alexametrics
30C
Malang
Sunday, 28 February 2021

Demo Tolak Kudeta Meluas, Militer Myanmar Putus Internet Lagi

RADAR MALANG – Mobil lapis baja terus bersliweran di kota Yangon Myanmar pasca kudeta yang dilakukan pihak militer. Penutupan internet juga meningkatkan ketegangan politik pada Minggu malam (14/5). Dilansir dari AP News Senin (15/2), perhatian publik Myanmar meningkat beberapa hari terakhir karena banyaknya tuduhan manipulasi militer terhadap penjahat yang dibebaskan dari penjara untuk melakukan kekerasan malam hari dan menimbulkan kepanikan selama demonstrasi berlangsung.

Militer merebut kekuasaan pada 1 Februari lalu dan menahan pemimpin terpilih negara itu, Aung San Suu Kyi, dan anggota pemerintahannya. Mereka juga mencegah anggota parlemen yang baru terpilih membuka sesi baru parlemen.

Perintah yang tampaknya berasal dari Kementerian Transportasi dan Komunikasi mengatakan kepada penyedia layanan ponsel untuk mematikan koneksi internet dari jam 01.00 pagi hingga 09.00 pagi pada hari Senin. Hal itu beredar luas di media sosial, begitu pula pemberitahuan yang dikatakan dari penyedia layanan Oredoo Myanmar yang mengatakan dengan detail yang sama. Beberapa pengguna seluler yang dihubungi melalui broadband Myanmar dan layanan seluler terputus sesuai jadwal.

Perlawanan atas kudeta militer di Myanmar memang terjadi di dunia maya, ketika sebuah kelompok yang menamakan dirinya “BrotherHood of Myanmar Hackers” merusak situs web Myanmar Digital News milik pemerintah. Mereka lantas mengganti konten di halaman beranda dengan kata-kata dan gambar yang menentang pengambilalihan kekuasaan oleh militer.

Duta besar dari Amerika Serikat dan Kanada serta 12 negara Eropa lainnya juga meminta pasukan keamanan Myanmar menahan diri dari kekerasan terhadap mereka yang “memprotes penggulingan pemerintah mereka yang sah”. Mereka mengutuk penangkapan para pemimpin politik dan aktivis serta campur tangan militer dalam komunikasi. “Kami mendukung rakyat Myanmar dalam pencarian mereka untuk demokrasi, kebebasan, perdamaian, dan kemakmuran,” kata mereka dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan Minggu malam (14/2).

Sementara itu, pengunjuk rasa di Yangon kembali terjadi di luar kedutaan besar China dan AS. Mereka menuduh Beijing menopang rezim militer dan memuji tindakan Washington yang memberikan sanksi militer Myanmar. Para pengunjuk rasa juga membawa poster berisi desakkan agar warga memboikot bisnis yang terkait dengan militer.

Demonstrasi di jalanan selama delapan hari diperkirakan telah menarik ratusan ribu orang ke jalan meskipun ada ancaman hukuman enam bulan penjara karena melanggar perintah yang melarang pertemuan lima orang atau lebih. Pemerintah juga memberlakukan jam malam mulai dari pukul 20.00 hingga 04.00 dinihari waktu Myanmar.

Sementara itu, Asosiasi Bantuan Independen untuk Tahanan Politik mengatakan, 400 orang telah ditahan sejak kudeta dilakukan militer, dengan 375 orang masih disel. Tahanan termasuk pemimpin politik, pejabat pemerintah, pegawai negeri, aktivis dan pemimpin mahasiswa.

Penulis: Talitha Azmi F.

RADAR MALANG – Mobil lapis baja terus bersliweran di kota Yangon Myanmar pasca kudeta yang dilakukan pihak militer. Penutupan internet juga meningkatkan ketegangan politik pada Minggu malam (14/5). Dilansir dari AP News Senin (15/2), perhatian publik Myanmar meningkat beberapa hari terakhir karena banyaknya tuduhan manipulasi militer terhadap penjahat yang dibebaskan dari penjara untuk melakukan kekerasan malam hari dan menimbulkan kepanikan selama demonstrasi berlangsung.

Militer merebut kekuasaan pada 1 Februari lalu dan menahan pemimpin terpilih negara itu, Aung San Suu Kyi, dan anggota pemerintahannya. Mereka juga mencegah anggota parlemen yang baru terpilih membuka sesi baru parlemen.

Perintah yang tampaknya berasal dari Kementerian Transportasi dan Komunikasi mengatakan kepada penyedia layanan ponsel untuk mematikan koneksi internet dari jam 01.00 pagi hingga 09.00 pagi pada hari Senin. Hal itu beredar luas di media sosial, begitu pula pemberitahuan yang dikatakan dari penyedia layanan Oredoo Myanmar yang mengatakan dengan detail yang sama. Beberapa pengguna seluler yang dihubungi melalui broadband Myanmar dan layanan seluler terputus sesuai jadwal.

Perlawanan atas kudeta militer di Myanmar memang terjadi di dunia maya, ketika sebuah kelompok yang menamakan dirinya “BrotherHood of Myanmar Hackers” merusak situs web Myanmar Digital News milik pemerintah. Mereka lantas mengganti konten di halaman beranda dengan kata-kata dan gambar yang menentang pengambilalihan kekuasaan oleh militer.

Duta besar dari Amerika Serikat dan Kanada serta 12 negara Eropa lainnya juga meminta pasukan keamanan Myanmar menahan diri dari kekerasan terhadap mereka yang “memprotes penggulingan pemerintah mereka yang sah”. Mereka mengutuk penangkapan para pemimpin politik dan aktivis serta campur tangan militer dalam komunikasi. “Kami mendukung rakyat Myanmar dalam pencarian mereka untuk demokrasi, kebebasan, perdamaian, dan kemakmuran,” kata mereka dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan Minggu malam (14/2).

Sementara itu, pengunjuk rasa di Yangon kembali terjadi di luar kedutaan besar China dan AS. Mereka menuduh Beijing menopang rezim militer dan memuji tindakan Washington yang memberikan sanksi militer Myanmar. Para pengunjuk rasa juga membawa poster berisi desakkan agar warga memboikot bisnis yang terkait dengan militer.

Demonstrasi di jalanan selama delapan hari diperkirakan telah menarik ratusan ribu orang ke jalan meskipun ada ancaman hukuman enam bulan penjara karena melanggar perintah yang melarang pertemuan lima orang atau lebih. Pemerintah juga memberlakukan jam malam mulai dari pukul 20.00 hingga 04.00 dinihari waktu Myanmar.

Sementara itu, Asosiasi Bantuan Independen untuk Tahanan Politik mengatakan, 400 orang telah ditahan sejak kudeta dilakukan militer, dengan 375 orang masih disel. Tahanan termasuk pemimpin politik, pejabat pemerintah, pegawai negeri, aktivis dan pemimpin mahasiswa.

Penulis: Talitha Azmi F.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru