alexametrics
25.1 C
Malang
Tuesday, 11 May 2021

Malaysia – Singapura Klaim Myanmar Sepakat Akhiri Krisis Kekerasan

RADAR MALANG – Para pemimpin Asia Tenggara telah menggelar pertemuan dengan kepala junta Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing. Tujuannya yakni untuk mengakhiri krisis kekerasan dan pembunuhan terhadap warga sipil serta menerima proposal untuk mengakhiri kekerasan di negaranya. Pertemuan tersebut digelar di Gedung Sekretariat ASEAN, Jakarta, kemarin (24/4).
“Sungguh, ini di luar dugaan kami,” kata Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin kepada wartawan usai pertemuan dengan para pemimpin Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) seperti di lansir Reuters Minggu (25/4).
“Kami berusaha untuk tidak terlalu menuduh pihaknya, karena kami tidak peduli siapa yang menyebabkannya,” tambah Muhyiddin.
Dia juga menegaskan bahwa yang terpenting adalah segera menghentikan kekerasan. ‘’Siapa saja yang menyebabkan permasalahan, tetap kami hanya menekankan bahwa kekerasan harus dihentikan,” tegasnya.
Para pemimpin ASEAN menginginkan komitmen dari Min Aung Hlaing untuk menahan pasukan keamanannya, yang menurut kelompok pemantau aktivis telah menewaskan 745 orang sejak gerakan pembangkangan sipil massal meletus untuk menantang kudeta pada 1 Februari lalu.
Mereka juga menginginkan pembebasan tahanan politik. Menurut pernyataan Pemimpin Brunei, Kepala Junta harus sepakat mengenai konsensus yang harus dicapai pada lima poin penting. Yakni mengakhiri kekerasan, dialog konstruktif di antara semua pihak, memfasilitasi dialog untuk utusan ASEAN, penerimaan bantuan dan kunjungan utusan ke Myanmar.
Namun konsensus tersebut tidak menyebutkan pembebasan untuk para tahanan politik.
“Dia tidak menentang peran kerja sama oleh pihak ASEAN atau pun kunjungan delegasi ASEAN, atau bantuan kemanusiaan.” imbuh Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.
Lee juga menambahkan bahwa Min Aung Hlang mendengarkan dan mengambil inti dari apa yang dianggap membantunya.
Tetapi Lee menambahkan bahwa prosesnya masih panjang. Namun harapannya, Kepala Junta bisa menghentikan kekerasan dan membebaskan tahanan politik. Hal ini adalah cara agar permasalahan cepat selesai.
Tidak jelas mengapa Lee merujuk pada pembebasan tahanan politik padahal ini tidak termasuk dalam lima poin konsensus.
Menanggapi masukan tersebut, belum ada komentar langsung dari Min Aung Hlaing.
Terpisah, Charles Santiago sebagai Ketua Kelompok Parlemen ASEAN untuk Hak Asasi Manusia menyerukan pembebasan tahanan politik Myanmar dan garis waktu untuk diakhirinya kekerasan.
“ASEAN sekarang harus bertindak cepat dan menetapkan batas waktu yang jelas bagi Min Aung Hlaing untuk mengakhiri kekerasan atau siap untuk meminta pertanggungjawabannya,” katanya.
Penulis : Fanda Yusnia
RADAR MALANG – Para pemimpin Asia Tenggara telah menggelar pertemuan dengan kepala junta Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing. Tujuannya yakni untuk mengakhiri krisis kekerasan dan pembunuhan terhadap warga sipil serta menerima proposal untuk mengakhiri kekerasan di negaranya. Pertemuan tersebut digelar di Gedung Sekretariat ASEAN, Jakarta, kemarin (24/4).
“Sungguh, ini di luar dugaan kami,” kata Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin kepada wartawan usai pertemuan dengan para pemimpin Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) seperti di lansir Reuters Minggu (25/4).
“Kami berusaha untuk tidak terlalu menuduh pihaknya, karena kami tidak peduli siapa yang menyebabkannya,” tambah Muhyiddin.
Dia juga menegaskan bahwa yang terpenting adalah segera menghentikan kekerasan. ‘’Siapa saja yang menyebabkan permasalahan, tetap kami hanya menekankan bahwa kekerasan harus dihentikan,” tegasnya.
Para pemimpin ASEAN menginginkan komitmen dari Min Aung Hlaing untuk menahan pasukan keamanannya, yang menurut kelompok pemantau aktivis telah menewaskan 745 orang sejak gerakan pembangkangan sipil massal meletus untuk menantang kudeta pada 1 Februari lalu.
Mereka juga menginginkan pembebasan tahanan politik. Menurut pernyataan Pemimpin Brunei, Kepala Junta harus sepakat mengenai konsensus yang harus dicapai pada lima poin penting. Yakni mengakhiri kekerasan, dialog konstruktif di antara semua pihak, memfasilitasi dialog untuk utusan ASEAN, penerimaan bantuan dan kunjungan utusan ke Myanmar.
Namun konsensus tersebut tidak menyebutkan pembebasan untuk para tahanan politik.
“Dia tidak menentang peran kerja sama oleh pihak ASEAN atau pun kunjungan delegasi ASEAN, atau bantuan kemanusiaan.” imbuh Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.
Lee juga menambahkan bahwa Min Aung Hlang mendengarkan dan mengambil inti dari apa yang dianggap membantunya.
Tetapi Lee menambahkan bahwa prosesnya masih panjang. Namun harapannya, Kepala Junta bisa menghentikan kekerasan dan membebaskan tahanan politik. Hal ini adalah cara agar permasalahan cepat selesai.
Tidak jelas mengapa Lee merujuk pada pembebasan tahanan politik padahal ini tidak termasuk dalam lima poin konsensus.
Menanggapi masukan tersebut, belum ada komentar langsung dari Min Aung Hlaing.
Terpisah, Charles Santiago sebagai Ketua Kelompok Parlemen ASEAN untuk Hak Asasi Manusia menyerukan pembebasan tahanan politik Myanmar dan garis waktu untuk diakhirinya kekerasan.
“ASEAN sekarang harus bertindak cepat dan menetapkan batas waktu yang jelas bagi Min Aung Hlaing untuk mengakhiri kekerasan atau siap untuk meminta pertanggungjawabannya,” katanya.
Penulis : Fanda Yusnia

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru