alexametrics
25.1 C
Malang
Tuesday, 11 May 2021

Maju Setelah Istikarah, Sementara Habis Rp 7 Miliar

TERDEPAK sebagai peserta Pilbup Kabupaten Malang 2020 dari jalur independen, Heri Cahyono (HC), masih melakukan perlawanan. Kesempatan kedua muncul setelah majelis hakim Bawaslu ”memaksa” KPU Kabupaten Malang melakukan verifikasi faktual (verfak) bukti dukungan HC yang berduet dengan Gunadi Handoko. Akankah pengusaha kelahiran Kasembon ini menjadi ”kuda hitam” Pilbup Malang 2020?

Bagaimana kabar Sam HC?

HC: Alhamdulillah baik, ini baru saja selesai koordinasi dengan tim Malang Jejeg.

Sebagai figur pengusaha yang akhirnya terjun ke dunia politik, sebenarnya apa yang memotivasi Anda nyalon Bupati?

HC: Jadi begini… dari dulu ada permintaan, dan juga dorongan untuk menjadi anggota dewan, nyalon wali kota, dan sebagainya. Baik itu datang dari sejumlah tokoh atau juga institusi. Tapi saya tidak mau dan juga memang tidak tertarik.

Namun semakin ke sini, permintaan dan dukungan terus muncul dan muncul. Saya lantas salat Istikarah, tidak hanya sekali tapi beberapa kali, hingga akhirnya saya putuskan untuk maju.

Kenapa? Karena hingga saat ini pemerintah daerah masih belum hadir dalam perubahan yang terjadi di masyarakat, termasuk di Kabupaten Malang ini. Perubahan ke arah lebih baik itu, hanya bisa dilakukan oleh kepala daerah yang punya kapasitas, sekaligus bebas dari tekanan. Jadi kesimpulannya, sejumput kekuasaan itu kadang lebih berharga daripada segudang ide brilian. Tergantung siapa yang ada di situ. Syaratnya punya integritas dan punya kapasitas untuk melakukan perubahan.

Apakah keluarga mendukung keputusan terjun ke dunia politik?

HC: Tidak ada masalah, saya terbiasa bebas, jadi keluarga tidak ada yang keberatan karena dilandasi semangat ijtihad dan bagian dari pengabdian sosial.

Sebagai pendatang baru, apa yang Anda rasakan selama berproses dalam tahapan Pilbup Malang?

HC: Ya, selama hampir satu setengah tahun ini, saya belajar demokrasi sekaligus perang. Ya, banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan. Jadi kekuasaan itu direbut bukan untuk memperbaiki kondisi daerah yang ada, tapi untuk menguasai sumber-sumber ekonomi. Sehingga saat nyalon bupati, segala cara dilakukan agar bisa menang.

Kabar-kabarnya Anda sudah habis Rp 6 miliar untuk sampai pada tahapan verifikasi?

Sementara ini habis sekitar Rp 7 miliar. Mengalir saja…

Heri Cahyono.(Istimewa)

Berapa dana yang Anda siapkan agar bisa memenangi Pilbup Malang?

HC: Tiap tahapan ada RAB (rancangan anggaran biaya). Mulai dari proses awal hingga pendaftaran dengan target lolos berapa, nanti ada masa kampanye dan sebagainya.

Untuk tahapan ke depan, alam mendukung Malang Jejeg. Karena dalam situasi pandemi kan tidak boleh ada kerumunan, kampaye terbuka, dan sebagainya. Kalo door-to-door, kami ini jagonya. Yang pasti, kami tetap bebas dan tidak akan tersandera oleh kepentingan bandar atau cukong hanya untuk mendapatkan modal untuk praktik politik uang.

KPUD sedang melakukan verfak ulang setelah keputusannya dianulir majelis hakim Bawaslu. Apa artinya ini bagi Anda?

HC: Ini artinya peluang emas masih terbuka. Apa yang dilakukan KPU sekarang (verfak ulang) seharusnya dilakukan dari kemarin-kemarin. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Kami mengapresiasi majelis hakim Bawaslu yang mengambil keputusan berani dan benar dalam kasus ini. Majelis hakim Bawaslu memperhatikan keberatan kami dengan bukti-bukti bahwa KPUD yang salah mencomot aturan dalam tahapan verfak.

Apakah merasa ada upaya menjegal Anda agar tidak lolos menjadi peserta Pilbup Malang?

HC: Untuk yang itu wallahualam saja. Ini kan politik, jadi aneka rupa cara bisa dilakukan oleh siapa saja. Yang pasti, kami tidak bergantung pada apa yang dilakukan pihak lain, kami bergantung dari usaha yang kami lakukan dan juga tentu kepada Allah yang di atas.

Anda yakin bakal lolos di verfak kedua ini?

HC: Kurangnya (hasil verfak dukungan) tinggal sedikit, sekitar 16 ribu saja. Sementara pendukung kami yang belum diverifikasi KPUD ada 45 ribu lebih, jadi sekitar 35 persennya saja. Saya yakin lolos karena kami juga punya tim yang solid di lapangan. Di 390 desa di Kabupaten Malang, kami punya masing-masing tiga orang di setiap desa. Jadi kami optimistis lolos.

Pewarta: Ahmad Yani

TERDEPAK sebagai peserta Pilbup Kabupaten Malang 2020 dari jalur independen, Heri Cahyono (HC), masih melakukan perlawanan. Kesempatan kedua muncul setelah majelis hakim Bawaslu ”memaksa” KPU Kabupaten Malang melakukan verifikasi faktual (verfak) bukti dukungan HC yang berduet dengan Gunadi Handoko. Akankah pengusaha kelahiran Kasembon ini menjadi ”kuda hitam” Pilbup Malang 2020?

Bagaimana kabar Sam HC?

HC: Alhamdulillah baik, ini baru saja selesai koordinasi dengan tim Malang Jejeg.

Sebagai figur pengusaha yang akhirnya terjun ke dunia politik, sebenarnya apa yang memotivasi Anda nyalon Bupati?

HC: Jadi begini… dari dulu ada permintaan, dan juga dorongan untuk menjadi anggota dewan, nyalon wali kota, dan sebagainya. Baik itu datang dari sejumlah tokoh atau juga institusi. Tapi saya tidak mau dan juga memang tidak tertarik.

Namun semakin ke sini, permintaan dan dukungan terus muncul dan muncul. Saya lantas salat Istikarah, tidak hanya sekali tapi beberapa kali, hingga akhirnya saya putuskan untuk maju.

Kenapa? Karena hingga saat ini pemerintah daerah masih belum hadir dalam perubahan yang terjadi di masyarakat, termasuk di Kabupaten Malang ini. Perubahan ke arah lebih baik itu, hanya bisa dilakukan oleh kepala daerah yang punya kapasitas, sekaligus bebas dari tekanan. Jadi kesimpulannya, sejumput kekuasaan itu kadang lebih berharga daripada segudang ide brilian. Tergantung siapa yang ada di situ. Syaratnya punya integritas dan punya kapasitas untuk melakukan perubahan.

Apakah keluarga mendukung keputusan terjun ke dunia politik?

HC: Tidak ada masalah, saya terbiasa bebas, jadi keluarga tidak ada yang keberatan karena dilandasi semangat ijtihad dan bagian dari pengabdian sosial.

Sebagai pendatang baru, apa yang Anda rasakan selama berproses dalam tahapan Pilbup Malang?

HC: Ya, selama hampir satu setengah tahun ini, saya belajar demokrasi sekaligus perang. Ya, banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan. Jadi kekuasaan itu direbut bukan untuk memperbaiki kondisi daerah yang ada, tapi untuk menguasai sumber-sumber ekonomi. Sehingga saat nyalon bupati, segala cara dilakukan agar bisa menang.

Kabar-kabarnya Anda sudah habis Rp 6 miliar untuk sampai pada tahapan verifikasi?

Sementara ini habis sekitar Rp 7 miliar. Mengalir saja…

Heri Cahyono.(Istimewa)

Berapa dana yang Anda siapkan agar bisa memenangi Pilbup Malang?

HC: Tiap tahapan ada RAB (rancangan anggaran biaya). Mulai dari proses awal hingga pendaftaran dengan target lolos berapa, nanti ada masa kampanye dan sebagainya.

Untuk tahapan ke depan, alam mendukung Malang Jejeg. Karena dalam situasi pandemi kan tidak boleh ada kerumunan, kampaye terbuka, dan sebagainya. Kalo door-to-door, kami ini jagonya. Yang pasti, kami tetap bebas dan tidak akan tersandera oleh kepentingan bandar atau cukong hanya untuk mendapatkan modal untuk praktik politik uang.

KPUD sedang melakukan verfak ulang setelah keputusannya dianulir majelis hakim Bawaslu. Apa artinya ini bagi Anda?

HC: Ini artinya peluang emas masih terbuka. Apa yang dilakukan KPU sekarang (verfak ulang) seharusnya dilakukan dari kemarin-kemarin. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Kami mengapresiasi majelis hakim Bawaslu yang mengambil keputusan berani dan benar dalam kasus ini. Majelis hakim Bawaslu memperhatikan keberatan kami dengan bukti-bukti bahwa KPUD yang salah mencomot aturan dalam tahapan verfak.

Apakah merasa ada upaya menjegal Anda agar tidak lolos menjadi peserta Pilbup Malang?

HC: Untuk yang itu wallahualam saja. Ini kan politik, jadi aneka rupa cara bisa dilakukan oleh siapa saja. Yang pasti, kami tidak bergantung pada apa yang dilakukan pihak lain, kami bergantung dari usaha yang kami lakukan dan juga tentu kepada Allah yang di atas.

Anda yakin bakal lolos di verfak kedua ini?

HC: Kurangnya (hasil verfak dukungan) tinggal sedikit, sekitar 16 ribu saja. Sementara pendukung kami yang belum diverifikasi KPUD ada 45 ribu lebih, jadi sekitar 35 persennya saja. Saya yakin lolos karena kami juga punya tim yang solid di lapangan. Di 390 desa di Kabupaten Malang, kami punya masing-masing tiga orang di setiap desa. Jadi kami optimistis lolos.

Pewarta: Ahmad Yani

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru