alexametrics
23C
Malang
Wednesday, 3 March 2021

Rusia Tolak Perintah Pengadilan HAM Eropa untuk Bebaskan Navalny

RADAR MALANG – Pengadilan HAM (Hak Asasi Manusia) Eropa telah memerintahkan Rusia membebaskan pemimpin oposisi Alexei Navalny yang kini meringkuk di penjara. Namun keputusan tersebut tak digubris oleh otoritas Rusia.

Seperti dilansir AP News Kamis (18/2), Pengadilan HAM Eropa menuntut Rusia segera membebaskan Navalny. Mereka juga mengingatkan jika keputusan tersebut tak dilaksanakan, maka hal itu menjadi pelanggaran konvensi hak asasi manusia Eropa.

Kementerian Kehakiman Rusia memastikan negaranya menolak permintaan pengadilan yang disebut sebagai “tidak berdasar dan melanggar hukum”. Sementara Kementerian Luar Negeri Rusia mengecamnya sebagai bagian dari campur tangan Barat dalam urusan dalam negeri.

Navalny, 44, seorang penyelidik antikorupsi sekaligus kritikus Presiden Vladimir Putin ditangkap bulan lalu setelah pulang dari Jerman. Kepergiannya ke Jerman selama lima bulan untuk memulihkan diri dari keracunan zat saraf dan dia menyalahkan Kremlin. Namun, otoritas Rusia telah menolak tuduhan tersebut.

Awal bulan ini, pengadilan Moskow menghukum Navalny dua tahun delapan bulan penjara karena melanggar ketentuan masa percobaannya saat memulihkan diri di Jerman.

Sebelumnya, penangkapan dan pemenjaraan Navalny sempat memicu gelombang protes di seluruh Rusia. Pihak berwenang menanggapi dengan tindakan keras dan menahan sekitar 11.000 orang. Banyak di antara peserta aksi didenda atau dijatuhi hukuman penjara mulai dari tujuh hingga 15 hari.

Rusia telah menolak kritik Barat atas penangkapan Navalny dan tindakan keras terhadap demonstrasi sebagai campur tangan dalam urusan internalnya.

Penulis: Talitha Azmi F.

RADAR MALANG – Pengadilan HAM (Hak Asasi Manusia) Eropa telah memerintahkan Rusia membebaskan pemimpin oposisi Alexei Navalny yang kini meringkuk di penjara. Namun keputusan tersebut tak digubris oleh otoritas Rusia.

Seperti dilansir AP News Kamis (18/2), Pengadilan HAM Eropa menuntut Rusia segera membebaskan Navalny. Mereka juga mengingatkan jika keputusan tersebut tak dilaksanakan, maka hal itu menjadi pelanggaran konvensi hak asasi manusia Eropa.

Kementerian Kehakiman Rusia memastikan negaranya menolak permintaan pengadilan yang disebut sebagai “tidak berdasar dan melanggar hukum”. Sementara Kementerian Luar Negeri Rusia mengecamnya sebagai bagian dari campur tangan Barat dalam urusan dalam negeri.

Navalny, 44, seorang penyelidik antikorupsi sekaligus kritikus Presiden Vladimir Putin ditangkap bulan lalu setelah pulang dari Jerman. Kepergiannya ke Jerman selama lima bulan untuk memulihkan diri dari keracunan zat saraf dan dia menyalahkan Kremlin. Namun, otoritas Rusia telah menolak tuduhan tersebut.

Awal bulan ini, pengadilan Moskow menghukum Navalny dua tahun delapan bulan penjara karena melanggar ketentuan masa percobaannya saat memulihkan diri di Jerman.

Sebelumnya, penangkapan dan pemenjaraan Navalny sempat memicu gelombang protes di seluruh Rusia. Pihak berwenang menanggapi dengan tindakan keras dan menahan sekitar 11.000 orang. Banyak di antara peserta aksi didenda atau dijatuhi hukuman penjara mulai dari tujuh hingga 15 hari.

Rusia telah menolak kritik Barat atas penangkapan Navalny dan tindakan keras terhadap demonstrasi sebagai campur tangan dalam urusan internalnya.

Penulis: Talitha Azmi F.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru