di dalamnya. Hanya, memang pada tahun ini kegiatan seperti haji terpaksa batal.

Ketua Komisi C Bidang Pembangunan DPRD Kota Malang Fathol Arifin mendorong Pemkot Malang tegas mengelola asetnya tersebut. Sebab, megaproyek yang dibangun berbarengan dengan Jembatan Kedungkandang dan Kantor Mini Block Office itu mampu mendorong kegiatan kemasyarakatan. Terutama sentralisasi beberapa lembaga seperti MUI, BWI, dan DMI jauh memudahkan masyarakat ketika mencarinya.

”Nah, itulah yang kami dorong agar seolah tak terpakai,” ungkapnya.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Dapil Sukun itu akan memanggil Pemkot Malang dalam waktu dekat. Itu dilakukannya lantaran satu dari tiga megaproyek di 2020 itu tak terpakai. Jika perlu, gedung tersebut dapat digunakan kegiatan masyarakat sekitar daripada harus ditutup. (fik/adn/c1/abm/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru